
Pertarungan masih berlangsung, jumlah beast yang tersisa perlahan tapi pasti terus berkurang. Tak terhitung lagi jumlah beast yang tewas, tapi juga tak sedikit korban yang meninggal.
Sian Lou dan Xue Bing Yu masih berusaha menahan Shizi, beast singa bersayap yang telah berevolusi menjadi dewa beast itu benar-benar tangguh. Meski hanya seorang diri ia mampu membuat dua petarung dewa bintang delapan kesulitan menghadapinya. Bahkan nafas keduanya sudah memburu dengan beberapa luka bersemayam di tubuh mereka.
"Sudah cukup! Ini saat bagi kalian untuk mati." Shizi menyatukan tangan, menciptakan sebuah batu besar yang terbuat dari es. Ukurannya mungkin setara dengan satu kediaman yang mempunyai luas satu hektar.
Air muka Sian Lou berubah, begitupun dengan Xue Bing Yu yang menatap nanar bongkahan es di atas kepalanya. Permukaan diselimuti aliran petir, yang semakin membuat batu besar itu sangat mengerikan.
Di saat Sian Lou dan Xue Bing Yu sudah bersiap, mendadak bongkahan es itu hilang, lenyap seolah tak pernah ada. Dewa beast juga menghilang, tak lagi terdeteksi keberadaannya.
"Di mana dia?" Sian Lou masih siaga, berjaga jika ini adalah siasat dewa beast untuk mengalihkan perhatiannya. Namun sampai beberapa lama tak ada tanda-tanda kembalinya dewa beast, membuat dua alis saling bertautan.
"Apakah dia pergi?" Xue Bing Yu sangat terheran. Dalam keadaan di atas angin, dewa beast pergi begitu saja. Seolah menyia-nyiakan kemenangan yang seharusnya ada di depan mata.
"Guru, kemana perginya pria itu?"
"Entahlah, aku juga tak mengetahuinya. Yang terpenting sekarang adalah membereskan beast yang tersisa." Tongkat mengayun, siluet pisau bergerak menebas beberapa beast tingkat delapan.
Xue Bing Yu tak mau kalah, dengan pedangnya ia menghabisi puluhan beast dalam satu serangan. Hanya butuh beberapa waktu, lebih dari seratus besst tingkat delapan mati di tangan meteka berdua.
Pertarungan selesai, kemenangan tentu menjadi milik pasukan daratan dewa. Sian Hui mendekat ke tempat Sian Lou, beberapa tetua juga mengikutinya.
Di antara mereka ada Sian Ying, dia yang masih memiliki hubungan darah dengan Sian Lou cukup ragu dalam melangkah. Kenangan masa lalu yang kurang menyenangkan menjadi inti permasalahan.
Namun Sian Lou nampak tak membahas masalah di antara mereka, lebih sibuk untuk mengatur beberapa orang membereskan kekacauan yang terjadi.
"Tetua Hui, kau bawa orang untuk memakamkan saudara kita. Mereka adalah pahlawan bagi Klan Sian ataupun daratan dewa."
Mendengar kata Sian Lou, Sian Hui langsung melaksanakan tanpa banyak berkata. Dia membawa beberapa orang untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan.
"Patriark Sian, karena masalah di sini telah usai, aku akan kembali." Xue Bing Yu memegang luka di lengannya, bersama dengan beberapa orangnya kembali ke sekte menara es.
Tersisa dua orang, Sian Lou dan juga Sian Ying. Keadaan cukup canggung karena tak ada dari mereka yang memulai pembicaraan.
"Kenapa kau tak melakukannya?" Dengan sedikit menurunkan egonya, Sian Ying mengambil kesempatan untuk berkata.
Sian Lou menghela nafas, bagaimanapun mereka adalah saudara. Ia juga tak pernah menaruh dendam terhadap Sian Ying, terlepas dari niat buruk terhadapnya.
"Aku tak tahu apa maksudmu," Sian Lou sebenarnya tahu, tapi ia bersikap seolah tak mengerti agar Sian Ying yang mengungkapkannya terlebih dahulu. Namun harga diri Sian Ying terlalu tinggi untuk menyampaikan niatnya.
"Jika kau tak mengetahuinya, maka lupakan saja." Pria tua itu pergi begitu saja, tak lagi menghiraukan keberadaan Sian Lou.
Sian Lou menyipitkan mata, sedetik kemudian berganti senyum dan kepala menggeleng tak berdaya. Dia tahu saudaranya ini tak akan mau merendahkan dirinya, mau berkata kepadanya dengan nada ramah itu sudah menjadi suatu kemajuan yang luar biasa.
Dua pria tua itu seperti dua pemuda yang tengah berada dalam suatu masalah, membuat Zhou Fan yang menyaksikan dari kejauhan terkelitik geli melihat interaksi sang guru dengan saudara sedarahnya.
...
Di sisi lain daratan dewa, Shizi yang baru saja pergi dari wilayah Klan Sian Barat pun duduk bersila sambil meletakkan tangan di atas lututnya.
"Sialan! Datang di saat yang tidak tepat!" Shizi menggeram marah, tak mengira jika proses evolusi yang ia pikir sudah selesai ternyata membutuhkan beberapa penyesuaian yang harus dilakukan.
Rasa sakit perlahan semakin nyata, teriakan terdengar menderita. Dia dari manusia berubah menjadi singa, kembali ke bentuk manusia dan sekali lagi menjadi singa. Hal ini terus berulang sampai sinar di kening menghilang.
Shizi membuka mata, merasakan kekuatan dalam tubuhnya lebih bisa dikendalikan. Sorot mata nampak tajam, menyiratkan sebuah dendam yang mendalam.
Pertarungan sudah berada dalam kendalinya, kemenangan sudah di depan mata. Namun, ia harus mundur karena keadaan memaksanya.
Meski sangat menyayangkan hal itu, juga bukan hal baik jika ia terlambat pergi dari pertarungan. Mungkin nyawanya tak akan dapat dipertahankan, karena tak bisa fokus pada pertarungan.
Hem...
"Untuk sekarang kalian dapat senang, aku akan datang kembali dan itu adalah akhir dari kalian--para manusia!"
...
Kembali ke Kota Lentera.
"Tak ada, tuan muda." Ciu San menggelengkan kepala dengen menyesal.
Zhou Fan nampak kecewa, dari ribuan mayat beast tak satupun adalah beast elemen es. Apakah begitu sulit untuk mendapatkan kristal beast yang kesembilan.
Karena tak menemukan apa yang dia cari, Zhou Fan memutuskan untuk kembali ke Kota Cahaya. Selain itu kelompok Sian Yu dan Sian Hui pun juga kembali kerena Kota Lentera bukan wilayah mereka.
Satu hari berlalu, keadaan kediaman Klan Sian Timur nampak ramai karena kedatangan Sian Ying dan beberapa orangnya.
Banyak yang bertanya tentang maksud kedatangan penguasa barat itu, tak sedikit pula yang berpendapat jika Sian Ying akan membuat kegaduhan seperti yang dia lakukan selama ini. Namun ketika sampai di depan gerbang, dia berkata begitu ramah, tak ada nada tinggi seolah itu bukan dirinya.
Dua penjaga saling pandang, sangat heran dengan perubahan Sian Ying yang menurut mereka sangat tiba-tiba.
"Apakah kalian hanya akan diam dan tak membiarkan kami masuk?!" Sian Xi tak tahan untuk berbicara, tapi perkataannya yang keras membuat Sian Ying memberikan tatapan tajam.
"Kita datang untuk damai, bukan untuk menciptakan kekacauan." Sian Xi tak lagi berani untuk berkata, menutup mulutnya rapat-rapat.
Dua penjaga semakin heran, baru saja mereka hendak melapor dari belakang Sian Lou datang dengan Zhou Fan di sampingnya. "Aku tahu kau akan datang, ayo masuk. Teh sudah akan dingin," ucapnya lalu membalikkan badan.
Sian Ying mendengus pelan, tapi tetap mengikuti Sian Lou untuk pergi ke ruangannya.
"Aku tahu maksud kedatanganmu, tapi sayang sekali aku tak akan menerimanya." Sian Lou berjalan sambil menaruh tangan di belakang, perkataannya membuat langkah Sian Ying terhenti.
"Kenapa?" Hanya itu yang keluar mulut Sian Ying.
"Aku tak akan mau jika kau menyerahkan Klan Sian kepadaku. Aku mau kau yang memimpin klan, menjadi patriark untuk Klan Sian." Bukan hanya Sian Ying yang terkejut, tapi juga Sian Xi bahkan Zhou Fan yang tak mengerti cara pikir sangat guru.
Sian Lou kemudian membuka ruang, mengajak Zhou Fan pergi. "Sekarang kau adalah Patriark Klan Sian. Jangan mengecewakanku."