
Sian Yu membantu Sian Hui menghadapi beast tingkat sembilan--kera ekor tinju. Meski awal-awal Sian Hui dapat menahan, perbedaan fisik antara manusia dan beast tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih kera ekor tinju hampir tidak memiliki titik buta, depan belakang samping dia jaga dengan sangat baik.
"Tetua Yu, kau bantu aku alihkan perhatiannya saja. Jangan terlalu dekat karena kekuatan kera ini sangat kuat." Sian Hui mengatakan dengan suara lirih, dia tahu kecerdasan beast tingkat sembilan sudah sangat tinggi.
Sian Yu mengangguk, dia tak mau bunuh diri dengan maju terlalu jauh. Ia tahu batas kekuatannya, kera ekor tinju mungkin hanya butuh satu ayunan untuk dapat menghempaskan tubuhnya.
Kera ekor tinju menggeram, menepuk dada dan berteriak seperti kerasukan setan.
Hal ini membuat Sian Hui waspada, melirik ke arah Sian Yu dan memperingatinya. "Tetua Yu, -- "
Belum sempat kata-kata keluar dari mulutnya, kera ekor tinju melesat dan menghantam tanah dengan kuat. "Rasakan ini manusia!"
Blam!
Blam!
Tanah seperti ombak, menerjang Sian Hui dan Sian Yu. Dengan cepat keduanya menghindar dan ombak tanah menghantam batu besar.
BLAR!
Batu hancur berkeping-keping, debu beterbangan menutup pandangan. Memanfaatkan kesempatan ini Sian Hui bergerak melakukan serangan.
Karena pandangan terhalang kera ekor tinju belum menyadari, beberapa saat baru merasakan sebuah pergerakan dari belakang.
"Manusia, kalian membuatku marah!" Kera ekor tinju memutar ekornya, menghantam sesosok bayangan yang melesat.
Blam!
Sian Yu terpelanting jauh, tapi dia sudah siap dan telah mempersiapkan kemungkinan ini. "Tetua Hui, giliranmu!"
Kera ekor tinju seketika menoleh kembali ke depan, Sian Hui sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Aku tak akan melewatkan kesempatan ini!" Sian Hui melepaskan serangan terkuatnya, pedang menghunjam wajah kera ekor tinju.
Kera ekor tinju tak sempat menaruh tangan menahan serangan, tubuh setinggi lima belas kaki itu jatuh membuat bumi bergema.
Sian Hui mendarat setelah memberikan serangan, nafas tersengal kehilangan lebih dari separuh tenaga dalamnya. Namun usaha tak sia-sia karena kera ekor tinju telah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tetua Yu!" Sian Hui teringat dengan Sian Yu yang sempat memberikan pengalihan sehingga ia memiliki kesempatan. Ia melesat dan mencari keberadaannya.
"Tetua Hui,"
Melihat Sian Yu yang terduduk, Sian Hui langsung membantu untuk berdiri. Nampak luka didapatkan oleh Sian Yu. Menahan serangan beast tingkat sembilan dengan kultivasi petarung suci, dapat bertahan saja itu sungguh menakjubkan. Sian Yu ini hanya mendapat luka, meski tidak bisa dikatakan ringan juga tidak terlalu parah. Entah itu keberuntungan, atau memang dia yang pandai menempatkan dirinya.
Sementara di sisi lain Sian Lou bertarung imbang dengan Shizi. Itu juga karena bantuan Xue Bing Yu, andai satu lawan satu dia tak mungkin dapat bertahan menghadapi dewa beast tersebut.
Sizhi menghilangkan tombak petirnya, memandang dua orang yang memberikan perlawanan sangat sengit kepadanya.
"ARG ... !"
Shizi dipenuhi tenaga, aliran listrik seolah berlarian dan menyelimuti setiap inci tubuhnya.
"Kalian membuatku muak, aku akan menuntaskan masalah ini sekarang juga!" Sambil memandang tajam ke depan Sizhi kembali membentuk tombak petir, tapi kali ini aura yang terpancar lebih kuat.
Mata Sian Lou dan Xue Bing Yu terbelalak hebat, bukan karena kekuatan lawan mereka, melainkan rambut lebat yang nampak seperti surai singa.
"Patriark Sian, apakah kau berpikir sama denganku?" Tak mau lengah, Xue Bing Yu berkata tanpa mengalihkan pandangan.
"Dia adalah beast! Beast tingkat sembilan yang telah berevolusi, dewa beast!" Ekspresi Sian Lou sedikit cemas, pantas saja tubuh lawannya ini mampu menahan dua energi sekaligus, ternyata bukan tubuh manusia.
"Matriark Xue, bantu aku sekali lagi!" Sian Lou memegang tongkat dengan dua tangan, seolah mengucapkan mantra dan sebuah tulisan menyebar dan membuat tongkat bersinar.
"Tentu aku akan membantumu, Patriark Sian." Xue Bing Yu mengaktifkan tubuh dewi es, aura tubuhnya lebih dingin dibandingkan gunung bersalju.
Pancaran energi yang luar biasa menarik perhatian semua orang, tak terkecuali Sian Ying dan Sian Hui.
"Patriark -- " Sekali lihat Sian Hui langsung tahu bahwa itu adalah Sian Lou, cahaya keemasan yang begitu terang menjadi tanda dari terbuka segel kejutan tongkat dewa.
Sian Ying yang baru saja mengalahkan beast tingkat sembilan memandang dengan penuh keterkejutan, kekuatan Sian Lou jelas di luar batasannya. Tapi mengapa masih membiarkannya, tak mencoba mengambil kekuasaan Klan Sian.
"Guru? Siapa yang menjadi lawannya, guru bahkan mengeluarkan kekuatan tongkat dewa miliknya." Zhou Fan membatin penasaran. Ketika pandangan tertuju pada seorang pria paruh baya dengan surai lebat mengelilingi wajahnya, kening bertahap mengerut.
"Tuan muda, nampaknya pria itu adalah dewa beast."
Mendengar suara dari samping, Zhou Fan melirik sekilas. "Dewa beast?"
"Benar tuan muda, kau dapat melihat dari dua energi yang menyelimuti tubuhnya. Jika dia adalah manusia, tak akan mampu menahan dua energi dalam satu tubuh yang sama. Kemudian surai uang lebat itu semakin memperkuat fakta jika dia adalah beast yang telah naik tingoat menjadi dewa beast." Penjelasan Zhi Long membuat Zhou Fan terdiam.
Dari belakang seekor serigala berbulu perak, melihat Zhou Fan dengan sorot mata tajam. Beast tingkat delapan itu seolah tahu, bahwa Zhou Fan dalam keadaan lengah. Dia melompat menerjang dengan gigi taring yang sudah siap mengoyak lawan.
Namun belum sempat mendekat, pedang darah malam melayang memisahkan kepala dari tubuhnya. Serigala bulu perak jatuh terguling dengan darah menyembur seperti air mancur.
"Ingin menyerang diam-diam? Itu juga harus melihat kemampuan." Zhou Fan tak lagi mengurusi pertarungan sang guru yang berhadapan dengan dewa beast, ia fokus ke bagiannya, menumpas beast yang masih ada tersisa.
Setidaknya masih ada lima ratusan beast yang berkeliaran di wilayah sekitar kediaman Klan Sian Barat.
Suiiit!
Zhou Jim datang, lompatan begitu tinggi seolah dia terbang bak elang yang mengincar mangsa. Zhou Fan langsung melompat, meraih punggung Zhou Jim dan naik ke atasnya. "Jangan sisakan mereka!"
Mendengar seruan Zhou Fan, Zhou Jim melesat memburu semua beast yang ada di sekitar. Meski ukuran beast ada yang besar, bahkan tiga empat kali lipat, Zhou Jim sama sekali tak gentar, dia tahu Zhou Fan mampu melakukannya.
Bagai pasangan yang telah digariskan, mereka melaju dan menghabisi setiap beast yang ada di depan mata. Satu tebasan, satu terkaman, beast-beast itu mati mengenaskan.
Zhi Long memandang dari kejauhan, melihat tuan mudanya begitu mudah memisahkan kepala beast tingkat delapan. Jika dia ingat usia Zhou Fan tidak lebih dari dua puluh lima tahun, tapi telah mencapai tingkat petarung dewa. Mungkin tidak ada lagi kata jenius jika disandingkan dengannya.