
Satu batang dupa telah habis terbakar, kini saatnya turnamen antar klan kembali berjalan. Juri naik ke atas arena, kedua tangan terlipat di punggung, ia nampak begitu berwibawa.
"Kedua perwakilan, silakan naik ke atas arena." Mendengar ucapan sang pengadil pertandingan, Zhou Fan menyimpan kalung di tangannya ke dalam cincin penyimpanan. Dengan langkah kaki pelan ia mulai melangkah ke atas arena pertarungan.
Dari tangga lain, Jing Tian berjalan begitu percaya diri. Tuan muda keluarga Jing itu bahkan telah menggenggam erat senjatanya.
"Kau harus menang bocah!" teriakan Heng Biyen terdengar jelas di telinga semua orang. Namun pria tua itu tak peduli, ia sudah mengeluarkan harga yang teramat besar, sangat rugi jika tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkan.
"Menangkan pertarungan ini saudara Zhou." Seruan dari bawah arena sekali lagi menarik perhatian semua orang, dia adalah Xuan Yu--tuan muda keluarga Xuan.
Hem...
"Sangat disayangkan, mereka menaruh harapan pada orang yang salah." Jing Tian tersenyum mencibir, kepalanya menggeleng seolah meremehkan lawannya.
Zhou Fan menarik sedikit sudut bibirnya, "Setidaknya aku memiliki beberapa pendukung yang dengan rela menyuarakan suaranya."
Ucapan Zhou Fan sangat tajam, padahal hanya beberapa kata, tapi mampu menusuk perasaan Jing Tian. Inilah namanya, sakit tak berdarah.
Hum!
"Aku tak membutuhkan dukungan seperti itu, hal itu hanya dibutuhkan oleh seorang pecundang!" ketus Jing Tian dengan perasaan murka.
Juri masih menunggu, tangannya meraih sebuah kain hitam yang menggantung di pinggangnya. "Apakah kalian siap?" Pertanyaan inilah yang selalu dinantikan oleh para penonton, begitupun dengan kedua perwakilan yang sudah bersiap dengan pedang di tangan mereka.
Mendapati anggukan dari kedua perwakilan, juri melemparkan kain ke atas.
Mata keduanya terus memandang kain hitam yang bergerak seolah melambai kepada mereka. Begitu kain hitam itu menyentuh permukaan lantai arena, Jing Tian langsung mengayunkan pedang mengeluarkan jurus andalan--Pedang Pembalik.
Zhou Fan menarik sebelah kakinya ke belakang, memutar pedang perlahan. "Penebas awan!" ucapnya pelan.
Dua jurus bergerak begitu cepat, dan ketika dua jurus jitu bertemu kedalam dahsyat terdengar.
BLAR!
Lantai arena kembali bergetar, bahkan lebih terasa dibandingkan dengan yang terjadi sebelumnya.
Kedua perwakilan tetap bergeming di tempat, seolah jurus tadi bukan apa-apa bagi mereka.
Zhou Fan melesat, melakukan tebasan diagonal. Melihat hal ini Jing Tian mendorong pedangnya, ia sangat yakin bahwa pedang rank mitick adalah kualitas terbaik.
Prang!
Serangan dapat dipatahkan, tapi jangan berpikir itu adalah akhir dari serangan. Karena tepat sesudahnya, Zhou Fan memutar pedangnya, melakukan tebasan dengan kedua tangan.
Jing Tian melebarkan mata, tapi hanya bertahan sekilas. Dengan cepat tuan muda keluarga Jing itu menarik tubuhnya ke belakang, sementara pedang menangkis serangan.
Melihat sekali lagi serangan tak berhasil, Zhou Fan mundur untuk mengatur tempo. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Jing Tian untuk menerapkan teknik rahasia, sebuah teknik yang menjadi andalannya.
Zhou Fan menyerang, tapi Jing Tian menghindar. Empat lima tebasan dapat dengan mudah tuan muda keluarga Jing itu hindari.
Senyum percaya diri terukir indah di antara bibirnya, ia sangat yakin Zhou Fan tak mampu memecah alur teknik miliknya, bahkan ia berpikir Zhou Fan tak menyadari ini adalah sebuah teknik bertarung.
Hem...
Sangat disayangkan, rencana yang dia pikir sempurna. Pada akhirnya hanya ampas di mata Zhou Fan. Sejak pertarungan Jing Tian di babak empat besar, ia sudah mengetahui bagaimana cara kerja teknik tersebut.
Tidak disangka Jing Tian menerapkan teknik ini kepadanya. Namun untuk melambungkan harapan sang lawan, ia mengikuti alur permainan dengan patuh.
Penonton di bawah arena merasa akrab dengan situasi pertarungan.
"Apa yang dilakukan Jing Tian sangat mirip dengan pertarungannya di babak empat besar. Mungkinkah dia akan menang seperti pertarungan tersebut?"
"Lihat dari ekspresinya, dia nampak terdesak, tapi begitu tenang. Aku yakin Jing Tian yang akan menang."
Beberapa penonton saling menerka, mereka berpikir Zhou Fan tidak jauh berbeda dengan Zhuge Liang yang telah masuk dalam jebakan Jing Tian.
"Hem... Aku yakin kau tak akan bertahan lebih lama, sebentar lagi aku akan mengalahkanmu. Namun sebelum itu aku akan membuatmu babak belur, hingga kau menyesal karena telah merebut calon istriku." Jing Tian membatin dengan seringai tajam, ia mulai menghitung mundur karena menilai serangan Zhou Fan perlahan melemah.
Beberapa waktu berselang dan Jing Tian telah mengeratkan pedang. "Sekarang!" Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu melakukan gerakan kejut, menebas dengan kuat.
Mati kau!
Di saat Jing Tian telah membayangkan kemenangan, perangnya di tahan. Dentingan keras terdengar lantang, membuat matanya terbuka lebar.
"Apa! Bagaimana mungkin?!" Ekspresinya masih terkejut.
Zhou Fan membalas dengan seringai, pedang darah malam pun menunjukkan ketajamannya.
"Celaka!" batin Jing Tian sembari mengambil langkah mundur secepat mungkin. Namun naas, gerakannya tidak secepat tebasan pedang darah malam.
Crues...
Sayatan diagonal terpampang nyata di tubuh bagian depan Jing Tian, darah mengalir perlahan, warna merah itu begitu kental.
Jing Tian meraba dada sampai ke perut, bekas sayatan ini terasa menyakitkan. Akan tetapi dibandingkan dengan rasa malu, sakit yang dirasakan tidaklah seberapa.
"Zhou Fan!" Jing Tian menggeram marah, tubuhnya menegang dengan mata memerah.
Zhou Fan bergeming di tempatnya, ia tak peduli apakah lawannya ini menyimpan dendam kepadanya. Yang terpenting baginya adalah mendapatkan tempat pertama dan melanjutkan petualangan mencari empat kristal yang tersisa.
"Kau akan menyesalinya, aku pastikan itu!" Jing Tian menghantamkan pedang ke lantai arena. Bara api berkobar menyelimuti perangnya.
Mata semua orang terbelalak, "Jing Tian mampu mengendalikan api, sungguh kemampuan yang langka. Potensinya sungguh luar biasa."
"Pencapaian pedang Jing Tian sangatlah tinggi, aku tidak mengira dia akan menyembunyikan kemampuannya begitu dalam." Xuan Yu membatin sambil menantikan pertarungan yang menurutnya akan berjalan seru.
Zhou Fan hanya memandang datar, bukankah hanya api. Ia juga bisa melakukannya. Tepat setelah itu pedang darah malam terselimuti api yang sangat ganas, bahkan membentuk sebuah pusaran.
Sekali lagi mata semua orang terbuka lebar.
"Dewa! Dia bukan manusia!"
"Itu jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan Jing Tian. Mereka tidak berada di tingkat yang sama."
Xuan Yu terdiam, ia jatuh sejatuh-jatuhnya. Gelap, pandangannya tiba-tiba gelap.
"Aku tak menyangka jarak kami begitu jauh. Aku begitu bangga dengan pencapaian ku, tapi yang aku banggakan hanyalah sebuah ampas, sama sekali tidak berarti."
"Xuan Yu, ada apa denganmu?" Heng Biyu yang berada di samping Xuan Yu mengguncang pundak tuan muda Xuan itu, tapi Xuan Yu hanya tertawa dan bergumam tak jelas.
"Ha-haha... Haha... Benar benar konyol!" Xuan Yu menepuk pipinya, menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya.
Ciu San yang memperhatikan kelakuan Xuan Yu tersenyum samar. "Seseorang yang dekat dengan tuan muda harus mempunyai mental sekuat baja, atau buruk akibatnya."