Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 45 : Mempelajari Teknik Tombak


"Ini -- "


Zhou Fan tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang, yang jelas dia saat ini tengah terpukau akan keberadaan kitab di tangannya.


Meski kitab ini sudah sangat lusuh dengan kertas yang pudar, tidak membuat isi di dalamnya berkurang. Di dalamnya menjelaskan tentang sebuah teknik tombak serta dengan sejarah terciptanya.


Tombak Angin


Dua kata itu yang terukir jelas di halaman pertama kitab. Ketika menelisik lebih lanjut, Zhou Fan dapat memperkirakan betapa hebatnya teknik tombak yang terdiri dari beberapa gerakan ini.


Namun ketika membaca sejarah terciptanya teknik tersebut, sebuah historis kelam membuat mata Zhou Fan terpejam.


Sungguh tidak disangka, teknik yang begitu hebat tercipta karena ketidaksengajaan. Dan saat itu pencipta teknik ini dalam situasi terpojok, dia dikepung oleh banyak musuhnya.


Dengan tombak di tangannya dia menyerang dengan brutal, dia tanpa sadar telah melakukan gerakan acak yang terus berulang. Ketika memusatkan tenaga dalam, sebuah tornado angin berputar meluluhlantahkan semua lawannya.


Ratusan nyawa melayang di tangannya, mulai detik itu teknik tombak tersebut diberi nama 'Teknik Tombak Angin'.


Zhou Fan berdiri dan mengamati tombak di tangan kirinya. Bersamaan dengan itu pengemis tua kembali dengan membawa beberapa buah.


"Tangkap!"


Pria tua itu melempar buah ke arah Zhou Fan dan dengan sempurna ditangkap olehnya.


"Jangan terlalu ngotot, kau tidak akan bisa paham dengan beberapa hari saja. Bahkan aku membutuhkan dua minggu untuk menciptakan energi angin di ujung tombak, jika kau dapat melakukannya dalam satu bulan, itu masih termasuk jenius." Pengemis tua menggigit apel di tangannya, dia melirik Zhou Fan yang masih serius memandangi kitab dan juga tombak secara bergantian.


"Bagaimana jika aku bisa menguasainya dalam beberapa hari?" Zhou Fan tersenyum penuh arti, seolah menantang pengemis tua.


Pengemis tua menjauhkan apel dari mulutnya, menatap Zhou Dan dengan pandangan tidak percaya. "Heh... Itu tidak akan terjadi."


"Jika kau dapat melakukannya, aku akan memberikanmu cincin penyimpanan milikku." Pengemis tua mengangkat jarinya, menunjukkan sebuah cincin emas yang bersinar.


Zhou Fan menyipitkan mata, memang apa yang di punya pengemis tua ini, bahkan jika ada sedikit barang berharga itu sangat sangat beruntung.


Melihat keraguan Zhou Fan, pengemis tua tersenyum sinis. "Hei... Kau jangan menilai dari penampilan, biar aku tunjukkan apa yang ada di dalamnya."


Zhou Fan bergeming di tempatnya, menantikan apa yang akan ditunjukkan pria tua di hadapannya.


Shing...


Seberkas cahaya putih terpancar menyilaukan pandangan, Zhou Fan tanpa sadar memejamkan mata.


Ketika terbuka, dia melihat banyak sekali tanaman herbal di depannya. Bukan hanya itu, ini adalah herbal langka dengan umur puluhan tahun.


Masih ada puluhan botol pill yang tergeletak di antara tanaman herbal, Zhou Fan tidak lagi bisa berkata kata, tatapannya tidak bisa beralih dari obyek di depannya.


Ini jelas merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya, bahkan yang diberikan gurunya masih kalah jika dibandingkan dengan isi cincin pengemis tua.


Siapa sebenarnya pengemis tua ini, kenapa bisa mempunyai begitu banyak barang berharga. Tidak mungkin hanya orang biasa.


"Jika kau dapat melakukannya lebih cepat dariku, maka semua ini akan menjadi milikmu." Pengemis tua kembali menarik isi cincinnya.


Zhou Fan yang sempat termenung, begitu mendengar penawaran pengemis tua langsung mengangguk. "Senior, engkau telah berkata. Seorang pria tidak akan memungut kembali apa yang telah dikatakan."


Pengemis tua tersenyum, dia bahkan seolah tidak terbebani oleh ancaman kehilangan semua yang dimilikinya.


Hal ini membuat Zhou Fan semakin bingung. Namun pemuda itu menyingkirkan semua pemikiran yang berputar dalam benaknya, yang terpenting sekarang adalah bertambah kuat.


Zhou Fan meletakkan kitab dia atas sebuah batu, dia mengambil jarak dan dengan segara melatih "Teknik Tombak Angin".


Namun melatih 'Teknik Tombak Angin' bukan perkara mudah, dia harus berusaha menyeimbangkan gerakan tangan serta kaki agar ketika mengayunkan tombak bisa menuai hasil yang sesuai.


Waktu terus berlalu, tak terasa hari telah berganti.


Zhou Fan yang masih berlatih tidak menyerah bahkan setelah gagal melakukannya. Memperagakan 'Teknik Tombak Angin' tidak sama seperti 'Teknik Dewa Pedang', terlepas dari dua sarana yang digunakan, terdapat perbedaan besar di antara keduanya.


'Teknik Tombak Angin' lebih mengarah pada kekuatan angin yang dihasilkan, sementara 'Teknik Dewa Pedang' lebih mengutamakan gerakan.


Namun karakteristik keduanya hampir serupa, sangat efektif untuk berhadapan dengan banyak lawan sekaligus.


"Istirahatlah, masih satu hari, jika kau sudah menguasainya itu akan terlihat sangat mengerikan." Pengemis tua berlalu dan pergi hendak mencari makanan, meninggalkan Zhou Fan yang masih serius melatih 'Teknik Tombak Angin'


Zhou Fan sangat berusaha bukan hanya karena ingin menguasai 'Teknik Tombak Angin', dia juga mengincar taruhan pengemis tua yang jika dia dapatkan akan sangat berguna baginya.


Zhou Fan meletakkan tombak, dia meraih guci berisikan air yang berada tak jauh dari tempatnya.


Bukan untuk minum, pemuda itu mengguyur kepalanya. Tak ayal pakaiannya basah tersiram air. "Sangat menyegarkan."


Zhou Fan kembali meraih tombak, dia tak akan berhenti sebelum menguasai teknik tombak tersebut.


Waktu berlalu, langit yang terang perlahan berubah gelap. Pengemis tua kembali sambil membawa buah buahan di masing-masing tangannya.


Ketika melihat Zhou Fan masih saja berlatih, sebuah senyum terukir samar di wajahnya. "Bagaimana caramu akan mengatasi masalah ini, aku ingin lihat apakah kau mampu melampauiku."


Pengemis tua berjalan tanpa menyapa Zhou Fan, dia tidak ingin mengganggu latihan pemuda itu.


"Kakek Zen, kau kembali?" Zhou Fan meletakkan tombak di dekat kitab, kemudian berjalan mendekati pengemis tua.


Setelah beberapa hari bersama, Zhou Fan mengetahui jika pria tua berpenampilan layaknya seorang pengemis itu bernama Zen Yoan.


"Kenapa berhenti, kau menyerah?" Zen Yoan tertawa sambil menampilkan ekspresi mengejek.


Namun Zhou Fan menanggapi dengan ringan, pemuda itu menggeleng. "Jika aku menyerah semudah ini, namaku bukanlah Zhou Fan."


Zen Yoan melemparkan beberapa apel, Zhou Fan menangkap dan langsung memakannya.


Sambil memakan apel, Zhou Fan memandang Zen Yoan. Dia masih belum mengetahui sejauh mana kekuatan pria tua ini, bahkan ketika bertanya pun tidak mengatakan apapun.


Zhou Fan mengangkat kedua bahu, kemudian kembali ke tempatnya latihan.


Melihat hal ini Zen Yoan menyipitkan mata. 'Tidakkah dia ingin istirahat, bahkan aku dahulu tidak seperti-nya ketika berlatih.'


Zhou Fan tidak mempedulikan ekspresi wajah Zen Yoan yang terlihat ingin mengatakan sesuatu, pemuda itu dengan telaten kembali melakukan latihannya.


"Dengan tanaman herbal itu, aku bisa membuat pill kultivasi tingkat kesepuluh. Aku harus menguasai teknik ini sebelum hari ke empat belas tiba." Zhou Fan mendorong tombak, melakukan gerakan seperti yang ada dalam kitab.


Namun tidak ada efek sama sekali, seolah itu hanya sebuah gerakan biasa.


Zhou Fan mengelus dagunya sambil tersenyum.


"Semakin sulit tantangan, semakin besar yang kau dapatkan."