
Sampainya di Klan Sian, Zhou Fan melihat gurunya yang tengah bersama dengan beberapa orang lainnya. Ia tak langsung mendekat tapi terlebih dahulu membiarkan mereka selesai dengan urusannya.
Setelah menunggu beberapa lama, Sian Lou yang juga menyadari kedatangan Zhou Fan tak banyak berkata langsung melambaikan tangan.
"Guru, -- "
Sian Lou mengangkat tangan, menahan Zhou Fan untuk bicara. "Ka-kau ... Bagaimana bisa?"
Zhou Fan mengerutkan kening, tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk kepala. Melihat ini Sian Lou merasa ada yang janggal, mata hitam itu memandang menatap dengan begitu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Guru, sepertinya setelah ini goa sutamura tak akan jauh berbeda dengan goa pada umumnya." Zhou Fan merasa bersalah, ia mengalihkan pandangan menghindari tatapan sang guru.
Sementara Sian Lou menautkan alis dengan kening mengerut. "Apa, bagaimana mungkin!"
Sejenak Sian Lou diam, Zhou Fan pun masih diam. "Apakah ini ada hubungannya denganmu?"
Zhou Fan tak bisa mengelak, ia pun menceritakan semuanya kepada Sian Lou. Tapi bukan marah pria tua itu malah tertawa senang sambil menepuk pundak Zhou Fan.
Tentu hal ini membingungkan Zhou Fan, bukan tanggapan seperti ini yang ia bayangkan. Namun ini juga suatu yang baik untuknya karena Sian Lou tidak mempermasalahkannya.
Haih...
"Tahukah kau?" Sian Lou menghela nafas, kembali menyentuh pundak Zhou Fan. "Meski goa sutamura sudah tak lagi berguna, aku ikut senang jika kau dapat memanfaatkannya. Hanya saja aku sedikit sulit untuk percaya jika pedangmu juga ikut menyerap energi dari sana."
Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, pancaran aura yang kuat membuat mata Sian Lou terbuka lebar. "Ini lebih kuat dari tongkat dewa milikku. Kau benar-benar keturunan langit, seolah langit berpihak kepadamu."
Langit tiba-tiba berubah gelap, udara semakin dengan dan angin berhembus kencang. Sian Lou memandang jauh ke atas, seolah menantikan kedatangan sesuatu. "Yang datang pada akhirnya datang, pertarungan yang sesungguhnya akan tiba."
Gumaman Sian Lou membuat Zhou Fan berpikir, tapi dalam benaknya hanya ada satu masalah yang mampu membuat wajah sang guru menjadi serius. Serangan dewa beast!
Dari arah selatan, sesosok tubuh terbang mendekat. Gumpalan awan masih menutup identitasnya, tapi Sian Lou sudah mengetahui siapa sosok tersebut.
Blar!
Blar!
Dari arah barat dan timur terlihat kembang api yang menghiasi langit sore. Tak lama kemudian dalam jarak yang dekat muncul pula kembang api dengan suara yang keras. "Nampaknya mereka datang dengan jumlah yang banyak."
Tak berlama-lama, Sian Lou menuju ke tempat munculnya pasukan beast. Ketika tiba, ia melihat semua orang telah berkumpul tak terkecuali Xue Bing Yu dan patriark klan lainnya.
"Manusia, pertarungan yang belum selesai, kita lanjutkan sekarang." Shizhi membuka tudung jubahnya, surai coklat yang lebat itu membuat perawakannya semakin sangar.
Shizhi tidak sendiri, di belakangnya ada ribuan beast yang sudah siap bergerak menunggu perintah darinya. Ada belasan beast tingkat sembilan, jumlah yang sangat banyak mengingat di kubu daratan dewa hanya ada enam tidak termasuk Zhou Fan.
"Matriark Xue, ini akan menjadi pertarungan sulit." Sian Lou melirik wanita tua di sampingnya.
Xue Bing Yu tersenyum masam. Ini bukan lagi sulit, tapi hampir mustahil. Dari jumlah dan kekuatan, mereka jauh dari kata seimbang, apakah mungkin daratan dewa dapat dipertahankan.
Di saat semua orang mulai cemas dengan pikiran masing-masing, Zhou Fan fokus dengan beast tingkat sembilan--Beruang mata merah yang menancarkan aura dingin yang nyata. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika ada keinginan terhadap beast elemen es tersebut.
"Aku harus mendapatkannya!" tekad Zhou Fan tak bersuara, tapi sangat jelas dalam pandangannya.
Shizi masih bergeming di tempatnya, tapi tak bertahan lama karena beberapa saat kemudian bersama dengan ribuan beast ia menghunjam ke tempat pasukan daratan dewa. Menanggapi hal ini Sian Lou mengatur pasukan dan ia sendiri menghadang Shizi.
Menurutnya yang harus tahan terlebih dahulu adalah Shizi, selain memiliki kekuatan paling menakutkan juga merupakan pemimpin pasukan beast yang menyerang.
Bang!
Beruang mata merah mundur beberapa langkah, memandang Zhou Fan dengan sorot mata tajam. Sesaat kemudian, dia melesat sambil mengeluarkan cakar.
Trank!
Percikan api nampak jelas ketika pedang darah malam menahan serangan cakar. Tak sampai di sana, serangan beruang mata merah sangat ganas dan tak membiarkan Zhou Fan walau sekedar mengambil nafas.
Namun Zhou Fan tak membutuhkan itu, semakin gencar serangan beast beruang mata merah semakin besar kemungkinan ia mengalahkannya.
Roar!
Raungan terdengar nyaring, dengan itu beast beruang mata merah melompat menghunjam dengan cakar yang tajam. Zhou Fan berkelit, memainkan pedang menahan serangan.
Kekuatan beast beruang mata merah sendiri kurang lebih setara dengan petarung dewa bintang lima, tak jauh berbeda dengan kultivasi Zhou Fan saat ini. Namun, Zhou Fan yang menggunakan pedang darah malam dapat menandingi satu tingkat di atasnya. Tak ayal beruang mata merah perlahan mulai kewalahan dan menjadi brutal.
Zhou Fan mengambil jarak. Bagai anak panah yang ditarik, dia mundur untuk melakukan serangan balik.
Wosh...
Pedang darah malam menghunus ke depan, dengan dorongan tangan menusuk tubuh beruang mata merah.
Roar! Roar!
Suara beruang mata merah terdengar kesakitan ketika pedang darah malam menembus tubuhnya. Bukan menyerah, beast tipe es itu mengeluarkan aura dingin dan berusaha menekan Zhou Fan.
Namun, serangan dingin itu terlalu lemah. Zhou Fan menyebar apinya ke seluruh tubuh, seperti memakai pakaian yang terbuat dari api. Aura dingin sama sekali tak berguna, tak mampu menembus tebalnya api yang menyelimuti tubuhnya.
Zhou Fan mengeratkan genggamannya, menatap seperti mangsa. "Sekarang waktumu untuk mati." Kalimat itu terlontar dengan suara rendah, tapi sangat jelas mengandung hawa membunuh yang pekat.
Tepat setelah itu Zhou Fan mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya, melesat sambil mengeluarkan jurus penebas awan.
Siluet tebasan laksana bulan sabit munculdan langsung menerjang beruang mata merah. Beast itu tidak menghindar, dengan instingnya sebagai pemangsa ia menahan dengan kedua tangannya.
BLAR!!
Namun sangat disayangkan, kekuatan penebas awan yang ini berbeda dengan sebelumnya. Memiliki daya hancur yang lebih kuat lantaran terpengaruh oleh peningkatan pedang darah malam.
Tubuh besar itu menghantam beberapa beast di belakangnya, tergeletak dengan luka di tangan yang sangat parah.
Zhou Fan tersenyum, ukiran tipis itu nampak puas dengan hasil akhir pertarungannya. Tak berlama-lama ia membelah tubuh beast beruang mata merah, mengambil kristal beast elemen es yang kesembilan untuknya.
Senyum tercipta begitu lebar, sekarang tersisa satu kristal beast elemen es yang perlu ia dapatkan. Tapi sepertinya kristal yang kesepuluh tidak akan mudah, tak nampak satupun beast yang merupakan tipe es.
Pandangan mengarah pada Sian Lou--sang guru yang berhadapan dengan sosok berjubah hitam. Dia mengingat jika sosok tersebut merupakan dewa beast, merupakan pemimpin dari pasukan beast.
Meski mendapat bantuan dari matriark sekte menara es, nampak perbedaan jelas yang membuat pertarungan tidak seimbang.
Memperhatikan semakin dalam, Zhou Fan melihat percikan es yang menyebar dari tubuh sosok berjubah hitam. "Apakah dia bertipe es?"
"Tak salah lagi, memang tipe es!"