
Zhou Fan berada di Kota Xinyan untuk beberapa hari, sebenarnya tujuannya adalah menunggu serangan beast selanjutnya. Namun sampai hari kelima tidak ada beast yang datang menyerang.
Mungkin kekalahan terakhir kali membuat para beast itu tidak berani, atau mungkin juga mereka menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
"Tuan muda Zhou, beliau adalah patriark Sekte Hati Surgawi. Pada saat penyerangan beliau masih berada dalam pelatihan tertutup, andai saat itu beliau ikut dalam pertempuran, mungkin tidak perlu memakan banyak korban jiwa." Pria tua yang mengantar Zhou Fan, datang berkunjung dengan seorang pria tua berambut putih.
"Beruntung saat itu ada tuan muda Zhou, jika tidak entah bagaimana akhir yang didapatkan Kota Xinyan." Pria tua berambut putih berkata sambil mengelus jenggot panjangnya. "Dan juga terimakasih karena bersedia bertahan di Kota Xinyan beberapa hari terakhir."
Zhou Fan tersenyum canggung, niat sebenarnya adalah menantikan kedatangan beast tingkat delapan berelemen es. Namun mungkin itu hanya akan menjadi harapan yang tak terkabulkan.
"Senior terlalu sungkan." Zhou Fan membuka pintu lebar, mempersilakan kedua orang itu masuk ke dalam.
Di dalam sudah ada Ni Quero, Shao Mingrui serta Shin yang duduk di kursi ruang tamu. Kedatangan patriark sekte membuat mereka semua berdiri dan memberikan hormat.
Shao Mingrui sebenarnya tidak tahu jika pria tua yang datang adalah patriark, tapi melihat bibinya memberikan penghormatan dia seketika tahu bahwa pria tua itu merupakan pemegang kekuasaan utama Kota Xinyan.
"Tetua Ni, ternyata kamu di sini. Kami mencarimu ke kediaman tapi tidak ketemu, ternyata sudah duluan." Tetua Qie, tetua yang bersama patriark sedikit tidak menyangka Ni Quero juga berada di kediaman tamu kehormatan.
"Tetua Qie, aku ingin menengok keponakanku, karena mereka akan segera melanjutkan perjalanan. Entah kapan bisa bertemu kembali dengannya." Ni Quero tersenyum sambil melirik Shao Mingrui.
Tetua Qie mengangguk, dia sudah tahu jika salah satu di antara mereka adalah keponakan Ni Quero, meski kabar kepergian begitu mendadak.
Patriark juga sedikit terkejut, baru saja dia keluar pelatihan dan bertemu dengan penyelamat kota-nya, tapi sudah akan pergi begitu saja. Namun dia juga tidak bisa menahan kepergian mereka, karena mungkin ada suatu urusan yang harus diselesaikan.
"Kemana kalian akan pergi, mungkin ada yang bisa aku berikan sebagai saran." Patriark sekte berkata sambil melirik Zhou Fan.
"Tidak perlu menyusahkan patriark," ucap Zhou Fan dengan nada rendah, tidak mungkin dia akan mengatakan kemana tujuan mereka, terlebih dia tidak tahu kemana Sekte Hati Surgawi berpihak.
Patriark sekte mengetahui hal itu, dia tidak memaksa, diam adalah pilihan yang tepat.
"Baiklah, dengan adanya patriark, setidaknya jika terjadi serangan beast seperti kemarin tidak akan ada masalah." Zhou Fan bisa mengetahui tingkat kekuatan patriark berada pada tingkatan yang sama dengannya, petarung suci bintang satu.
Perkataan Zhou Fan terdengar santai, tapi itu seolah sebuah belati yang menyayat permukaan hati. Patriark sekte bertanya tanya, sebenarnya berada di tingkat apa pemuda di hadapannya ini, bagaimana bisa mengetahui sampai sejauh mana kekuatannya.
Patriark sekte hanya bisa melihat jika Zhou Fan berada di tingkat petarung senior, tapi sepertinya tidak semudah yang terlihat. Kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya mungkin tidak lebih lemah darinya, mungkin juga lebih kuat.
"Kenapa tidak mengatakan niat kita sebenarnya, mungkin setelah apa yang kau lakukan mereka akan berpihak kepada kita." Shao Mingrui bertanya sambil terus bergerak, sangat disayangkan kesempatan yang ada disiakan begitu saja.
Namun Zhou Fan tidak berbuat tanpa berpikir. "Jika kau mengungkapkan niat kepada mereka, meminta dukungan mereka, hanya sepuluh persen mereka akan menerima, kemungkinan besar mereka akan menolaknya."
Shao Mingrui terdiam mendengar perkataan Zhou Fan, meski dia mengakui apa yang dikatakan sepenuhnya benar. Namun tetap saja membiarkan Sekte Hati Surgawi adalah keputusan yang merugikan.
"Siapa yang berkata akan mengabaikan mereka, kita hanya akan bersikap seolah ini adalah kebetulan, kedepannya pasti akan bertemu kembali dengan mereka. Saat itu mereka masih mengingat kita sebagai penolong Kota Xinyan, akan lebih mudah meminta dukungan di saat seperti itu." Zhou Fan tersenyum menjelaskan rencananya, dia sangat yakin hal itu dapat berhasil.
Shin yang bergerak di samping Shao Mingrui mengangguk setuju. "Yang dikatakan tuan muda Zhou sangat tepat, itu seolah memancing mereka dengan merangsang psikologi. Mereka akan lebih mudah menerima karena kesan mereka terhadap kita cukup baik."
Hem...
Zhou Fan mengangguk, kakinya tak berhenti melangkah. Mereka bertiga bersama dengan Zhou Jim menuju Kota selanjutnya.
"Kota Duan, ini merupakan kekuasaan pangeran pertama. Kita harus berhati hati saat melewati kota." Shao Mingrui berkata sambil mengenakan tudungnya, begitupun Zhou Fan serta Shin.
Zhou Jim berubah ke bentuk kecil, dia masuk ke jubah Zhou Fan laksana anak kucing.
Shao Mingrui awalnya terkejut ketika melihat seekor serigala berubah menjadi anjing merah kecil, sungguh ini adalah kali pertama dia melihat suatu yang di luar pikiran.
Bahkan Shin yang notabene adalah pengawal bayangan yang sudah kenyang akan pengalaman, masih terkejut melihat perubahan Zhou Jim. Ekspresinya sama dengan ekspresi Shao Mingrui yang memandang dengan mata terbuka sempurna.
"Kota ini sedikit lebih tenang dibandingkan kota kota kekuasaan pangeran kedelapan." Zhou Fan mengamati sekitar, jika di kota kota kekuasaan pangeran kedelapan, dia banyak melihat bandit berkeliaran, di Duan dia tidak melihat satupun bandit di sana.
Namun berjalan semakin ke dalam, perubahan nampak nyata. Bukan bandit ataupun perampok, melainkan keadaan penduduk yang lebih mengenaskan, mereka seolah kekurangan makanan, terlihat tubuh kurus yang sungguh tak bertenaga.
"Apa yang terjadi?" Hanya itu yang bisa terucap dalam benaknya.
Kondisi mereka bahkan lebih buruk di bandingkan dengan penduduk di Kota Bei Xian sebelumnya yang merupakan kekuasaan pangeran kedelapan.
Di saat Zhou Fan mengamati, beberapa kereta kuda prajurit kekaisaran datang. "Pajak pajak pajak, waktunya bayar pajak." Salah satu prajurit berkata lantang sambil menabuh sebuah drum.
Penduduk keluar kediaman sambil membawa kantung sebesar kepala orang dewasa, entah apa itu isinya, yang jelas tampak berharga bagi mereka.
Satu persatu kantung diambil prajurit, setelah itu dilemparkan ke dalam kereta. Nampak beberapa tong besar penuh dengan beras juga bahan pangan lainnya.
"Mereka meminta upeti?" Shao Mingrui bergumam.
"Sepertinya mereka mengambil seluruh hasil panen penduduk, membuat seluruh penduduk kota kelaparan dan kekurangan gizi." Itu kesimpulan yang Zhou Fan dapatkan.