
"Pria tua yang melarikan diri, kalian tahu siapa dia?" Zhou Fan bertanya tanpa mengurangi kecepatan berlarinya.
Belasan orang di belakangnya tak langsung merespon karena pertanyaan Zhou Fan begitu tiba tiba, bahkan mereka tak mengira jika jendral di depan akan mengajukan pertanyaan.
"Dia adalah Patriark Klan Yang, salah satu klan yang berada di ibukota." Seorang pria tua berkata sambil menahan nafas, dia terlalu gugup untuk berbicara dengan seorang jendral muda luar biasa.
"Pak tua, kau sepertinya cukup akrab dengannya." Zhou Fan melirik pria tua yang berlari dua langkah di belakangnya.
"Tidak bisa dikatakan akrab, hanya beberapa kali pertemuan kebetulan." Pria tua tersenyum, menampilkan sedikit gigi di balik dinding bibirnya.
Zhou Fan hanya mangut mangut. Saat mengamati situasi dia melihat pria tua ini bertukar beberapa kalimat dengan Patriark Yang, entah apa yang dibicarakan, hal itu sama sekali tidak penting.
Beberapa saat kemudian Zhou Fan mulai mendengar suara pertarungan, dia menahan kakinya, kemudian melompat ke bangunan di depannya.
Dari sana sekitar ratusan meter dia melihat kilatan yang merupakan hasil dari jurus saat bertarung. Kobaran api menyambar bangunan di sekitar, membuat asap membumbung tinggi ke langit.
"Tidak salah lagi, mereka pasti adalah kelompok tiga yang berhadapan dengan pasukan pangeran pertama." Zhou Fan berkata tapi tak bersuara, dia kemudian melirik ke bawah. "Mereka ada di depan, lima ratus meter dari tempat kita."
Setelah berkata Zhou Fan melesat menuju ke tempat tujuan, di belakangnya mengikuti belasan orang yang sudah siap dengan senjata masing masing di tangan.
Ini?!
Zhou Fan berhenti, membuat semua yang berada di belakangnya spontan berhenti. "Sepertinya ada yang datang!" Sambil berkata dia membalikkan badan, tepat setelah itu dia melompat menghindari sebuah belati yang terbang ke arahnya.
Tak!
Belati menancap di sebuah papan kayu, Zhou Fan memandang dari mana asal belati tersebut, sekilas dia melihat sesosok bayangan pergi dari salah satu atap bangunan.
"Kalian bantu kelompok tiga, aku akan datang setelah mengurus penguntit ini." Baru beberapa detik, Zhou Fan sudah tidak berada di sama, dia pergi mengejar sosok misterius yang berusaha menyerangnya dari belakang.
"Kemana dia?" Zhou Fan mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi tak menemukan sosok yang dia cari.
Namun tak berselang lama dari arah jam satu dia melihat seorang pria tua melompat dari atap ke atap, pergi menghindarinya.
"Ingin lari? Jangan harap!" Zhou Fan melesat cepat, dalam beberapa tarikan nafas dia sudah berada beberapa pangkah di belakang pria tua, tapi ketika jarak hanya tersisa satu langkah, pria tua tiba tiba berhenti.
Zhou Fan juga berhenti, tangannya mencengkram pundak pria tua. Perlahan dia mendekat, memutari pria tua yang tak mau beranjak.
Namun baru satu langkah, pria tua membalikkan badan, mengayunkan belati di tangan. "Mati kau!"
Trank!
Zhou Fan menahan dengan pedang darah malam. Sambil menghadang dia melompat dua langkah ke belakang. "Ternyata itu kau."
Pria tua tersenyum sumbang. "Ya... Ini aku, Song Akoi. Kenapa, tidak adakah kata yang bisa kau katakan?" Tanpa basa basi dia kembali menyerang.
Namun dengan mudah serangan itu dihempaskan. Song Akoi tak menyerah, kembali menyerang dengan belati berwarna hitam, terlihat jelas jika belati itu telah diberi racun.
Zhou Fan tak bodoh dengan hanya menahan, ketika Song Akoi menunjukkan celah, dengan satu ayunan pedang darah malam melempar tubuh tuanya.
"Bajingan!" Song Akoi mengelap sudut bibirnya yang basah karena darah, sambil berdiri dia bertepuk tangan beberapa kali.
"Aku akan lihat, apakah kau mampu menghadapi belasan orang tingkat petarung senior. Kematianmu, aku sangat menantikannya." Bersamaan dengan itu muncul belasan orang yang berdiri mengitari mereka berdua.
Tanpa melihat pun Zhou Fan tahu jika belasan orang itu adalah pasukan pangeran pertama, karena Song Akoi sendiri pernah berkata jika ia mendukung pangeran pertama.
Hem...
Zhou Fan tersenyum mengejek, dia meragukan kepintaran Song Akoi. Tidak mungkin mereka mau diperintah orang yang lebih lemah, lagi pula ini sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka.
Song Akoi mengeluarkan sebuah token. "Bangsat! Jika kalian tetap diam maka kalian akan merasakan akibatnya." belasan orang petarung senior seketika mengeluarkan senjata.
Zhou Fan menyipitkan mata, dia tak tahu token apa yang bisa membuat belasan petarung senior patuh dan mau menuruti perkataan Song Akoi.
"Sial, entah bagaimana cara dia mendapatkan token pangeran pertama, dengan membawa token tersebut ucapannya sama dengan ucapan pangeran pertama."
Belasan orang menggerutu dengan nada mengeluh, sepertinya mereka segan terhadap pangeran pertama, tapi tidak dengan Song Akoi. Namun karena memiliki token pangeran pertama, mereka tidak bisa berkata tidak terhadap apa yang dikatakannya.
Zhou Fan mulai mengerti, ternyata itu adalah token pangeran pertama. Namun dia tidak menyangka jika kedudukan Song Akoi begitu tinggi sampai mendapatkan token tersebut.
"Serang!"
Song Akoi menunjuk dengan belatinya, wajahnya benar benar geram, meski senyum bersinar tak luput dari wajahnya. Mungkin dia berpikir akan dapat menuntaskan dendamnya, dia tidak tahu jika berhadapan dengan Zhou Fan hanya akan ada kematian.
Dunia api!
Zhou Fan mengurung dirinya bersama belawan petarung senior. Untuk Wong Akoi sudah menjauh beberapa saat setelah dia memerintahkan untuk menyerang.
"Api ini... Akh, panas!" Beberapa orang berseru dengan terkejut saat merasakan kobaran api melahap tubuh mereka, selain itu ada kubus samar yang mengurung mereka bersama.
Namun itu hanya beberapa saat, karena mereka mulai memasang pelindung di sekujur tubuh mereka.
"Kau orang Kekaisaran Xi?" Salah satu pria tua berkata dengan wajah geram.
Zhou Fan tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak di antara api yang terus berputar mengelilinginya.
"Hem... Sangat arogan! Kau akan merasakan akibat dari meremehkan master tua ini!" Pria tua bersama dengan belasan orang lain menyerang kompak dengan pedang juga tombak.
Zhou Fan melihat belasan orang mendekat dengan cepat mengangkat pedang, kobaran api yang masih agak redup seketika membesar dan terpusat di pedang darah malam.
Teknik Dewa Pedang!
Zhou Fan tak bersuara, dia menerjang sambil mengayunkan pedang menebas lawan. Pedang yang sepenuhnya terselimuti kobaran api itu bergerak liar mengincar setiap orang yang maju menghadang.
Belasan orang tak berkutik di dalam formasi, selain harus mempertahankan pelindung di tubuh, mereka dituntut untuk selalu waspada terhadap serangan pedang yang sangat mematikan.
Kobaran api yang berada di pedang darah malam seolah membentuk tornado, penampilan ini seperti Zhou Fan memegang sebuah cambuk dan menyerang dengan api sebagai cambuknya.
BLAR!
Ketika api itu menebas dan menghantam permukaan tanah, ledakan hebat membuat semua orang menghindar dari jalur, sementara permukaan tanah retak memanjang sepanjang sepuluh meter.
Zhou Fan melirik belasan orang yang berdiri di tepi formasi, mereka seperti anak ayam yang mencoba kabur dari terkaman seekor ular.
Hem...
Membunuhku? Kalian tidak pantas!