Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 153 : Setelah Maju Jangan Mundur


Bulan demi bulan berlalu, tak terasa sudah enam bulan sejak Zhou Fan mulai ber kultivasi. Namun di dalam ruangan Zhou Fan masih tetap bergeming dalam posisinya.


Di luar ruangan empat orang, seperti biasa menunggu di luar. Setiap pagi mereka akan datang sekedar memeriksa apakah Zhou Fan telah keluar. Namun melakukannya selama tiga bulan terus menerus juga muncul perasaan bosan.


"Besok aku tidak akan menunggu di sini, ini sudah enam bulan berlalu tapi dia tidak kunjung keluar." Yin Cun berbalik hendak pergi, tapi suara yang begitu ia kenal terdengar dari belakang.


"Tidak ada yang menyuruhmu untuk menunggu di depan ruangan, kenapa kau begitu cerewet?"


Yin Cun sontak membalikkan tubuhnya, melihat Zhou Fan telah berdiri dengan pakaian serba hitam matanya langsung berpaling menghindar. "Ah... Kau akhirnya keluar, jika tidak kau tak akan tahu apa yang telah terjadi beberapa bulan ini."


Kening Zhou Fan mengernyit, kemudian bertanya kepada Miao Ling. "Apa yang terjadi?"


Miao Ling sejenak hanya diam, dia kemudian mengeluarkan sebuah lembaran. Di sana terdapat sketsa wajahnya, yang sontak membuatnya murka. "Sial, beraninya keluarga Chen!"


"Tuan muda, wajahmu telah tersebar ke seluruh Kota Dianlan. Kini sebagian besar orang mencari keberadaanmu, mengincar imbalan dari keluarga Chen."


Mendengar perkataan Zhi Long, wajah Zhou Fan semakin kelam. "Mungkin sebelumnya aku khawatir dengan keberadaan leluhur keluarga Chen. Tapi sekarang berbeda ...." Senyum wajahnya nampak menyeramkan, menyiratkan sebuah siasat mengerikan.


Yin Cun memandang Zhou Fan dengan heran, Ia mencoba menelisik kekuatan saudaranya ini meski telah mengetahui tak akan ada apapun yang dapat ia lihat.


Begitupun dengan Ciu San, ia tak bisa menerka kekuatan tuan mudanya, yang jelas ia tahu bahwa Zhou Fan bertambah kuat.


"Kalian tetaplah di sini, aku akan menyelesaikan suatu urusan." Zhou Fan mengeluarkan jubah, mengajak Zhou Jim keluar.


"Kemana dia akan pergi?" Miao Ling bertanya kepada Yin Cun.


Yin Cun tak langsung menjawab, mengeluarkan senyum yang sedikit aneh. "Hanya ada satu kemungkinan, dia akan pergi ke kediaman keluarga Chen."


Mata Miao Ling terbelakak. "Kenapa kau tidak menghentikannya, juga mengapa kalian hanya diam saja?" Ia bertanya kepada Ciu San serta Zhi Long, tapi keduanya hajya diam.


"Tuan muda telah memutuskan, ia tidak mungkin bertindak tanpa berpikir." Zhi Long begitu tenang, seolah tak ada yang terjadi.


Begitupun dengan Ciu San serta Yin Cun. "Ling'er, aku sangat mengenalnya. Dia bertindak karena yakin dapat menyelesaikannya."


Miao Ling tetap tak bisa tenang, tapi Yin Cun memapahnya kembali ke ruangan. "Dari pada memikirkan dia yang tak jelas, lebih baik kita ... ehem... ehem ...." Dua tangan saling menempel, beberapa kali memberikan tanda.


Miao Ling mengerutkan kening, menepis tangan Yin Cun. "Apa yang kau maksud, jangan macam-macam!"


Setelah itu Miao Ling masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Yin Cun yang nampak termenung.


"Tuan muda Yin Cun, wanita memang seperti itu. Tidak berarti iya. Iya berarti tidak. Ini adalah kesempatan, jangan kau lewatkan." Ciu San mendekati Yin Cun, memberikan sebuah saran yang sangat mengagumkan.


Yin Cun langsung menengadahkan kepala, "Kau yakin?"


"Tentu saja, ... Aku telah berpengalaman dalam masalah seperti ini." Ciu San mendorong Yin Cun sampai di depan ruangan Miao Ling. "Ingat, jangan sia-siakan."


Yin Cun menegakkan tubuhnya, merapikan pakaian sambil menata rambut hitam panjang miliknya. "Maafkan aku Ling'er, yang tak mengerti tanda darimu. Tapi sekarang aku telah mengerti, tak akan mengecewakanmu."


Dengan senyum mengembang ia masuk ke dalam ruangan Miao Ling, sementara Ciu San di luar menahan tawa yang hampir tak bisa ia tahan.


"Kau berpengalaman, ... Cuih! Bahkan tak pernah ku melihat satupun wanita mendekatimu." Zhi Long berjalan masuk ke dalam ruangan. Cibiran nya begitu tajam dan menyakitkan.


Ciu San membalikkan badan, tangannya sudah mengepal hendak memberi pelajaran terhadap adik kembarnya. Namun terlambat, Zhi Long sudah tak berasa di tempatnya.


Heh...


Dia hanya bisa menarik nafas panjang dan perlahan membuangnya.


...


"Tunggu," Pria itu merentangkan tangannya, tangan yang lain mengeluarkan sebuah lembaran.


Sesaat dia menelisik lembaran di tangannya, kemudian beralih ke pria muda di hadapannya. "Itu kau, kau orangnya!"


Suara yang tak pelan sontak membuat pengunjung satu penginapan memandang ke tempat yang sama.


"Itu dia!"


"Tidak salah lagi, itu dia, yang dicari kepala keluarga Chen."


Mereka spontan mendekat, senjata keluar dari cincin penyimpanan. Namun saat akan menyerang pria paruh baya berseru, "Tunggu, dia adalah bagianku, aku yang menemukannya."


Satu pengunjung lain melipat tangan di pinggang. "Apa yang kau katakan, dia adalah milikku. Imbalan itu juga milikku."


Perdebatan muncul di antara pengunjung penginapan, mereka seolah sangat yakin dapat menangkap Zhou Fan. Padahal kekuatan mereka paling tinggi hanya petarung senior bintang delapan. Sungguh pungguk merindukan bulan.


"Berhenti! Begini saja, siapa yang mampu mengalahkannya dia lah yang akan mendapatkan imbalan." Pria paruh baya tentu tak bisa memaksakan keinginannya dengan banyaknya pengunjung yang berkumpul.


"Baiklah, seperti yang kau katakan." Satu-persatu setuju dengan pria paruh baya.


"Sudah selesai?" tanya Zhou Fan dengan santai, seolah keberadaan puluhan orang itu tidak ada apa-apanya di matanya. Namun memang itulah fakta yang sebenarnya, mereka hanyalah anjing yang tak tahu dalamnya samudra.


Puluhan orang menggeram marah, "Bajingan, jangan sombong kau!" Setidaknya ada lima puluh orang dan mereka menyerang dengan senjata yang bermacam-macam.


Zhou Fan tak mengeluarkan senjata, dengan hanya tangan kosong mulai menghantam tubuh dan wajah mereka.


Satu pukulan.


Dua pukulan.


Tiga pukulan.


Dalam waktu singkat jumlah mereka hanya tersisa setengahnya. Hal ini sontak membuat kepercayaan diri mereka langsung anjlok seanjlok anjloknya.


Melihat kaki mereka mulai ragu untuk melangkah, Zhou Fan berhenti dan tak lagi menyerang. Akan tetapi sikap diam itu jauh lebih mengerikan dari pada saat melakukan serangan.


Pria paruh baya yang pertama kali mengenali Zhou Fan menyimpan pedangnya. "Kau beruntung, anggap saja kami melepaskanmu." Meski berkata seperti itu, tangannya gemetar bahkan kakinya tak kuasa untuk berjalan.


Sudut bibir Zhou Fan terangkat. "Ingin mundur? Terlambat!"


Zhou Fam melesat menghantam dua puluhan orang yang tersisa.


Bang!


Bang!


Bang!


Tubuh mereka terhempas dan mati seketika. Walau hanya dengan tinju biasa, pukulan seorang petarung suci bintang empat bukan suatu yang bisa ditahan oleh petarung senior.


Setelah memastikan keadaan puluhan orang yang menyerangnya, Zhou Fan berjalan keluar tanpa peduli puluhan pasang mata memandang ketakutan dari sudut ruangan.


"Beruntung aku tak ikut bergabung bersama mereka." Seorang wanita paruh baya menghela nafas sambil mengelus dadanya.


"Kau benar, dia terlalu mengerikan." Beberapa pengunjung yang memilih untuk diam seolah mendapatkan sebuah berkah, karena keputusan tersebut mampu mempertahankan nyawa mereka.


Sebenarnya mereka bukan sengaja untuk tidak ikut campur, tapi karena merasa tak akan mendapatkan apapun dengan banyaknya pesaing yang juga ikut turun tangan. Namun terlepas dari alasan mereka, tetap mereka adalah yang paling beruntung.