
"Tuan muda, apakah keadaan jim sudah lebih baik?"
Zhou Fan yang mendengar pertanyaan Ciu San langsung mengalihkan pandangan ke saku jubahnya, melihat Zhou Jim sudah kembali seperti sebelumnya. "Masih tersisa luka luar yang belum sepenuhnya hilang."
"Chu Tian memang keterlaluan, dia pantas mendapat pelajaran." Ciu San ikut kesal jika mengingat kembali kejadian tersebut.
"Hem... Dia memang pantas mendapatkannya." Zhou Fan tersenyum samar, membuat Ciu San bahkan Zhi Long menyipitkan mata.
"Tuan muda, apakah kau melakukan sesuatu terhadapnya?"
Zhou Fan tak menjawab pertanyaan Zhi Long, menunjukkan sebuah botol di tangannya.
"Racun laba-laba merah!" Mata Zhi Long terbelalak, sementara Ciu San bingung tak tahu apapun.
Heem...
Zhou Fan kembali menyimpan botol itu, "Aku telah begitu baik dengan tak mempermasalahkan beberapa perselisihan dengannya. Namun dia sangat keterlaluan, itu pantas untuknya!"
Di kediaman Klan Chu, Chu Xiang yang baru saja membaringkan Chu Tian melihat tubuh sang putra memerah. Beberapa saat ia berpikir itu hanya hal biasa, tapi begitu Chu Tian bangun ia langsung berteriak kesakitan.
"Arg... !"
"Ayah, ayah!" Sambil memabggil sang ayah, Chu Tian berusaha menggerakan tangan untuk menggaruk tubuhnya. Namun sangat disayangkan, tangannya patah tak bisa digerakkan.
Chu Xiang melihat putra sulungnya dengan tidak tega, tanpa panjang lebar mengeluarkan pill pemulihan dan memasukkannya ke dalam mulut Chu Tian.
Namun yang terjadi diluar perkiraan, mulut Chu Tian mengeluarkan busa dan mata tiba-tiba melotot seperti orang kerasukan. Tak ayal hal ini membuat Chu Xiang panik bukan kepalang. "Tian'er, apa yang terjadi terhadapmu?" Sambil menepuk pipi sang putra dia terus memanggil nama Chu Tian.
Dia semakin merasa tidak berguna, ia tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa melihat Chu Tian kesakitan.
Kembali ke tempat Zhou Fan...
"Tuan muda, mungkin saat ini mulutnya mulai keluar busa dan mata melotot merah." Zhi Long tertawa, tak sanggup membayangkan keadaan Chu Tian saat ini.
Sementara Zhou Fan tersenyum dingin, "Jika dia memiliki cukup keberuntungan, mungkin dia mampu bertahan."
Satu hari berlalu, Zhou Fan kini telah berada di wilayah inti Kota Huang. Istana Kekaisaran berdiri menjulang di depan mata, menara laksana kastil sangat tinggi dijadikan sebagai tempat memantau.
Tujuan Zhou Fan saat ini adalah memasuki istana dan bertemu dengan perdana menteri. Sebelum ini Huo Yu yang tak sengaja mendengar bahwa Zhou Fan mencari keberadaan Klan Sian memberitahu jika perdana menteri kekaisaran memiliki marga Sian di depan namanya. Memberinya tanda pengenal yang mungkin dapat membantu untuk bertemu dengan perdana menteri.
Namun memasuki gerbang istana tidak semudah yang ia kira. "Tuan, maafkan aku. Tapi peraturan istana mengatakan tak satupun orang dapat masuk kecuali dengan undangan. Apakah tuan sekalian memilikinya?"
"Aku memiliki tanda pengenal, mungkin dapat menjadi pertimbangan." Zhou Fan menunjukkan tanda pengenal yang diberikan Huo Yu kepadanya, tapi penjaga enggan memeriksa dan tetap pada pendiriannya untuk tak mengijinkan Zhou Fan masuk ke dalam.
Zhou Fan menarik kembali tangannya, menyimpan tanda pengenal bertuliskan gedung alkemis. Perlahan ia membalikkan badan, menelisik tembok tinggi menjulang. Lewat atas juga pasti akan ketahuan, banyak penjaga yang berkeliling di sana.
Beberapa saat berlalu, seorang wanita paruh baya berjalan hendak memasuki istana. Spontan Zhou Fan menahannya, "Tunggu dulu nyonya,"
Wanita paruh baya membalikkan badan, melihat tiga pria yang berdiri dengan pakaian serba hitam. Dia sedikit waspada, sampai Zhou Fan berkata. "Nyonya, tunggu sebentar. Bantu kami masuk ke dalam istana."
"Kalian siapa?" Pertanyaan itu sontak membuat Zhou Fan kembali mengeluarkan tanda pengenal gedung alkemis.
"Kami ingin bertemu dengan perdana menteri, ada beberapa hal penting yang harus kami sampaikan." Mendengar perkataan Zhou Fan wanita paruh baya berpikir sejenak, kemudian menggaruk pelipisnya seolah berada dalam situasi membingungkan.
Zhou Fan dengan cepat menggelengkan kepala, "Mungkin, lebih tepatnya tanda pengenal itu berasal dari Ketua Huo."
Wanita paruh baya seketika membalikkan tanda pengenal, melihat nama Huo Yu di sana. Mata sedikit melebar, tak menyangka jika benar-benar berasal dari Ketua Huo.
Hem...
"Kenapa kalian tidak menunjukkan tanda pengenal ini kepada penjaga, jika mereka mengetahui tanda pengenal berasal dari gedung alkemis pasti akan langsung dibukakan gerbang." Wanita patuh baya menyerahkan tanda pengenal kepada Zhou Fan.
Zhou Fan menerima tanda pengenal, lalu menyimpannya dalam cincin penyimpanan. "Mereka bahkan enggan untuk memeriksa, tanpa panjang lebar langsung mengusir orang."
Mata wanita paruh baya menjadi tajam, kemudian berbalik dan memanggil penjaga. "Kalian, kesini!" Dua penjaga langsung meninggalkan pos penjagaan, datang ke hadapan wanita paruh baya.
Zhou Fan terkejut dengan hal ini, ternyata wanita paruh baya memiliki identitas yang tinggi. Tapi tak tahu apa latar belakangnya sampai penjaga istana begitu patuh kepadanya.
"Apa tugas kalian?" tanya wanita paruh baya yang lebih terlihat seperti menginterogasi.
Dua penjaga saling pandang, merasa sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. "Berjaga, tugas kami adalah berjaga." Dengan sedikit ragu mereka menjawab, bahkan saat menjawab mata seolah enggan untuk terangkat.
Wanita paruh baya mengetuk kaki, terdengar seperti tirani. "Kalian mengetahui ada yang datang bukannya memeriksa tanda pengenal mereka malah mengusir tanpa alasan yang jelas. Apakah begini tugas kalian?!"
Dua penjaga melirik ke belakang wanita paruh baya, mendapati tiga pria yang sebelumnya meminta dibukakan gerbang. "Namun mereka tidak memiliki kartu undangan ataupun surat khusus bagi tamu istana, Selir Yue."
Zhou Fan mengedutkan mata, lebih terkejut mengatahui jika wanita paruh baya itu merupakan selir istana.
Selir Yue tak menerima alasan dua penjaga, memberi peringatan kepada mereka. "Jika ada kejadian seperti ini lagi, aku sendiri yang akan turun tangan. Kembali ke tempat!"
Selir Yue kemudian membalikkan badan, Zhou Fan menyatukan tangan memberi hormat kepada Selir Yue. "Maafkan kami yang tak mengenali Selir Yue."
"Bukan masalah, bukankah kalian ingin bertemu dengan perdana menteri. Aku akan menyuruh dayang untuk mengantar." Setelah berkata Selir Yue membawa Zhou Fan serta Dua Kapak Kembar masuk ke dalam istana, memanggil dayang untuk menunjukkan jalan.
"Terima kasih, Selir Yue." Zhou Fan kembali memberikan penghormatan, kemudian mengikuti dayang yang akan membawa mereka menuju ke kediaman perdana menteri.
Beberapa tikungan telah dilewati, tapi memang luas istana Kekaisaran Han sangat luar biasa. Pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mengenal istana ini dengan baik.
"Tuan, kediaman perdana menteri berada di depan. Dayang ini ijin pamit hendak melaksanakan kewajibannya." Zhou Fan mengangguk, berjalan masuk halaman kediaman perdana menteri.
Namun baru satu langkah, suara desingan pedang membuat mata terbuka lebar.
Wosh...
Seorang pria tua melesat, menyerang dengan pedang di tangannya.
Zhou Fan memiliki kepekaan yang tinggi, menyadari sebuah serangan mengancam keselamatannya. Tanpa basa-basi mengeluarkan pedang, menahan serangan yang mungkin saja memisahkan kepala.
"Siapa kalian, wajah kalian sangat asing. Aku tak pernah melihat kalian." Pria tua itu tak lain adalah perdana menteri, dia merupakan petarung suci bintang tujuh.
"Perdana menteri, kami datang karena sebuah urusan." Zhou Fan menunjukkan gulungan yang merupakan silsilah keturunan Klan Sian.
Mata perdana menteri seketika berubah, memancarkan ketidaksukaan. Melihat ini Zhou Fan tersenyum. Tidak salah lagi, perdana menteri memang memiliki hubungan dengan Klan Sian.