Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 176 : Desa Tuak


"Kalian sudah berada di sini, jangan berpikir untuk pergi sebelum menyerahkan cincin penyimpanan." Ketua kelompok bandit gurun memainkan telunjuknya, seolah ingin Zhou Fan dan juga Dua Kapak Kembar mendekat.


Mendengar perkataan ketua kelompok bandit gurun, Zhou Fan menyipitkan mata. Tidakkah seharusnya curiga dengan dalang dibalik kematian anak buahnya, mengapa malah berniat melakukan perampokan. Sepertinya ada yang salah dengan kepala ketua kelompok bandit gurun.


"Apa yang kalian tunggu, cepat kemari!" Dengan lagaknya yang seperti penguasa dia membusungkan dada, mengeluarkan ancaman kepada Zhou Fan menodongkan pedang ke depan.


Namun Zhou Fan tetap bergeming di tempatnya, membuat ketua kelompok bandit geram. Dia seolah melupakan konflik dengan kelompok taring putih, berjalan tegak dengan sorot mata tajam menuju ke tempat Zhou Fan.


Ketika jarak hanya beberapa langkah, dua mata hitam itu terpaku mendapati ceruk yang lumayan dalam di sana. Dia sangat ingat jika tak ada ceruk semacam ini di tengah padang pasir sagara.


Beberapa saat hanya diam, sorot mata ketua kelompok bandit berubah semakin tajam, nampak jelas menunjukkan kemarahan.


Zhou Fan mengikuti kemana ketua kelompok bandit memandang, ketika tatapannya bertemu dengan tubuh tanpa kepala di dasar ceruk, ia pun tersenyum kecut. Benar saja, masalah ini tidak akan berakhir dengan mudah.


Ketua kelompok bandit mengepalkan tangan, wajah memerah marah. "Jadi, itu kalian. Yang membunuh orang-orang ku, juga membunuh saudaraku!"


Mendengar ucapan ketua kelompok bandit, pasukan yang terdiri dari tiga puluhan orang mendekat. Mengepung dari berbagai arah.


"Jangan berpikir untuk pergi, kalian akan mati menemani saudara serta orang-orangku. Serang mereka!" Puluhan orang menyerang atas perintah ketua kelompok bandit gurun.


Zhou Fan tak perlu mengeluarkan pedang, menghadapi mereka dengan tangan kosong.


Kali ini Ciu San dan juga Zhi Long ikut bertarung, begitupun dengan Zhou Jim yang menerkam setiap orang yang mendekat ke arahnya.


Kelompok taring putih diam di tempat mereka, memandang dari kejauhan. "Ketua, apakah kita hanya diam tanpa melakukan apapun?"


Pria tua berpakaian putih termenung, dia terkejut mendapati salah satu anak buahnya bertanya.


"Kita diam saja, nampak jika ketiga pria ini tidak biasa. Juga serigala yang ada bersama mereka. Setidaknya merupakan beast tingkat ketujuh, buka tidak mungkin tingkat kedelapan." Ketua kelompok taring putih tak mau menjerumuskan kelompoknya ke dalam liang kehancuran. Memilih diam dan hanya perlu menantikan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


Zhou Fan sama sekali tak menahan kekuatannya, satu pukulan mampu menumbangkan satu sampai dua orang. Membuat ketua kelompok bandit mengerutkan kening murka.


"Bangsat, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Dia merupakan petarung senior bintang sembilan, tak percaya dapat kalah dari mereka yang hanya bertiga.


Namun pikirannya itu terlalu berlebihan, jangankan bertiga, menghadapi Zhou Fan yang tak mengeluarkan pedang pun tak akan mampu mendaratkan satu sayatan.


Bertukar beberapa serangan ketua bandit mulai mengatur nafas yang nampak memburu, meski telah sangat berusaha ia sama sekali tak bisa menyentuh pakaian Zhou Fan. Akan tetapi demi membalaskan dendam sang saudara ia tak menyerah, kembali menyerang dengan sekuat tenaga.


Masih dengan tangan kosong Zhou Fan menahan tangan ketua bandit, membuat pedang hanya berhenti di atas bahu sebalah kanan.


Ketua bandit berusaha menarik tangannya, tapi cekalan Zhou Fan terlaku kuat, sama sekali tak bisa lepas.


"Berani mencari masalah, hanya ada kematian untukmu." Zhou Fan mendorong telapak tangan kiri, menghujam perut pria tua.


Blam!


Tubuh ketua bandit terhempas, darah merembes di antara bibirnya. Pukulan yang sangat kuat membuat isi dalam lambung keluar, dia mati setelah terseret puluhan langkah.


Para anak buah bandit gurun yang melihat sang ketua tewas langsung mundur hendak melarikan diri. Namun sebelum mereka sempat beranjak, Dua Kapak Kembar serta Zhou Jim memburu bak pemamngsa yang mengincar mangsa.


Dalam waktu singkat mereka semua tiada, sementara kelompok taring putih melihat sambil bergidik ngeri.


Zhou Fan mendekati mayat ketua kelompok bandit dan tanpa sengaja melihat cincin yang melingkar di jari, sangat sayang bila dilewatkan.


Hem...


"Lumayan," ucap Zhou Fan setelah memeriksa isi di dalam cincin penyimpanan. Tidak hanya y


Uang kertas, tapi juga beberapa pill meski terbatas pill tingkat tujuh.


Matanya beralih kepada kelompok taring putih yang masih bertahan di tempatnya, perlahan kaki melangkah mendekati mereka.


Belum juga Zhou Fan mendekat, mereka dengan cepat pergi, lari terbirit-birit bahkan tak berani menoleh ke belakang.


Kening Zhou Fan mengernyit heran, apakah sebegitu menakutkan dirinya, dia juga tidak akan mencari masalah bila tidak ada yang menyinggung keluarga, teman, ataupun dirinya.


Zhou Fan menghela nafas, berjalan mendekati Ciu San dan juga Zhi Long. "Kita menuju Kota Huang."


Ciu San yang sibuk memungut cincin penyimpanan bangkit dengan segera, "Tuan muda, sebelum itu bisakah kita mampir ke desa tuak?" tanya pria gempal itu dengan penuh harap.


"Desa Tuak?" Mendengar nama desa yang cukup asing, Zhou Fan mengerutkan kening. Sungguh ia baru pertama kali mendengar nama desa itu.


Zhi Long yang mengerti kebingungan Zhou Fan pun angkat bicara. "Desa Tuak adalah surga bagi para pelancong, terdapat arak berkualitas yang tak lagi dapat diragukan kenikmatannya. Nama desa ini sebenarnya adalah Tjong, di sana merupakan produsen utama arak untuk wilayah Kekaisaran Han. Semua jenis arak ada di sana dan yang paling terkenal adalah arak surgawi."


Zhou Fan membuka peta di tangannya, nampak desa kecil yang berada di perbatasan Kota Huang bernama Desa Tjong. Pantas saja ia tak pernah mendengar nama Desa Tuak, ternyata memang tidak tertera pada peta.


"Baiklah, kita akan mampir ke sana." Zhou Fan merasa tertarik dengan cerita Zhi Long. Desa Tuak ataupun arak surgawi, setidaknya mereka bisa mampir sebelum menuju Kota Huang.


...


Siang berganti malam dan mereka telah menginjakkan kaki di Desa Tjong, atau yang lebih dikenal dengan Desa Tuak. Baru melintasi pintu masuk desa, dapat tercium aroma arak yang kental, memang pantas sebagai produsen arak terbesar.


Di setiap sisi jalan, begitu banyak berdiri kedai-kedai yang menjajakan arak. Sama sama menjual arak tapi mereka tak saling siku untuk memperebutkan pelanggan. Karena memang mereka tak perlu melakukan hal semacam itu, tanpa melakukan kecurangan kedai mereka tak pernah sepi, selalu banyak pengunjung.


Zhou Fan masuk ke dalam salah satu kedai, merupakan kedai paling besar dan ramai. Di atas pintu terdapat tulisan 'arak surgawi', menarik perhatian Zhou Fan yang dari awal sudah mengincar arak tersebut.


Namun setelah masuk tak nampak satupun meja yang kosong, membuat Zhou Fan berjalan ke tempat pemesanan.


Seorang pelayan wanita muda menyambut dengan ramah, senyum manis ia perlihatkan demi mengemban nama baik tempatnya bekerja. "Tuan, bisakah pelayan ini mencatat apa yang engkau pesan?"


Zhou Fan melirik ke atas, mengetuk meja pemesanan dengan jari telunjuk. Di saat akan menjawab, seorang pria menyerobot dan menarik pelayan wanita.


"Apakah kau keberatan?" ucap pria muda berpakaian mewah itu kepada Zhou Fan.


Zhou Fan hanya diam, tapi pandangan tak lepas dari tangan pria yang mencengkeram bahu kanannya. "Singkirkan tanganmu." Suaranya masih biasa, mencoba menahan untuk tidak lepas kendali.


Namun ketika ucapan tak dihiraukan, sorot mata menjadi tajam. Sekuat tenaga Zhou Fan menahan, membalikkan badan karena memang melihat satu tempat duduk yang kosong ditinggalkan pelanggan.


Pria berpakaian mewah ini masih mempertahankan posisi tangannya, tak melepaskan bahkan setelah Zhou Fan mengambil satu langkah mundur. Memang sengaja cari masalah.