Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 128 : Tulang Beast Tingkat Kesembilan


Setelah turnamen berakhir Zhou Fan ikut kembali ke kediaman Klan Heng, menghadiri undangan patriark klan. Acara tidaklah lama, karena hanya perjamuan antar tetua serta beberapa orang tambahan saja.


Saat ini Zhou Fan berada di ruangan Heng Biyen dengan Heng Biyu di sampingnya. "Kalian, katakan yang sebenarnya!"


Zhou Fan hanya diam, sementara Heng Biyu menundukkan kepalanya. Sebelum ini ia sudah mengingatkan kepadanya bahwa ia tak akan menjelaskan apapun kepada siapapun, masalah ini harus diatasinya sendiri.


Namun sampai sekarang Heng Biyu masih diam, membuatnya tak tahan.


"Tetua, biar aku jelaskan kepadamu. Hubungan di antara kami hanya kesepakatan, untuk lebih lengkapnya kau bisa tanyakan kepada putrimu."


Mendengar ucapan Zhou Fan, Heng Biyen menyipitkan mata. "Ka-kalian, beraninya kalian menipu banyak orang?!"


Heng Biyen merasa ditipu, ia telah mengatakan kepada semua orang bahwa Zhou Fan--pemenang turnamen adalah menantunya, tapi malam ini sebuah fakta terungkap. Ia tak bisa terima, mau diletakkan di mana mukanya.


"Apa kesepakatan kalian?" tanya Heng Biyen setelah menarik nafasnya dalam dalam.


"Tetua, ini sudah malam. Aku akan melanjutkan perjalanan." Zhou Fan bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu, jawab pertanyaanku. Kesepakatan apa yang kalian lakukan?" desak Heng Biyen kepada kedua sosok di hadapannya.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu membuat Heng Biyen mengalihkan perhatian, "Tetap di sini, aku akan membuka pintu."


Heng Biyen berjalan menuju pintu, Heng Biyu melitik Zhou Fan. "Kau bisa pergi, jendela tidak dikunci."


Zhou Gan menghela nafas, kemudian melirik jendela yang beberapa langkah dari tempatnya. "Kau sudah menarik ku masuk ke dalam masalah ini, bagaimana mungkin aku pergi begitu saja."


"Patriark, mengapa anda berkunjung, apakah ada sesuatu?"


Mengabaikan pertanyaan Heng Biyen, patriark klan masuk ke dalam. "Tetua kedua, aku sebenarnya sudah tahu jika mereka berdua hanya berpura-pura."


Heng Biyen mengerutkan keningnya begitupun dengan Heng Biyu. Sementara Zhou Fan duduk dengan tenang di tempatnya.


"Lagi pula ini juga demi klan, karenan berkat Zhou Fan juga klan kita mendapatkan hak atas tambang mineral. Selain itu, aku datang untuk memberikan kalungmu. Ia hendak mengembalikan kalung ini kepadamu, melalui diriku." Saat mengatakannya, mata patriark klan melirik Zhou Fan.


Heng Biyen menatap kalung di tangan patriark klan, perlahan meraihnya. "Baiklah, karena patriark klan serta karena kau telah berjasa terhadap klan, aku akan melupakan masalah ini."


"Kau telah merencanakan ini semua?" Heng Biyu berbisik pelan.


Zhou Fan tersenyum, kemudian bangkit berdiri. "Karena masalah telah terselesaikan, aku akan melanjutkan perjalanan. Patriark, tetua, junior ini undur diri."


Patriark klan mengangguk, sementara Heng Biyen fokus dengan kalung di tangannya. "Ya-ya-ya, aku mau memeriksa hartaku." Sambil berkata ia memeriksa liontin miliknya.


Namun sejurus kemudian ekspresi wajahnya berubah menghitam, nampak terpancar aura mencekam dalam sorot matanya.


"Bajingan! Kembalikan hartaku!!"


...


Sementara di luar kediaman Zhou Fan memutar cincin di jari tengahnya. Ekspresinya nampak gembira, "Hem... Dasar tua bangka, aku tahu kau hanya ingin hartamu kembali. Namun harta yang telah berada di tanganku mana mungkin aku serahkan begitu saja."


"Tuan muda,"


Zhou Fan menoleh ke kanan, ternyata Ciu San dan juga Zhi Long telah menunggu di depan gerbang.


"Kita pergi ke Kota Dianlan," ucap Zhou Fan yang ditanggapi bingung oleh Dua Kapak Kembar.


"Tuan muda, mengapa kita tidak ke Kota Huang terlebih dahulu. Dari tempat kita, kota itu yang paling dekat."


Zhou Fan menggeleng mendengar perkataan Zhi Long. "Memang Kota Huang merupakan kota terdekat, tapi aku ingin ke Kota Dianlan terlebih dahulu. Entah mengapa seolah ada sesuatu yang mencoba menarikku ke sana."


Zhi Long terdiam, sungguh tak mengira keputusan diambil hanya karena satu kata 'ingin'.


"Tunggu dulu, aku tak melihat Zhou Jim. Dimana dia?" Zhou Fan mengedarkan pandangannya, ia tak melihat Zhou Jim sejak perjamuan diadakan.


Zhou Fan mengikuti kemana Ciu San menunjuk. Mendapati seekor serigala tengah duduk sambil menggerogoti tulang.


Benar-benar tak habis pikir, kerjaan Zhou Jim hanya makan makan dan makan. Seolah tak ada hal lain yang dapat dilakukan.


Fyut...


Siulan itu langsung membuat Zhou Jim mengangkat kepalanya, memandang ke tempat Zhou Fan dan mendekat seketika.


Auk!


Zhou Fan menyipitkan mata, ia kemudian mengelus kepala Zhou Jim. "Hem... Sejak kapan kau naik tingkat?"


Zhou Jim mengangkat tulang di moncongnya, Zhou Fan meneriksa tulang itu dan bertahap keningnya mengerut.


"Tuan muda, itu adalah tulang beast tingkat kesembilan." Mendengar perkataan Zhi Long, seketika ia memandang Zhou Jim. Kemudian beralih kembali ke tulang yang ada di tangannya.


"Jim, di mana kau menemukan tulang ini?" Zhou Fan menyimpan tulang itu, tentu saja untuk persediaan Zhou Jim sendiri.


Serigala itu mengerti apa yang dikatakan tuannya, dengan cepat ia melesat. "Auk!"


Zhou Fan melirik Zhi Long, sejurus kemudian berkelebat mengikuti kemana serigala nya bergerak.


Tanpa sadar mereka memasuki sebuah hutan, tapi Zhou Jim tidak berhenti dan terus melesat mengikuti moncongnya.


Awu....


Setelah beberapa kali mengendus, Zhou Jim berhenti tepat di sebuah kawah. Memang ukurannya tidak besar, tapi juga tidak kecil.


Zhou Jim melompat ke bawah dan di dasar kawah sedalam enam kaki ini terdapat sebuah batu besar.


Auk!


Zhou Fan menyipitkan mata, kemudian turun ke bawah. Perlahan kakinya melangkah dan sampai di balik batu. Matanya berkedut, melihat sebuah kerangka tulang berukuran besar dan juga panjang.


"Ular!" seru Ciu San.


Zhou Fan ragu jika di hadapannya ini adalah kerangka ular. Namun ia tidak dapat memastikan kerangka beast jenis apa di hadapannya. Andai kerangka ini masih utuh, ia mungkin dapat menebaknya, tapi kerangka ini sudah lapuk.


Auk...


Zhou Jim datang dengan tulang di moncongnya, itu adalah jenis tulang yang sama seperti sebelumnya. Femur--tulang paha.


Zhou Fan meraih tulang di moncong Zhou Jim, matanya terbelalak ketika menyadari tingkatan tulang tersebut sama seperti sebelumnya. "Beast tingkat sembilan!"


Zhi Long menelisik kerangka yang sudah hampir lapuk ini, kemudian ia menggeleng. "Tuan muda, nampaknya tidak hanya ada satu mayat beast. Jelas kerangka di depan kita ini adalah ayat beast tingkat enam."


"Kau benar, mungkin Jim dapat menunjukkan di mana ia mendapatkan tulang beast tingkat sembilan." Zhou Fan melirik Zhou Jim.


Serigala itu seolah tahu, dan ia berlari menuju sebuah celah dengan diameter seukuran lutut orang dewasa.


Zhou Fan merendahkan tubuhnya, melihat dari luar apa yang sebenarnya ada di dalam. Ternyata di dalam ada sebuah kerangka yang nampaknya sudah puluhan bahkan ratusan tahun di sana.


Karena ingin melihat lebih dekat, ia masuk melalui celah tersebut. Sungguh perjuangan yang tidak mudah.


Ciu San serta Zhi Long tidak mau masuk, mereka sadar dengan postur tubuh mereka yang gempal tidak akan muat jika harus melintasi celah sempit itu.


Zhou Fan telah berada di dalam, ini adalah sebuah ruangan dengan ukuran yang lumayan. Ia bisa membangun sebuah gubuk di sini.


Mengabaikan gubuk yang nyaman, Zhou Fan berjalan menuju ke tempat kerangka, ia melihat kerangka ini dengan teliti. Dapat digambarkan jika beast tingkat sembilan ini adalah seekor kadal dan ukurannya lebih besar dibandingkan dengan Zhou Jim.


Zhou Fan memasukkan kerangka kadal itu tanpa menyisakan apapun, ini akan menjadi sumber daya berharga bagi Zhou Jim.


Namun sangat disayangkan, tak nampak kristal beast di antara kerangka kerangka ini.