
Hem...
"Dia terlalu percaya diri, tidak banyak penjaga yang berjaga di sekitar kediamannya." Zhou Fan mengamati dari jauh, beberapa saat dia bertahan, tapi tetap tidak ada penjaga yang berjaga.
Yang terlihat hanya beberapa, itupun bukan untuk berjaga, melainkan memang berlalu lalang keluar masuk kediaman.
Zhou Fan masuk dengan mudah, tak ada suatu yang mencurigakan membuatnya semakin yakin untuk menelusuri kediaman Tuan Kota.
Di halaman belakang, Zhou Fan menahan langkah kakinya setelah menemukan pria tua yang sangat jelas siapa dia. Tidak lain dan tidak bukan merupakan sosok yang membuatnya terluka parah terakhir kali.
"Bing Caojie, kau semakin tua semakin jaya saja. Bukankah kau beberapa bulan lalu sudah menerobos, bagaimana bisa ini terjadi lagi?" Pria tua botak terkekeh sambil mengelus jenggot putihnya.
"Pangeran kedelapan sungguh bermurah hati, dia memberiku dua pill kultivasi tingkat kesembilan. Membantuku menerobos tingkatan sebelumnya." Bing Caojie tersenyum arogan, memaparkan kebaikan pangeran kedelapan kepadanya.
Secara tidak langsung pria tua itu menyombongkan betapa percayanya pangeran kedelapan kepadanya, tidak seperti Cing Qu - pria tua botak yang bahkan tidak mendapatkan apapun.
Cing Qu tidak nyaman dengan nada bicara Bing Caojie yang seperti meremehkannya, tapi karena merasa tak bisa mengalahkan Bing Caojie, dia hanya bisa memendam kegeramannya.
Mungkin satu dua bulan lalu dia bisa mengalahkan Bing Caojie yang masih memiliki kekuatan setingkat petarung senior bintang tiga, tapi sekarang dia harus mengakui Bing Caojie lebih unggul darinya setelah menerobos ke tingkat petarung senior bintang empat.
Wosh...
Tiba tiba kecepatan angin di sekitar mereka meningkat, spontan Bing Caojie mengalihkan pandangan. Saat melihat sebuah siluet tombak berkepala naga melesat ke tempat mereka, tak tunggu waktu lama dia melompat.
Blar!
Meja tempat bersantai mereka hancur berkeping-keping, sementara dua pria tua berhasil menghindar walau harus merelakan pakaian mereka terkoyak lesatan angin berkecepatan tinggi.
"Bajingan mana yang berani menyerang kediaman Tuan Kota?!" Bing Caojie berteriak sambil memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat.
Namun tidak ada yang dapat dia temukan.
Beberapa saat kemudian, sesosok berjubah hitam mengenakan tudung yang juga hitam mendarat di depan dua pria tua.
Bing Caojie langsung memasang kuda kuda, belati yang menggantung di pinggang sudah siap dia keluarkan.
Cing Qu tak mau ketinggalan, dengan pedang berwarna merah gelap dia bersiap melawan sosok berjubah.
"Pak tua, apa kau mengingatku?" Zhou Fan yang masih mengenakan jubah serta tudung membuka penyamarannya.
Wajah Bing Caojie sedikit jelek, dia berusaha mengingat siapa pemuda di hadapannya.
Cing Qu yang tak tahu permasalahan hanya memandang bingung kedua sosok di sekitarnya.
"Bing Caojie, apakah kau mengenalnya?" Cing Qu terlalu penasaran untuk hanya diam menunggu di tempatnya.
Zhou Fan mengeluarkan tombak, membuat dua mata Bing Caojie melebar.
"Itu kau!"
Wajah Bing Caojie menampakkan keterkejutan, pemuda ini lah yang sempat lepas dari tangannya, tak menyangka jika takdir mempertemukan mereka.
"Karena kau telah datang, jangan harap untuk pergi. Aku tak akan melepaskanmu kali ini." Bing Caojie mengeratkan genggaman belati di tangan kanannya.
Zhou Fan tersenyum mencibir. Jika itu dulu mungkin dia akan langsung bersiap, tapi sekarang semua telah berubah. Di mata seorang petarung suci, petarung senior seperti dua pria tua ini sama sekali bukan ancaman.
"Bing Caojie, sebenarnya siapa pemuda itu?" Cing Qu masih penasaran, pertanyaannya sejak tadi diabaikan.
"Dia adalah pemuda yang lepas dari tanganku satu tahun yang lalu. Bukankah kau tahu saat itu aku kembali dengan luka yang parah, itu terjadi karena seorang petarung hebat membantunya, memaksaku lari bak seekor tikus." Bing Caojie menjelaskan dengan perasaan kesal.
Cing Qu tertawa lirih, membuat Bing Caojie semakin geram. "Itu tidak akan terjadi lagi, kali ini aku akan membunuhnya."
Zhou Fan yang mendengar percakapan dua pria tua mendengus dan berkata. "Jika kau memiliki kemampuan, maka lakukan, jangan banyak bicara omong kosong."
Tcih!
Zhou Fan menarik sedikit kaki kanan, menempatkan tombak menjulur ke depan.
Ketika belati hendak menebas, Zhou Fan mendorong tombak yang sudah terselimuti tenaga dalam.
Blar!
Belati serta tubuh Bing Caojie terlempar, darah keluar dari sudut bibirnya. Wajah pria tua itu terlihat tidak puas, bagaimana bisa seorang yang telah sekarat dibuatnya sekarang malah bisa memaksanya dalam keadaaan seperti ini.
"Aku akan membunuhmu!" Bing Caojie menggeram marah, melesat menyerang dengan belati yang sama.
Namun belum sempat belati mengenai tubuh Zhou Fan, Bing Caojie terpental seolah menghantam sebuah tembok besar.
Cing Qu yang semula hanya menyaksikan karena ucapan Bing Caojie mulai menyerang begitu melihat hasil tidak sesuai pemikiran awal.
Pemuda yang berhadapan dengan mereka bukanlah lawan yang mudah, dia menjadi ragu terhadap cerita yang disampaikan oleh Bing Caojie.
Bagaimana bisa seorang yang hampir mati sekarang telah kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Lebih masuk akal jika Bing Caojie telah kalah dari pemuda itu dan melarikan diri.
"Pak tua kau jangan melamun."
Bang!
Belum sempat Cing Qu bereaksi, sebuah tendangan mendarat tepat di perutnya. Kekuatan yang besar melempar tubuh tuanya hingga menerjang dinding belakang kediaman mereka.
Hough... Hough...
Cing Qu memuntahkan darah segar dari mulut, wajahnya terlihat pucat dengan ekspresi sayu. Zhou Fan tak membiarkan begitu saja, dia berkelebat memburu tubuh yang sudah tanpa tenaga.
Crash!
Tanpa gerakan kedua, tombak sudah memisahkan kepala dari tempatnya.
Untuk sesaat Zhou Fan hanya berdiri memandang tubuh tanpa kepala yang terus mengeluarkan cairan merah kental.
"Kecerobohan adalah pintu kematian."
Zhou Fan kemudian berpaling, mendekati Bing Caojie yang masih terbaring di atas kepingan meja.
"Kau tak bisa membunuhku, aku adalah orang kepercayaan pangeran kedelapan. Jika kau membunuhku, seluruh keluargamu akan binasa menyusul kepergianku." Bing Caojie melemparkan kata kata itu tanpa berpikir, karena yang ada dalam kepalanya hanya bagaimana cara dia bertahan hidup.
Namun dia tidak akan menyangka, jika perkataan itu malah semakin mempercepat kematiannya.
Zhou Fan mengerutkan kening dengan sorot mata tajam. Sudah lama sejak ada yang mengancam dengan keselamatan keluarganya, terakhir kali yang mengancamnya sudah binasa di bawah kakinya.
Zhou Fan mengangkat tombak, membuat Bing Caojie merasakan seluruh kulitnya di siram es yang sangat dingin.
Merinding! Itu yang dia rasakan, bahkan tengkuk kepalanya sudah basah akan keringat yang tak henti hentinya keluar.
Tanpa sadar pria tua itu mundur, kakinya terus menendang demi menjauhkan diri dari Zhou Fan yang terlihat seperti seorang iblis pembantai.
Jlebs!
"Arg -- Houk... Huk... " Mulut seolah tersekat, tak ada suara yang dapat pria tua itu sampaikan selain batuk darah yang senantiasa keluar.
Tombak menembus lambung Bing Caojie, darah merembes deras membasahi tempat pria tua itu berbaring.
Crash...
Zhou Fan menarik tombak, pandangan masih menatap dingin tubuh pria tua di hadapannya.
"Berniat menyentuh keluargaku? Mati!"