Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chaoter... 220 : Menghadapi Dewa Beast


Sian Lou masih berusaha bertahan dari serangan Shizi, Xue Bing Yu juga tak mengundurkan serangan untuk membantu Sian Lou menghadapi dewa beast. Bisa dikatakan kekuatan dewa beast setara dengan petarung dewa bintang sembilan, mereka yang hanya petarung dewa bintang delapan cukup kerepotan dibuatnya.


Akan tetapi nama besar mereka bukan sekedar nama yang sia-sia, dengan segenap usaha mampu memberikan perlawanan bagi Shizi dan membuatnya kesulitan.


Zhou Fan masih bergeming di tempatnya, merasakan pergerakan yang datang dari belakang. Baru saja ia akan melayangkan serangan, siluet tebasan menghempas dua ekor beast tingkat delapan.


Pandangan mengarah ke sosok wanita yang berdiri dengan pakaian biru serta pedang di tangannya. "Leng Shui?" gumam Zhou Fan pelan.


"Hem... Kau naik tingkat lagi?" Mereka saling memunggungi, menyerang beast ketika ada yang mendekat.


"Nampaknya bukan hanya aku. Bagaimana bisa kau naik tingkat begitu cepat?" Leng Shui mengayunkan pedang, memisahkan kepala beast tingkat delapan yang menerjang ke tempatnya.


Zhou Fan tak menjawab, memburu beast dan langsung menghabisi mereka tanpa belasan kasihan. Leng Shui mendengus, tak mau kalah dia pun berkelebat sambil memainkan teknik bertarungnya.


Keduanya begitu dominan, menumpas banyak sekali beast tingkat delapan. Namun langkah terhenti karena kemunculan dua beast tingkat sembilan. "Manusia, kalian sangat merepotkan!"


Dua beast tingkat sembilan itu adalah kuda hitam dan katak beracun.


Zhou Fan melirik Leng Shui, kekuatannya saat ini adalah petarung dewa bintang satu. Jika berhadapan dengan kuda hitam akan kesulitan, jadi pilihannya adalah Leng Shui berhadapan dengan katak beracun.


"Penebas awan!" Zhou Fan menyerang, tapi niat aslinya untuk mengalihkan perhatian dua beast dan memecah mereka agar tak bertarung bersama.


"Aku serahkan katak itu kepadamu," ucap Zhou Fan yang ditanggapi anggukan oleh Leng Shui.


"Manusia, apakah kau meremehkanku?" Kuda hitam menghentakkan kakinya, pijakan yang keras menyisakan jejak lumayan dalam.


Zhou Fan tak menghiraukan ucapan kuda hitam, melesat sambil mengeluarkan jurus penebas awan. Siluet tebasan menerjang ke tempat kuda hitam, tapi dengan kaki depannya beast tingkat sembilan itu menghalau serangan.


Melihat serangan dapat dipatahkan, Zhou Fan tak menyerah begitu saja. Mengeratkan genggaman pedang, menyerang dengan teknik dewa pedang. Api berputar, menyelimuti pedang dan menggulung kuda hitam bak ombak Samudra.


"Arg! Manusia, dasar manusia sialan!" Kuda hitam meraung marah, dia mengangkat kaki, melompat dan menghunjam tempat Zhou Fan berdiri.


Lesatan kaki begitu cepat, hampir saja menghantam tubuh Zhou Fan. Namun, kewaspadaan seorang petarung dewa bintang lima bukan suatu yang dapat diremehkan. Sembari menbentangkan pedang Zhou Fan menahan kaki kuda hitam.


Di detik berikutnya Zhou Fan mendorng pedangnya, membuat kuda hitam kehilangan keseimbangan. Memanfaatkan kesempatan ini, Zhou Fan merobek ruang dan berpindah ke belakang kuda hitam berada.


Blar!


Kulit sekuat baja menahan serangan tebasan pedang, membuat tubuh terlempar jauh menghantam tanah dengan keras.


Kuda hitam berusaha bangkit, pandangan matanya mentorot tajam menyiratkan sebuah dendam. "Manusia, aku akan membunuhmu!"


Tak terima di serang dari belakang, kuda hitam mengeluarkan aura yang tersimpan dalam tubuhnya. Dia menyerang dengan kekuatan penuh, akan tetapi masih belum cukup untuk mengalahkan Zhou Fan.


Mungkin kuktivasi Zhou Fan hanya di tingkat petarung dewa bintang lima, tapi dengan pedang darah malam ia sanggup menghadapi petarung dewa bintang enam. Kemudian jika ditambah dengan teknik penghancur bintang, maka ia akan mampu menghadapi petarung dewa bintang delapan.


Namun teknik penghancur bintang tak bisa digunakan sembarangan, mengingat mengkonsumsi tenaga dalam yang sangat besar. Ia akan menyimpan teknik itu sebagai bidak utama yang akan keluar pada saat dibutuhkan.


Zhou Fan yang terus menghindar membuat beast tingkat sembilan itu murka, ia sedikit dungu jika membandingkan dengan kecepatan, tapi jangan meremehkan kekuatannya. Satu kali hentakan kaki mampu menghancurkan senjata rank legend.


Zhou Fan benar-benar tak lagi menghindar, kini ia menyerang beast kuda hitam dengan kombinasi pedang dan juga api. Kuda hitam kesalahan, berjingkrak sambil berusaha menendang dengan kaki belakang.


Hem!


Senyum sinis terukir di antara bibirnya. Menyanggupi ucapan kuda hitam agar tak lagi menghindar, beast ini malah pontang panting kewalahan menghadapi serangan pedangnya. Bodoh atau tak tahu diri, tak tahu lagi sebutan apa yang pantas untuknya.


Zhou Fan melihat Leng Shui telah mengakhiri pertarungannya. Ia dengan segara mengeluarkan jurus penebas awan dan menghantam tubuh kuda hitam sampai jatuh terlempar. Tak sampai di sana, menyadari kuda hitam masih bernafas Zhou Fan dengan cepat melesat, memusatkan tenaga dalam di pedang darah malam dan menusuk tepat di perutnya.


Jleb!


Tusukan itu langsung merengut nyawa kuda hitam. Zhou Fan menarik pedangnya dan kembali mencari lawan. Tak sengaja mata mengarah ke tempat sang guru yang semakin terpojok dengan pertarungannya melawan dewa beast pemimpin pasukan.


"Guru!"


Leng Shui nampak khawatir melihat sang guru--Xue Bing Yu ditekan habis-habisan oleh sosok berjubah hitam. Dia mengeratkan pedang dan langsung terjun ke dalam pertarungan. Melihat Leng Shui membantu, bagaimana mungkin Zhou Fan yang berada di tingkat petarung dewa bintang lima hanya diam saja. Tepat setelah itu Zhou Fan melesat dan bergabung bersama mereka.


"Shui'er, mengapa kau kemari?!" Xue Bing Yu terkejut melihat Leng Shui sudah berdiri di sampingnya, berbeda dengan Sian Lou yang nampak tenang melihat Zhou Fan bergabung bersama mereka.


Dia memang tidak tahu sampai mana batasan Zhou Fan saat ini, tapi yang jelas sebagai guru ia memiliki gambaran jelas tentang Zhou Fan--muridnya.


"Guru, kami akan membantu untuk berhadapan dengannya." Leng Shui sama sekali tak ragu. Meski ia tak memiliki hubungan langsung dengan daratan dewa, tapi berbeda dengan sekte menara es yang kini menjadi rumah baginya.


Xue Bing Yu ingin menolak, karena bagaimanapun kekuatan Leng Shui masih berada di tingkat petarung dewa bintang satu. Namun, ucapan Sian Lou membuat matriark sekte menara es itu tak mempunyai alasan lain untuk mencegah Leng Shui.


"Matriark Xue, biarkan muridmu bergabung. Jika bukan dia lantas siapa lagi. Semua tahu bahwa tak banyak petarung dewa yang kita miliki. Lagi pula kita tak akan mampu jika hanya berdua menghadapinya."


Hem...


Dengan sedikit enggan Xue Bing Yu membiarkan Leng Shui bergabung bersama mereka, menghadapi dewa beast yang sangat merepotkan. "Shui'er, kau harus hati-hati. Jangan terlalu dekat, sebisa mungkin jangan menahan serangannya."


Hahahahahaha!


"Dasar manusia lemah, apakah kalian pikir dengan menambah jumlah akan dapat mengalahkanku? Tidak mungkin!" Shizi menciptakan dua tombak dari petir, melihat lawan langsung melempar salah satunya.


BLAR!


Kawah besar tercipta, dampak serangan yang sangat mematikan. Andai mereka tak sempat menghindar, tak terbayang hal buruk apa yang menimpa.


Zhou Fan menempatkan ledang di depan tubuhnya sambil menyatukan tangan, perlahan tapi pasti aura tubuh meningkatkan dan sekarang setara dengan petarung dewa bintang tujuh.


Xue Bing Yu terkejut, matanya melotot. Ia tak mengira pria muda di sampingnya memiliki kekuatan luar biasa. Namun itu belum selesai, pedang berwarna merah gelap di tangannya mengeluarkan pancaran sinar terang, merah darah membuat orang merinding ketika memandangnya.


"Guru, kita hadapi dia bersama."