Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 144 : Kediaman Keluarga Chen


"Tuan muda Chen, sering-seringlah berkunjung. Aku akan selalu menemanimu," ucap pelayan wanita sambil mengikuti Chen Beixian dari belakang.


"Pasti aku akan datang, tidak ada yang menolak undangan wanita cantik sepertimu." Chen Beixian tersenyum, sedang pelayan wanita itu tersenyum sambil memalingkan muka yang nampak malu-malu.


Mereka menuruni tangga dan berjalan menuju pintu keluar.


"Apa yang kau lakukan, apakah kau tidak bisa melihat bahwa dia adalah tuan muda Chen--Chen Beixian?" Pelayan yang bersikap begitu lemah lembut kepada Chen Beixian itu seketika berubah saat bersimpamgan dengan seorang pria yang terus mengeluarkan tatapan tajam terhadap mereka.


Chen Beixian menghentikan langkah kakinya, perlahan menoleh memandang seorang pria muda yang duduk di salah satu meja rumah makan.


Hem!


"Dia hanya iri, seorang manusia tak berguna yang mengharap menjadi sempurna." Dengusan terdengar sinis, Chen Beixian kemudian kembali melangkah keluar rumah makan.


Setelah Chen Beixian pergi pria muda itu bangun dari tempat duduknya. "Saudara Zhou, kita ikuti dia."


Zhou Fan membuka tudung jubahnya, berjalan keluar bersama Yin Cun dan juga Dua Kapak Kembar.


Mereka mengikuti Chen Beixian yang berjalan sendirian di bawah sinar bulan. Namun tuan muda keluarga Chen itu tiba-tiba saja berhenti dan membalikkan badan.


Tak menemukan apapun, Chen Beixian membalikkan badan dan kembali berjalan. "Aneh, aku merasa ada yang mengikutiku."


"Jangan terlalu dekat, dia hampir saja mengetahui keberadaan kita." Zhou Fan berkata dengan suara pelan, memperingati Yin Cun.


Chen Beixian berjalan pelan, dia memandang bulan yang bersinar begitu terang. Sangat indah. Dalam pikiran Chen Beixian, malam ini adalah malam yang paling dia nantikan. Begitupun dengan besok, saat di mana ia akan meresmikan para gundik miliknya.


Meski umurnya masih tiga puluhan tahun, ia sudah memiliki belasan selir, puluhan gundik. Jumlah itu akan terus bertambah dengan sifatnya yang sangat suka memburu wanita muda nan cantik.


Hem...


"Aku tak tahu siapa nama wanita itu, di antara para wanita, dia memiliki wajah yang cantik. Auranya nampak berbeda jika membandingkan dengan wanita lainnya. Aku tak sabar menantikan hari di mana ia akan mendambakan setiap sentuhan ku." Senyum Chen Beixian sangat cabul, terus berjalan sampai ia sampai di sebuah kediaman yang sangat besar.


"Tuan muda, engkau akhirnya kembali." Seorang pria tua mengenakan pakaian kasim mengelus dahinya yang berkeringat begitu melihat kedatangan Chen Beixian.


"Ada apa, mengapa kau begitu panik Kasim Jun?" Chen Beixian melepas jubahnya, memberikannya kepada Kasim Jun.


Kasim Jun kembali mengelap keringat di antara keningnya, menerima jubah sambil merendahkan tubuhnya. "Tuan muda, engkau pergi tanpa memberitahu siapapun dan tanpa pengawal. Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapmu?"


"Kasim Jun, kau berlebihan. Siapa yang akan mencari masalah di wilayah keluarga Chen. Bahkan bandit pun gemetar saat memasuki wilayah keluarga Chen." Chen Beixian melenggang masuk tanpa peduli lagi terhadap pria tua itu.


Kasim Bin memperhatikan punggung tuan mudanya yang perlahan berjalan semakin ke dalam. Ia tak tahu lagi harus apa menangani sifat tuan mudanya yang terlalu sombong terhadap kekuatan kekuarga Chen.


Keluarga Chen memang kuat, bahkan termasuk sepuluh kekuatan besar di Kota Dianlan. Namun mereka bukan yang terkuat, masih banyak ancaman yang dapat membahayakan keselamatannya.


Pria tua itu menghela nafas, "Aku harap tak akan ada hal buruk yang menimpa keluarga Chen."


Setelah berkata Kasim Jun masuk ke dalam kediaman, sambil nenenteng jubah milik Chen Beixian.


Dari kejauhan Zhou Fan memandang gerbang yang perlahan menutup, di sampingnya Yin Cun mengeluarkan tatapan tajam. Begitu mematikan.


Yin Cun menurunkan pandangannya ketika gerbang sepenuhnya tertutup, "Saudara Zhou, bagaimana kita masuk ke dalam? Kita harus segera menyelamatkan Ling'er."


"Saudara Zhou, apakah kau memikirkan apa yang sedang aku pikirkan?" Yin Cun sangat bersemangat, memandang keenam pria tua dengan senang.


Zhou Fan menelisik wajah Yin Cun, nampaknya mereka memang mempunyai pikiran yang serupa.


...


"Tuan muda, apakah kita tidak akan ketahuan? Dan juga, penampilan ini ... Cukup aneh." Ciu San mengangkat tangannya, kini ia memakai pakaian ala brahmana.


Tidak hanya Ciu San, tapi juga Zhou Fan, Yin Cun dan juga Zhi Long. Mereka semua memakai pakaian brahmana untuk masuk ke dalam kediaman keluarga Chen.


"Tidak akan ketahuan jika kau tidak mengatakan identitasmu yang sesungguhnya." Zhou Fan menurunkan Zhou Jim, serigala itu seketika berubah menjadi besar.


"Jim kau bersiaplah. Ketika mendengar tanda 'shuit' ...." Zhou Fan memandang Zhou Jim, serigala itu nampak menantikan tugasnya.


"Kau langsung masuk dan kacaukan penjagaan."


Auk!


Serigala itu melompat dengan kaki belakang, menganggukkan kepala tanpa bahwa ia sudah mengingat apa tugasnya.


Zhou Fan kemudian mengajak mereka untuk mendekati penjaga yang sedang berjaga.


"Kalian siapa?" tanya penjaga itu, tidak hanya satu orang penjaga, tapi empat penjaga yang datang seolah berniat menghentikan kedatangannya.


"Kami dari kuil teratai suci, datang untuk menghadiri undangan tuan besar Chen." Zhou Fan telah mendapatkan informasi dari keenam pria tua yang mereka hentikan saat perjalanan. Semua informasi yang mereka ketahui kini telah dia ingat dalam kepalanya.


Keempat penjaga nampak saling berbisik seolah mendiskusikan sesuatu.


"Ternyata tamu untuk acara peresmian gundik tuan muda. Jika demikian tuan sekalian silakan masuk. Maaf kami tidak bisa mengantar." Dengan sangat sopan mereka membuka gerbang, merentangkan tangan mengiring perjalanan.


"Tidak apa, kami punya mata untuk melihat. Tidak perlu mengantar," ucap Ciu San dengan sedikit penekanan. Dia sangat kesal dengan sikap penjaga yang terlalu menyombongkan diri mereka.


Padahal hanya seorang penjaga, tapi lagaknya sudah mirip seperti penguasa kota.


Keempat penjaga menyipitkan mata mendengar ucapan Ciu San, tapi tetap diam dan menampilkan senyum karena berpikir tamu tuan besar tidak boleh disinggung.


Di tengah perjalanan Zhou Fan melihat pria tua yang sempat keluar menyambut kedatangan Chen Beixian. Dia menghampiri mereka. "Tuan sekalian, apakah berasal dari kuil teratai suci?"


Zhou Fan mengangguk, membuat Kasim Jun tersenyum. "Jika demikian mohon ikuti pria tua ini untuk menemui tuan besar."


Tak ada pilihan lain mereka mengikuti Kasim Jun pergi menemui Tuan Besar Chen. Zhou Fan juga penasaran bagaimana rupa ayah dari pria seperti Chen Beixian, apakah sama seperti anaknya atau malah lebih dari apa yang dapat ia bayangkan?


Setelah melibtasi beberapa lorong serta tikungan, Kasim Jun berhenti di sebuah ruangan. Nampak pintu dengan aksen emas yang murni terpampang nyata dalam pandangannya, memang kualitas keluarga bangsawan.


"Tuan sekalian, silakan masuk. Tuan besar telah menunggu di dalam." Kasim Jun kemudian membuka pintu dan sekali lagi menunjukkan senyumnya yang ramah.


Zhou Fan menelisik kasim tua itu, hanya sekilas kemudian menurunkan pandangannya dan masuk ke dalam ruangan. "Pria tua yang tidak mudah."