Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 157 : Monster Gurun


Setelah peristiwa pembantaian keluarga Chen yang dilakukan di depan mata penduduk, hanya dalam satu hari kabar itu sudah mencakup seluruh Kota Dianlan.


Bahkan keberadaan tuan muda keluarga chen sampai sekarang tidak diketahui. Banyak yang menyimpulkan bahwa Chen Beixian tiada di bunuh oleh pembunuh leluhur keluarga Chen. Tebakan mereka tidak salah, tapi kurang tepat.


Chen Beixian memang telah tiada, tapi bukan di tangan Zhou Fan, melainkan di tangan Miao Ling yang sangat puas kala membalas perbuatan pria itu terhadap dirinya.


Namun tak ada yang tahu kenyataan ini, berpikir Zhou Fan yang membunuh Chen Beixian.


Hari demi hari berlalu, tapi sosok Zhou Fan masih menjadi sorotan. Padahal tidak ada yang tahu identitasnya, tapi seluruh penduduk kota tetap membicarakannya. Yang mereka tahu tentang pelaku pembantaian keluarga Chen adalah seorang pria muda berparas tampan rupawan, menggunakan pedang berwarna merah gelap serta ditemani seekor serigala.


Di tengah ramainya kabar yang beredar tentangnya, Zhou Fan berjalan santai keluar masuk pintu rumah makan untuk mencari informasi tentang keberadaan Klan Sian. Namun, sampai hari ke tujuh ia tak mendapatkan apapun.


"Tuan muda, jujur saja aku pun kurang tahu akan keberadaan Klan Sian. Jika memang benar ada, kemungkinan besar merupakan klan tersembunyi. Jelas kekuatan mereka sangat luar biasa." Zhi Long telah membaca begitu banyak kitab yang tebal, semua berisi sejarah yang ada di daratan Tian Hu.


"Saudara Zhou, apakah tetua Louxi memang berasal dari klan Sian?" Miao Ling yang lebih lama mengenal tetua Louxi tentu sulit untuk percaya bahwa tetua perguruan bulan sejati itu berasal dari daratan Tian Hu.


"Tidak mungkin salah, aku telah memastikannya dan nama asli guru adalah Sian Lou." Zhou Fan menunjukkan kertas yang ia dapatkan dari Xi Yue.


Melihat hal ini tidak ada lagi alasan bagi Miao Ling tak percaya, sangat jelas jika dalam surat itu menunjukkan tentang silsilah keluarga Tetua Louxi yang ternyata bernama Sian Lou.


Mereka pun kembali meninggalkan kedai, dan untuk kesekian kalinya memasuki kedai. Di sana mereka duduk berlima, sementara Zhou Jim masih setia berada di saku jubah Zhou Fan.


"Di Kota Zi belakangan sangat ramai, banyak sekali petarung yang berkumpul di sana."


"Kau benar, hal itu tidak lain karena gelombang serangan beast akan datang. Banyak sekali petarung yang rela datang demi menjajal kekuatan mereka, ada juga yang ingin mendapatkan imbalan dari tuan kota."


Mata Zhou Fan terbuka sepenuhnya, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya, memandang dua pria yang tengah berbincang ria.


"Namun bagi kita yang hanya petarung senior bintang dua, berpikir pun enggan untuk datang ke sana. Bagi petarung senior bintang tujuh ke atas mungkin merupakan ajang yang tepat untuk mengasah kemampuan. Jika kita pergi, bukan untung malah buntung."


Zhou Fan berdiri dan beralih ke tempat duduk dua pria.


"Dapatkah kalian jelaskan kepadaku tentang gelombang serangan beast?" Tentu saja Zhou Fan tidak sekedar bertanya, juga harus menyisipkan sedikit keuntungan agar mereka mau buka suara.


Melihat uang kertas yang lumayan di atas meja, mata mereka berubah berbinar, tentu saja dengan senang hati menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang gelombang serangan beast yang akan terjadi di Kota Zi.


"Gelombang serangan beast ini terjadi setiap lima tahun sekali, tidak ada yang mengetahui jelas mengapa hal ini terjadi, yang jelas ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Bahkan banyak penduduk Kota Zi yang lebih memilih pergi ke kota lain karena khawatir dengan serangan beast."


"Sebaiknya kau jangan pergi ke sana jika kekuatanmu berada di tingkat petarung senior bintang enam ke bawah. Karena menurut catatan beast yang menyerang paling lemah juga tak lebih lemah dari petarung tingkat senior bintang tujuh."


Zhou Fan mangut mangut mendengar penjelasan dua pria ini, kemudian ia kembali ke mejanya. Baru saja ia duduk, Yin Cun berkata. "Aku sudah mendengarnya. Karena aku tak bisa dan sebenarnya juga tak mau, aku tak akan mengikutimu ke Kota Zi."


Kening Zhou Fan mengerut, memandang Yin Cun seolah meminta penjelasan.


"Saudara Zhou, keberadaan kami hanya akan menghambatmu. Oleh karena itu aku dan juga Yin Cun telah memutuskan untuk memulai perjalanan kami sendiri." Bukan Yin Cun yang berkata, melainkan Miao Ling.


Zhou Fan masih tak mengerti, ia sama sekali tidak menganggap mereka adalah beban atau semacamnya. Baginya teman, saudara, keluarga adalah suatu yang paling berharga. Bahkan ia tak akan ragu membantu saat salah satu dari mereka membutuhkannya.


Zhou Fan merasa tak bisa menahan kepergian Yin Cun serta Miao Ling. Mungkin ia hanya bisa mengangkat tangan sambil mengatakan 'sampai jumpa', karena ia tak akan mengatakan 'selamat tinggal', dengan begitu suatu saat nanti mereka akan kembali bertemu.


...


Setelah keluar kedai Zhou Fan telah berpisah dengan Yin Cun dan juga Miao Ling. Tujuan mereka berbeda, ia akan pergi ke Kota Zi sedang mereka hendak menuju Kota Lu.


Namun di sisinya masih setia Dua Kapak Kembar yang tak pernah bosan mengikuti setiap langkah kakinya. Begitupun dengan Zhou Jim yang saat ini masih berada di dalam saku jubah miliknya.


Hari demi hari berlalu dan Zhou Fan telah berada di perbatasan Kota Dianlan dan Kota Zi.


Suasana gurun yang tandus menjadi pemandangan biasa bagi setiap orang yang kerap kali melakukan perjalanan antara dua kota ini. Hal itu juga yang saat ini Zhou Fan rasakan.


"Haih... Mungkin kita akan sampai saat malam tiba." Zhou Fan menselonjorkan kakinya, sementara tubuh bersandar pada dinding kereta kuda.


Sebelumnya ia memutuskan melakukan perjalanan dengan menyewa kerata kuda, tidak berlari seperti biasa. Lumayan untuk menghemat tenaga, pikirnya saat itu.


Ciu San sibuk dengan arak di tangannya, Zhi Long menghitung uang kertas dalam cincin penyimpanan sementara Zhou Jim menggerogoti tulang.


Sssstttt...


Kening Zhou Fan mengerutkan kening merasakan kerata kuda berhenti, dia pun membuka kelambu dan bertanya kepada sang kusir. Namun, sang kusir tidak berada di tempatnya.


Zhou Fan keluar, bertepatan dengan itu kusir muncul menampakkan diri. "Tuan, roda kereta terjebak pasir hisap."


Perkataan pria tua ini sontak membuat Zhou Fan memandang ke arah belakang kereta dan benar saja, roda bagian kanan sedikit amblas oleh pasir hisap.


"Tenanglah paman, aku akan menariknya." Zhou Fan sudah bersiap menarik kereta, tapi baru tangannya menyentuh permukaam kereta sesuatu dari bawah seperti tali menarik kereta.


"Ciu San, Zhi Long, keluar dari kereta!" Tanpa banyak berpikir Zhou Fan berseru, Dua Kapak Kembar pun keluar bersama Zhou Jin yang tak mau ketinggalan.


Tepat setelah mereka keluar, kereta jatuh ke pusat pasir hisap dan ada semacam mulut yang menelan kereta beserta kuda yang terikat di sana.


Cras... Cras... Cras...


Mata Zhou Fan berkedut, memandang lekat pasir hisap tersebut. Namun tak lama, sebuah tali melesat dan hendak mengait kakinya. Beruntung dengan cepat dapat menghindar.


Pria tua nampak ketakutan, wajahnya pucat sepucat-pucatnya.


Zhou Fan pun semakin merasa heran. "Paman apa kau mengetahui apa itu?"


Pria tua itu nampak ragu, tapi dari ekspresi takut itu jelas ada sesuatu yang diketahuinya. "Paman, katakan saja, apa itu?" Zhou Fan melirik ke pusat pasir hisap yang mengeluarkan suara berisik, suara mengunyah kereta serta kuda yang baru saja ditelan.


"I-itu adalah... Mo-monster gurun. Legenda Gurun Terbuang."