Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 89 : Tak Memberi Ruang


"Sombong!"


Salah seorang petarung senior melesat sambil menodongkan pedang, ketika dia bergerak menyerang, sebuah tombak menembus dadanya.


Crues!


Gerakan tombak begitu cepat, sampai mata pun tak bisa melihat dengan jelas. Sementara untuk pria yang menyerang, dia sudah berdiri tak sadarkan diri dengan darah merembes di sela pakaian.


Mata semua orang di sana terbelalak dengan sempurna, bahkan kelompok dua pun terkejut melihat aksi Zhou Fan yang membunuh dengan begitu mudah.


Pria yang menyerang setidaknya berada di tingkat petarung senior bintang empat, tapi hanya dalam satu lesatan tombak pria itu dapat dikalahkan.


Sebenarnya seberapa kuat pemuda yang menjadi jendral mereka, meski mengetahui bahwa kekuatan yang dimiliki tidaklah lemah, mereka tidak pernah menyangka jika itu sangat kuat.


Sebelum menjadi jendral, dia harus mendapatkan pengajuan dari para pasukan. Saat itu Zhou Fan mampu mengalahkan seorang petarung senior bintang enam, meski begitu pertarungan berjalan sengit, membuat orang akan menebak kekuatannya tidak jauh berbeda dengan tingkat petarung senior bintang enam.


Namun sepertinya tebakan mereka keliru, jelas kekuatannya berada di luar pandangan semua orang, mungkin petarung senior bintang sembilan, bahkan bukan tidak mungkin merupakan petarung suci.


"Bajingan, kau berani membunuhnya?!"


Zhou Fan menyipitkan mata, kemudian tersenyum sinis kepada pria tua yang berkata. "Aku sudah membunuhnya," ucapnya sambil menarik tombak yang masih menancap.


"Kau akan menyesal!" Pria tua menggeram marah, kemudian mengarahkan bawahan untuk menyerang bersama.


Zhou Fan memutar tombak, dia merasakan jika pria tua ini berada di tingkat petarung senior bintang delapan. Tidak bisa diremehkan!


Dua kelompok yang terdiri dari tiga puluh orang melesat maju sambil membentangkan senjata. Zhou Fan tak panik, dia menggerakkan tombak dan mengeluarkan Teknik Tombak Angin.


Ketika puluhan orang itu mendekat, pusaran angin bertekanan tinggi berputar mengelilingi tubuhnya, perlahan pusaran itu semakin besar, dan membuat puluhan orang yang hendak menyerang seketika terpental.


Zhou Fan berhenti, dia kemudian melesat memburu dengan tombak di tangannya. Satu persatu nyawa melayang di tangannya, hanya beberapa orang yang tersisa, itupun termasuk lima petarung senior yang sudah menjaga jarak sebelumnya.


"Aku akan membunuhmu!" Lima pria itu mengeluarkan teknik bertarung dan menerjang Zhou Fan dengan senjata masing masing.


Zhou Fan tersenyum sinis, mereka yang sebelumnya berhasil menghindar tapi malah datang kembali. Sepertinya apa yang dia tunjukkan belum membuat mereka menyerah, maka dari itu saat ini adalah waktunya mereka menghadapi kematian.


"Jurus Tombak Naga!" Zhou Fan mendorong tombak dengan satu tangan, siluet kepala naga yang tercipta dari ujung tombak melesat cepat ke arah lima pria tua yang mendekat.


"Heh... Hanya itu?" Salah satu dari mereka tersenyum percaya diri, mengeluarkan jurus untuk menghentikan naga yang bersiap menerkam mangsa.


"Pedang Emas!"


Pedang besar tercipta di atas kepala pria tua, ketika dua mengatakan tangannya ke depan, pedang melesat menebas naga yang sudah beberapa langkah di depannya.


Krak...


Suara itu begitu jelas, retakan pedang berwarna emas itu semakin terlihat.


Wajah pria tua nampak tak percaya, padahal itu adalah jurus terkuatnya, tapi masih tidak sanggup mengalahkan jurus tombak yang begitu sederhana.


Shing...


Desingan disertai sinar putih keluar terpancar ketika pedang emas hancur, dentuman pun tidak ringan, membuat semua mata terbuka lebar.


Namun naga masih bergerak, ketika hendak menerjang salah satu dari mereka, empat jurus bergabung menghentikannya.


BLAR!


Jlebs!


Tombak menembus dengan sempurna, pria tua yang sebelumnya mengeluarkan pedang emas terbunuh di tangannya. Zhou Fan kemudian menatap keempat pria tua, memberikan sinyal bahaya kepada mereka.


Selanjutnya adalah kalian! Mungkin itu yang dia katakan, tapi sungguh tak ada kata yang keluar, hanya sebuah tatapan tajam yang sudah siap menerkam.


"Dia sangat kuat, mungkin merupakan petarung senior bintang sembilan. Aku tidak bisa melawannya." Pria tua yang memiliki kultivasi petarung senior bintang delapan berdiri sambil berpikir, tidak mungkin ada kemenangan bahkan jika mereka bergabung, keputusan paling benar adalah melarikan diri.


Zhou Fan berjalan pelan, langkah kakinya benar benar terdengar mengerikan bagi empat orang yang tersisa.


Wosh...


Zhou Fan melesat, tombak di tangannya sudah bersiap untuk membunuh lawan. Dia bergerak ke arah pria tua yang memiliki kultivasi petarung senior bintang delapan, dia berniat mengakhiri lawan yang paling menyusahkan.


"Jurus Tombak Naga!"


Zhou Fan mengatakan sambil mendorong tombak ke depan, jurus ini lebih kuat dari sebelumnya, jika pada kesempatan pertama hanya mengerahkan setengah dari kekuatan, maka ini sudah dengan kekuatan penuh.


Naga bergerak cepat, meliuk dengan moncong terbuka.


Pria tua melirik ke kanan juga ke kiri, setelah menangkap pergerakan dua rekannya, dengan dua tangan dia menarik rekannya untuk menghalangi Jurus Tombak Naga.


"Patriark Yang, Kau -- " Dua pria tua yang harus menerima serangan kuat tersebut, merasakan tubuh mereka hancur.


Kemarahan terlihat jelas di mata mereka, bagaimana bisa keduanya mati dengan cara seperti itu, menjadi korban keegoisan rekan sendiri. Sangat menyedihkan!


Pria tua yang diketahui merupakan Patriark Klan Yang, tersenyum puas melihat dirinya baik baik saja. "Aku akan mengingat jasa kalian, matilah dengan tenang, jika ada kesempatan aku akan membalaskan dendam kalian."


Patriark Yang mengeluarkan token teleportasi, pria tua di sampingnya yang melihat dengan cepat berteriak. "Patriark Yang, tunggu, bawa aku bersamamu!"


"Maaf Tetua Peng, dengan membawa orang akan mengurangi jarak jangkauannya, aku tak bisa membawamu." Setelah berkata tubuhnya bersinar dan seketika lenyap dari pandangan.


Zhou Fan berdecak kesal karena tak berhasil membunuh pria tua bermarga Yang tersebut, perlahan dia memutar pandangan, beralih kepada pria tua yang masih tersisa.


"Pak tua, sekarang hanya tersisa kau seorang." Zhou Fan mengeratkan genggaman tombaknya.


"Kau jangan memandang rendah aku, meski mati, aku akan bertarung denganmu!" Pria tua berambut putih bernama Peng Duan itu berdiri dengan wajah garang, sepertinya dia telah memutuskan untuk bertarung meski nyawa berada dalam taruhan.


Hem...


Zhou Fan tak menanggapi ucapan Peng Duan, dia melesat sembari menebaskan tombak.


Prang!


Pedang berhasil menghalangi tombak yang bersiap menebas kepala, tapi serangan Zhou Fan tidak berhenti di sana, setelah menarik tombak dia memutar tangannya dan menyerang dari bawah.


Ketika pedang menahan serangan itu, kekuatan serangan terlalu kuat, membuat pedang terpental dari genggaman. Zhou Fan tidak basa basi, langsung mendorong tombak mengoyak perut pria tua.


Crash...


Ketika tombak dicabut, darah menyembur dengan deras, sedetik kemudian tubuhnya jatuh menghantam tanah dengan mata melotot marah.


Zhou Fan menyimpan tombak, tanpa banyak bicara dia melesat. Namun sebelum pergi dia berkata. "Ikuti aku, kita ke kelompok tiga!"