
Dua orang saling berhadapan, tapi belum sempat mengeluarkan serangan seorang wanita memakai jubah biru datang dan berdiri di samping Sian Lou.
"Matriark Xue!"
"Dari sekte aku mendengar bahwa ada kekuatan besar yang mengarah ke kediaman Klan Sian Barat. Khawatir akan terjadi suatu yang buruk aku pergi memeriksa, tak kusangka patriark juga ada di sini." Xue Bing Yu--Matriark Sekte Menara Es juga membawa beberapa orangnya, kekuatan mereka tak kurang dari petarung suci.
"Kebetulan hari ini ada pertemuan antar klan, oleh sebab itu aku pun berada di sini. Namun pertemuan berakhir dengan kedatangan mereka," ucap Sian Lou yang nampak akrab dengan Xue Bing Yu.
Mereka berada dalam satu generasi, dari kekuatan pun tak jauh berbeda bahkan bisa dikatakan setara. Meski nampak dari wajah Xue Bing Yu masih berusia empat puluhan, ia sebenarnya sudah berusia satu abad dengan kultivasi petarung dewa bintang delapan.
"Tak kusangka ternyata ada dua kekuatan yang bersembunyi di daratan dewa ini. Namun, aku--Shizi tidak mungkin kalah dari kalian berdua." Sosok berjubah hitam itu adalah Shizi--beast singa bersayap yang telah berevolusi menjadi dewa beast, dapat berubah menjadi manusia.
Sian Lou merasakan aura sosok di hadapannya meningkat pesat, "Matriark Xue, dia tidak lebih lemah dari pada kita. Aku tak pernah mendengar ada sosok sepertinya, entah dari mana asalnya."
Shizi mengumpulkan tenaga dalam, nampak petir mulai berkumpul dan memancarkan aura yang sangat menakutkan. "Rasakan ini!"
Petir membentuk siluet naga, melesat ke tempat Sian Lou dan juga Xue Bing Yu. Keduanya sontak membentuk perisai, menahan serangan naga yang sudah membuka mulut seperti akan memangsa mereka.
BLAR!!
Mata Sian Lou berkedut, kekuatan serangan itu lebih kuat darinya. Dia semakin yakin jika kultivasi sosok berjubah hitam ini berada satu tingkat di atasnya--petarung dewa bintang sembilan.
Shizi melihat serangannya mampu dihadang, ia dengan cepat berkelebat sambil membentuk sebuah tombak dari petir di tangannya.
"Matriark Xue, ...."
"Aku tahu, aku akan menahannya dengan teknik aura dewi es." Xue Bing Yu menyatukan tangan, dalam satu kedipan mata energi dingin meluap dari tubuhnya, serpihan es menyebar dan memperlambat gerakan Shizi.
Namun tak bertahan lama, dari tubuhnya Shizi mengeluarkan aura dingin yang hampir setara dengan milik Xue Bing Yu. Aura dewi es tidak berhasil menahan.
Tombak Shizi sudah sangat dekat, tak punya banyak pilihan keduanya menyatukan kekuatan dan menahan dengan senjata masing-masing.
Blar!
Ledakan energi terdengar memekakkan. Meski begitu pedang dan juga tongkat telah berhasil menahan tombak petir yang memancarkan aura mencekam.
Sian Lou mundur menjaga jarak, begitupun dengan Xue Bing Yu. "Dia dapat menggunakan energi petir, tapi aura es juga tersimpan dalam dirinya. Sau tubuh dua elemen, itu adalah hal yang tak pernah terjadi."
Jika itu merupakan bawaan teknik bertarung mungkin masih bisa dipikir dengan akal. Tapi sosok berjubah hitam ini jelas bukan merupakan bawaan teknik bertarung, melainkan inti energi dari dalam tubuhnya.
Sian Lou sendiri juga bingung, karena pada dasarnya tubuh manusia tidak bisa menahan dua energi secara bersamaan. Namun yang tidak mereka ketahui adalah, Shizi bukan manusia, dia adalah beast tingkat sembilan yang telah berevolusi menjadi dewa beast. Tubuhnya tentu berbeda dengan tubuh manusia.
Namun kedua belas orang itu nampaknya mengetahui jika Zhou Fan mengincar mereka, sebelum diintai satu persatu mereka memutuskan untuk bertarung bersama.
Zhou Fan berada dalam kepungan dua belas orang, dari wajah sudah terlihat niat ingin menghabisi.
"Serang!" Tanpa banyak kata dua belas orang melesat menyerang, tapi dengan kekuatan petarung suci bintang delapan terlalu awal untuk berhadapan dengan Zhou Fan.
Pedang darah malam keluar menunjukkan tajinya, ketika jarak tersisa beberapa langkah memutar pedang melakukan tebasan. Satu ayunan dua orang terlempar. Mulut memuntahkan darah dan pedang terlepas dari genggaman.
Melihat dua teman terhempas oleh serangan Zhou Fan, sepuluh orang lainnya menjadi siaga. Mereka mengetahui jelas tingkat kekuatan masing-masing, dapat menumbangkan dua orang sekaligus tentu tak bisa diremehkan.
Akan tetapi mereka yang memiliki fisik laksana beast bintang sembilan tak percaya bila akan kalah jika maju bersama. Mereka kembali menyerang, kali ini semakin gencar.
Zhou Fan menahan dengan gampang, tak jarang mendaratkan tebasan dan langsung membuat beberapa orang terlempar. Setelah itu dia tak tinggal diam, melesat memburu dan menghabisi mereka dalam satu kali tebasan.
Dalam waktu singkat tersisa lima orang, kehilangan banyak rekan membuat mereka ragu dapat menang. Jika belasan orang tak sanggup, mungkinkah lima orang dapat mengubah keadaan. Tidak mungkin!
"Tetua, apa yang harus kita lakukan?"
Pria tua yang ditanya juga tak tahu harus apa, ia bahkan tak pernah mengetahui ada sosok seperti Zhou Fan. Dua puluh dari mereka seharusnya dapat menahan dua orang oetarung dewa bintang satu, tentu itu juga telah direncanakan. Namun kemunculan pria muda ini mengacaukan segalanya, bahkan bisa dikatakan kekuatannya melebihi Sian Ying--Penguasa Barat yang menjadi target mereka.
"Kita mundur, kita harus melapor masalah ini dengan patriark." Mendengar kata pria tua, empat orang mengangguk.
"Patriark? Patriark kalian tak akan bisa memberikan saran, lihat di sana!"
Mengikuti ucapan Zhou Fan kelima orang mengalihkan pandangan, melihat tubuh tergeletak tak bergerak pandangan mata menjadi kelam. "Patriark!" Mereka baru saja akan mendekat, tapi Zhou Fan tak membiarkan mereka pergi begitu saja.
"Jika kalian ingin bertemu, aku akan membantu." Setelah itu pedang darah malam mengeluarkan sinar samar yang pekat.
Mereka berlima sontak memasang sikap waspada, menyambut serangan Zhou Fan yang nampak berbahaya. Namun sekali lagi, kekuatan petarung dewa tak bisa ditahan begitu kisah oleh petarung suci. Begitu dua senjata berhadapan, tangan mereka bergetar hebat.
Pria tua menggertakkan gigi, ia tak terima jika harus tiada. Masih banyak keinginan yang belum sempat dia rasakan, menjadikan Klan Ma sebagai klan utama yang menguasai daratan dewa.
Zhou Fan tak mengenal segan, menghabisi satu orang dengan sekali tebasan. Teriakan terdengar menyakitkan, tapi tak mampu menahan laju pedang yang begitu kontan. Tersisa pria tua, nampak kakinya gemetar melihat sembilan belas rekan telah tiada.
"Kau tak bisa membunuhku! Tuanku akan menghabisimu." Berusaha mundur pria tua terus menjauh, tapi Zhou Fan tak mau memberi ampun. Siluet tebasan melesat, melintasi pria tua dan tubuh seketika terbelah menjadi dua.
Bruk!
Darah mengalir membasahi tanah, tapi Zhou Fan masih penasaran dengan kalimat pria tua. Siapa tuan yang dimaksud, apakah ia merupakan dalang di balik semua ini.