
Ciu San serta Zhi Long menghadapi dua puluhan orang, meski kewalahan mereka dapat bertahan terlebih dengan bantuan Zhou Jim yang memburu seperti bayangan. Gerakan serigala itu sangat cepat, ia menerkam mangsa tanpa memberi peringatan, dalam satu gigitan satu nyawa melayang.
Kekuatan Zhou Jim meningkat pesat, ia sekarang setara dengan petarung senior bintang delapan. Satu tingkat di atas Dua Kapak Kembar yang saat ini sudah mencapai tingkat petarung senior bintang tujuh.
Suara jeritan terdengar bersahutan, mereka juga merupakan petarung senior. Namun mereka benar benar tak berdaya kala berhadapan dengan Zhou Jim.
Zhou Jim menjadi momok menakutkan bagi mereka, dalam beberapa waktu ia telah mencabik setengah dari jumlah lawan yang ada. Sebuah kerja yang sangat bagus.
Ciu San serta Zhi Long yang telah mendapatkan bantuan Zhou Jim jelas lebih bisa mengeluarkan potensi terbaik mereka. Dengan kombinasi teknik yang sempurna pasangan saudara kembar itu membantai beberapa orang yang tersisa.
Tak butuh waktu lama, mereka menyelesaikan kelompok pria berbaju hitam.
Zhou Fan datang, nampak bertambah satu lagi cincin di jarinya. Ia sudah seperti tuan muda keluarga bangsawan, berjalan dengan banyak harta di tubuhnya.
"Tuan muda, mengapa engkau tak menghabisinya?"
Mendapat pertanyaan dari Ciu San, Zhou Fan menengok ke belakang. "Terkadang hidup lebih menyakitkan dari pada kematian. Dan dia pantas mendapatkannya."
Zhou Fan melirik ke beberapa cincin yang tersemat dijemari kelompok pria berpakaian hitam. "Apakah kalian tidak menginginkannya?"
Dengan cepat Ciu San melesat, mengambil cincin yang terlihat di matanya. Ia tak menyisakan satupun untuk Zhi Long.
Zhi Long yang melihat kelakuan Ciu San pun menengadahkan tangan begitu sang kakak kembali. "Kita bagi berdua," ucapnya.
Ciu San menyimpan cincin tersebut, "Sebagai kakak yang baik aku harus menanggung semua kebutuhan adikku, termasuk beban menyimpan kekayaan."
Zhi Long menyipitkan mata, hendak merebut cincin rampasan itu tapi terlebih dahulu masuk ke dalam cincin penyimpanan milik Ciu San.
Zhi Long mendengus, sedang Ciu San tersenyum penuh kemenangan.
"Kita pergi dari sini." Zhou Fan memandang ke salah satu arah, nampak beberapa beast terbang berlarian. Jelas ada sekelompok orang yang datang.
Zhou Jim juga sejak beberapa saat lalu terus menggeram, memandang dengan mata tajam.
Zhi Long memusatkan pendengarannya, ia memiliki pendengaran yang sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan dengan Zhou Jim. Selang beberapa waktu, matanya berubah terkejut. "Tuan muda, sedikitnya ada seratus orang yang datang."
Zhou Fan menangguk, kemudian pergi dari tempat tersebut. Namun sebelum itu dia meninggalkan pesan di permukaan tanah, tepat berada di samping tubuh Jing Tian yang tergeletak.
Masih hidup, bawa pulang!
Begitulah pesan yang ditinggalkan, Zhou Fan sangat yakin jika yang datang merupakan kelompok keluarga Jing.
Dan benar saja, tepat setelah kepergian Zhou Fan, ratusan orang datang dengan pakaian senada, hitam dengan aksen garis emas di bagian dada.
Begitu sampai dan melihat mayat mayat berserakan, wajah pria tua yang memimpin kelompok langsung memerah padam. Tak sengaja matanya beralih ke tempat di mana terdapat sebuah tubuh terbaring tanpa siapapun di sampingnya.
Perlahan ia meraih wajah itu, tangannya gemetar kala melihat jelas siapa pria yang tergeletak lemah ini. "Tian'er!" Teriakan terdengar begitu lantang, kemarahan terpancar jelas dalam ekspresinya.
Dia berdiri, memandang ke sekitar. Kakinya bergerak, menginjak sebuah ranting. Ia menyipitkan mata mendapati sebuah kalimat di bawah kakinya.
"Masih hidup, bawa pulang."
"..."
Semua diam, tak berani bersuara. Sementara pria tua itu--Tuan Besar Jing menakup wajahnya, berteriak penuh kemarahan.
"KAN KU BUNUH KAU!!"
Hem...
Jing Mao--Tuan besar Jing itu memanggil salah seorang pengawal. "Cepatlah kau periksa, apakah kerangka itu masih di sana?"
Pria tua berpakaian hitam mengangguk, kemudian turun dan memeriksa. Namun hanya sekejap ia kembali dengan wajah pucat, tangannya saling meremas dengan keringat mengalir deras.
Jing Mao menyipitkan mata, memandang pengawal tua yang berdiri di hadapannya. "Ada apa?"
"Tu-tuan, kerangka itu tidak ada di sana."
Wajah Jing Mao membeku, urat urat kemarahan semakin terlihat jelas.
"ARG ... !!" Jing Mao menjambak rambutnya, rambut yang semula hitam nampak berubah putih dalam waktu sesaat.
Ugh...
Di saat bersamaan, Jing Tian melenguh, mulai membuka mata. "A-ayah ... "
Namun ketika hendak bangkit, tubuhnya terasa sakit.
"Arg!"
Jing Mao langsung mendekat ke tempat putranya, Jing Tian nampak begitu lemah. "Tian'er, siapa yang melakukannya?"
Jing Tian hanya diam, meski begitu wajahnya menyiratkan sebuah dendam tak terbalaskan. "Aku tidak tahu ayah, dia mengenakan penutup kepala. Selain itu dia bersama dengan puluhan orang lainnya."
Jing Mao berpikir, ia mengingat apakah ada musuh keluarga Jing yang kemungkinan besar menjadi dalang dalam kemalangan putranya. Namun ia tak berhasil menebak, karena menurutnya dalam dunia ini tak ada persaudaraan yang murni.
"Lupakan itu, kita kembali ke kediaman." Jing Mao membantu Jing Tian untuk bangkit, tapi rasa sakit yang dirasakan membuat Jing Tian kembali berteriak.
"Ayah, nampaknya aku akan menjadi orang tak berguna. Seorang sampah." Jing Tian mengatakan dengan frustasi, ia tidak mau menjadi sampah, ia adalah tuan muda paling jenius di Kota Hong.
"Juga aku telah mengkonsumsi pill darah marah," ucapnya lirih.
Mata Jing Mao terbelalak. "Kau menggunakan pill darah marah?!"
Jing Tian mengangguk dengan ragu, entah mengapa ia merasa ayahnya sangat marah kepadanya.
"Bodoh, kau belum tahu bahwa pill itu mempunyai kekurangan. Saat keadaan sekitar semakin panas, kau tak boleh menggunakan pill itu, atau kau akan celaka."
Mendengar perkataan sang ayah, Jing Tian mematung. Ia mengingat saat berada dalam formasi api milik Zhou Fan. Tangannya mengepal kuat, sungguh dia sangat ceroboh.
"Ayah, aku tak mau menjadi cacat. Apakah kau memiliki cara untuk menyembuhkanku?"
Jing Mao berpikir, dengan ragu memberikan jawaban kepada Jing Tian. "Pasti ada cara."
Sebenarnya Jing Mao tak tahu apakah ada cara untuk menyembuhkan Jing Tian yang telah rusak jalur meridian dalam tubuhnya. Namun untuk menyemangati putranya ia tak bisa mengatakan kenyataannya, atau suatu yang buruk akan terjadi.
Jing Tian tersenyum, dalam hati dia berkata. "Zhou Fan, aku mengingatmu. Suatu saat nanti aku akan membalas dendam ini!"
Dia mengatakan dengan penuh tekad, tapi sungguh sangat disayangkan jawaban sang ayah hanya untuk memberikan semangat hidup kepadanya. Jing Mao memang tidak salah, andai Jing Tian mengatahui kenyataan ini, ia akan bunuh diri saat ini juga.
Mereka kembali ke kediaman keluarga Jing, mengabaikan masalah kerangka beast yang hilang serta palaku di balik penyerangan Jing Tian. Karena bagi Jing Mao, keselamatan putranya jauh lebih penting.