
Setelah Zhou Fan berseru, Dua Kapak Kembar langsung bergerak menerobos ke depan, mereka yang berada di petarung senior bintang lima seharusnya bisa menghadapi sepuluh petarung senior di kubu lawan yang rata rata masih di bawah mereka.
Sementara untuk lusinan petarung kaisar akan diurus oleh Zhou Jim dan juga Shin. Keduanya sudah mencapai petarung senior, setidaknya mengimbangi jumlah lawan yang tak sedikit, keduanya masih bisa bertahan.
Zhou Fan sendiri sudah meninggalkan posnya, bergerak menuju kemah yang berada di tengah kemah lainnya. Sekali pandang saja dia sudah tahu jika kemah tersebut merupakan tempat pemimpin pasukan, petarung suci.
Hem...
"Meski ini seperti rencana, tapi bukankah terlalu mudah menyusup ke dalam kemah utama?" Zhou Fan masuk, langkah kakinya terhenti saat di dalam kemah seorang pria tua duduk di kursi sambil memandangnya.
Pria tua itu seolah mengetahui kedatangannya, dia di sana terlihat seperti menyambut dirinya.
"Jangan bersikap terlalu kaku, mari sini, kita berbincang." Pria tua memberikan segelas arak kepada Zhou Fan.
Zhou Fan tidak langsung menerima, untuk beberapa saat dia hanya memandang gelas arak di tangan pria tua.
"Tidak ada racun di dalamnya, meskipun ada itu tidak akan berpengaruh banyak kepadamu yang merupakan seorang petarung suci." Senyum pria tua sangat misterius, membuat Zhou Fan tak tahu apa yang ada dalam kepala pria tua di hadapannya.
Ketika pria tua menyebutkan kultivasinya, sesaat air mukanya berubah, tapi dengan tenang dia mengkondisikan.
"Pak tua, tak perlu basa basi, aku datang berniat membunuhmu." Zhou Fan meneguk arak yang diberikan, dia telah memeriksa bahwa itu tidak mengandung racun.
"Hehe, tenang dulu. Aku tahu itu, kita berada di jalan yang berbeda, dan kedua jalan itu bersinggungan. Jika tidak aku, maka kau yang akan mati, maka santai saja." Pria tua begitu tenang, hal ini membuat Zhou Fan ragu.
Apakah ada hal lain yang telah dia lewatkan, atau di sekitar mereka ada pasukan yang bersiap siaga. Namun itu tidak mungkin, karena sebelum menyerang dia sendiri telah memastikan.
Zhou Fan mengeluarkan tombak, dia tak mau lagi ragu. Dengan mengukuhkan pikiran dia mulai bersiap menyerang.
Pria tua mengamati dengan tenang, sikap yang begitu tenang inilah yang membuat Zhou Fan ragu. Baginya, menghadapi seorang yang sedang emosi sepuluh kali lebih baik dibandingkan menghadapi seorang yang sangat tenang.
Hyat!
Zhou Fan melesat maju dengan menodongkan tombak, tapi belum juga tombak mengenai lawan, sebuah tombak menghalau.
"Senjata kita sama, tombak. Memang tombak adalah yang paling efisien dalam hal menyerang ataupun bertahan." Pria tua menarik tombaknya, kemudian melancarkan serangan sambil melompat.
Prang!
Namun serangan itu dapat ditepis dengan mudah oleh Zhou Fan. Sambil bertahan Zhou Fan mengangkat kaki kanannya, melakukan tendangan sabit.
Swosh...
Pria tua menarik perut, tangannya menebaskan tombak yang dapat dihindari langsung oleh Zhou Fan.
"Keluarkan teknik mu, atau kau tak akan bisa bertahan." Pria tua mulai menyerang dengan menggunakan teknik bertarung andalannya.
Zhou Fan mendengus, dia kemudian memperagakan teknik tombak angin, tapi hanya gerakan, tak ada pusaran tornado yang tercipta di sekelilingnya.
Prang... Trang!
Pria tua melompat menjauh, matanya tak berhenti menelisik gerakan yang sebelumnya diperagakan oleh Zhou Fan. "Apa yang kau gunakan adalah teknik 'itu'?"
Zhou Fan menyipitkan mata, dia tak mengerti dengan kata 'itu' yang dimaksud. Dia hanya menggunakan teknik tombak angin, apakah itu yang dimaksud pria tua.
Pria tua terlihat serius, sepertinya hal ini dikarenakan teknik tombak angin yang diperagakan Zhou Fan dalam pertukaran sebelumnya.
Prang!
Tapi teknik yang dia gunakan tidak membuat tombak itu mudah hancur, meski telah beradu puluhan serangan, tidak ada kerusakan yang terlalu berarti meski goresan tak lagi dapat dihindarkan.
"Ya, ini adalah teknik 'itu'. Aku tak tahu bagaimana kau mempelajarinya, yang jelas dapat bertarung denganmu, aku merasa tenang jika harus tiada." Pria tua tertawa sambil terus menyerang Zhou Fan.
Zhou Fan sekarang benar yakin jika yang dimaksud adalah teknik tombak angin yang dia gunakan.
Blar!
Tombak pria tua mengeluarkan bola merah yang begitu mendekat langsung meledak, ledakan tidak kecil membuat kemah hancur terbakar.
Zhou Fan sepenuhnya bertahan, gerakan pria tua semakin gencar dan setiap serangan selalu mengincar titik vital. Zhou Fan menghalangi setiap serangan dengan tombak di tangan, ketika dia berhasil melepaskan diri, dengan cepat melompat beberapa langkah ke belakang.
"Apa ini adalah bentuk asli teknik 'itu'?" Pria tua memandang dengan mata berbinar, sekarang dia bisa melihat pusaran tornado yang berputar sangat dahsyat bahkan dirinya pun pasti tersedot jika tidak memiliki kemampuan bertahan.
Namun melawan daya tarik tersebut, tidak menutup kemungkinan tubuhnya terluka cukup serius.
"Jurus Tombak Naga!" Zhou Fan tiba tiba keluar dari pusaran, gerakannya sangat cepat, membuat pria tua yang sudah terluka tidak lagi bisa menghindar.
Crush!
Tombak menembus perut, tubuh pria tua langsung terduduk karena dorongan serangan yang sangat kuat.
"Apakah kau murid pertapa tombak sakti?" Pria tua di sela nafasnya yang sudah tersengal bertanya kepada Zhou Fan.
"Jurus 'itu', hanya dia yang memilikinya." Pria tua kembali berkata.
Apakah Kakek Zen Yoan yang dimaksud,apakah benar identitas sebenarnya adalah seorang pertapa tombak sakti?
Pertanyaan itu berputar di kepala Zhou Fan, identitas Zen Yoan yang dia ketahui hanyalah seorang pengemis dengan kultivasi tinggi, siapa sangka jika kakek lusuh itu adalah seorang pertapa tombak sakti.
Zhou Fan memang tidak tahu seberapa kuat Zen Yoan, hanya saja setiap orang yang memiliki julukan pertapa merupakan tokoh besar yang sudah tidak lagi aktif dalam urusan duniawi.
"Hem... Mungkin bisa dikatakan jika aku muridnya." Zhou Fan mengelus dagu, tidak salah jika dia menganggap Zen Yoan sebagai guru, karena baginya setiap orang yang membantunya meningkatkan kekuatan adalah guru.
"Haih... Dunia memang kecil, aku mati di tangan murid seorang yang mengajari ku teknik tombak. Saat itu aku tak mampu membuatnya menurunkan kemampuannya, itu tidak lain karena aku tidak memiliki bakat yang begitu bagus." Pria tua tersenyum kecut.
"Sekarang aku tak mempunyai utang budi kepada pangeran pertama, dia telah memberikan banyak sekali sumberdaya untuk membantuku menerobos tingkatan petarung suci. Kematian ini, aku tak akan menyesal."
"Oh, aku baru ingat. Arak yang kau minum, mungkin akan memberikan kejutan. Anggap saja hadiah dariku." Tepat setelah berkata, pria tua menghembuskan nafas terakhirnya, wajahnya tersenyum, tak ada lagi beban yang ditanggungnya.
Zhou Fan menyipitkan mata, dia tak tahu dengan maksud perkataan pria tua. Kejutan, apa yang dimaksud kejutan, apakah akan ada suatu yang baik akan terjadi kepadanya?
Zhou Fan berdiri, menyimpan tombak dan berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, dia merasakan tubuhnya terbakar.
"Ada apa dengan tubuhku?" Zhou Fan merasakan rasa panas yang luar biasa, tubuhnya terasa kaku bahkan pandangan mulai berkunang-kunang.
Zhou Fan mengedarkan tenaga dalam untuk mengurangi perasaan terbakar yang dia rasakan, tapi apa yang dia lakukan sia-sia.
Perlahan ingatan mengenai perasaan semacam ini berputar di kepalanya, panas yang begitu membakar, dan tubuh terasa tegang, sungguh ini tak asing dalam ingatannya.
"Sial!"