
Zhou Fan kembali ke penginapan, ternyata di sana sudah ada Dua Kapak Kembar dan juga Zhou Jim yang telah menunggu.
"Tuan muda, apakah kita akan berangkat sekarang?" Ciu San yang melihat kedatangan Zhou Fan seketika mendekat dan bertanya.
Zhou Fan memandang langit yang masih terang benderang, kemudian dia mengangguk. "Baiklah, kita berangkat sekarang. Sebaiknya bergegas lantaran kita akan melintasi Hutan Andalas."
Mendengar nama hutan Andalas, kedua saudara itu saling pandang. "Tuan muda, Hutan Andalas adalah kekuasaan Suku Barbar. Tidakkah engkau pernah mendengar kilas cerita di balik hutan tersebut?"
Zhou Fan menggelengkan kepala, "Alasan utama melintasi jalur tersebut adalah untuk mempersingkat waktu, perbandingan jika memilih jalur lain adalah tiga banding satu, bahkan kemungkinan akan memakan waktu satu bulan hanya untuk mencapai wilayah Kekaisaran Han."
"Dan yang harus kalian ketahui, aku pernah masuk ke dalaman Hutan Andalas dan tak menemukan apapun. Mungkin kabar mengenai Suku Barbar tidak sepenuhnya benar," tambah Zhou Fan kepada Dua Kapak Kembar.
"Jika kalian ragu untuk mengikutiku, aku tak akan memaksa kalian."
Mendengar ini ekspresi dua pria parruh baya itu seketika pucat. "Tuan muda, kami telah bersumpah untuk mengikutimu. Kemanapun engkau berpijak di situlah kami berada."
"Baguslah jika seperti itu," Zhou Fan tak membutuhkan seorang yang tak mau mengambil resiko, ia sangat menghargai keputusan Dua Kapak Kembar yang memutuskan untuk tetap mengikutinya.
...
Zhou Fan menunggang Zhou Jim, sementara Dua Kapak Kembar mengikutinya dari belakang. Mereka terus melesat membelah halang rintang di depan. Tak peduli langit perlahan berubah malam, mereka tetap meneruskan perjalanan.
Beberapa saat berlalu dan mereka berhenti di sebuah sungai.
"Tuan muda, aku akan berburu beast tingkat pertama atau kedua." Ciu San sudah memegang kapaknya, dia telah bersiap mencari makan malam untuk dirinya dan rekan lainnya.
Zhou Fan mengangguk. Sementara Zhi Long memperingatkan sang kakak. "Jangan terlalu jauh, dan jangan terlalu lama."
Ciu San mendengus, kemudian melesat tanpa menjawab peringatan Zhi Long.
Zhou Fan menyiapkan api, sementara Zhi Long mengambil air. Mereka membagi tugas dengan adil. Namun tidak dengan Zhou Jim yang tengkurap sembari menggerogoti kristal beast.
Meski bukan kristal beast tingkat tinggi, setidaknya itu akan bermanfaat bagi Zhou Jim.
Tak lama Ciu San datang dengan lima ekor rusa bintik putih. Melihat hal ini Zhi Long mendekat. "Bisa mendapatkan lima ekor beast tingkat satu, keberuntungan yang luar biasa."
Beast tingkat satu memang tidak sulit untuk di tangkap, terlebih jika mengingat kultivasi mereka yang berada di tingkat petarung senior. Namun menemukan keberadaan mereka tidak mudah, dapat menangkap lima ekor tentu menunjukkan betapa asrinya Hutan Andalas.
Hal ini tidak mengherankan, karena tidak banyak yang memasuki Hutan Andalas, bahkan dapat dikatakan tidak ada.
Keberadaan Suku Barbar menjadi salah satu alasan utama, mengapa tidak banyak orang yang memasuki wilayah Hutan Andalas. Selain itu posisi hutan yang berada di antara dua kekaisaran, membuat khawatir bila bertemu dengan petarung dari kekaisaran lain.
Hari kian malam dan ketiganya memutuskan untuk beristirahat di sana. Walau tidur tanpa atap, mereka tetap dapat terlelap.
Zhou Jim berjaga, serigala merah itu berdiri dan tak jarang berkeliling seperti seorang prajurit.
Pagi datang dengan cepat, Zhou Fan bangun seraya membuka mata. Bersama dengan itu Ciu San serta Zhi Long bangun dari tidur mereka.
"Tuan muda?" sapa keduanya serempak.
Zhou Fan mengangguk kemudian berjalan menuju sungai dan mambasuh muka. Dua Kapak Kembar tak mau ketinggalan, mereka juga berjalan menuju sungai untuk menyegarkan tubuh dan juga mata.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri hutan yang masih membentang luas di depan.
Uh...
Ciu San berhenti setelah merasakan kakinya menarik sesuatu. Dia mengedarkan pandangannya ke belakang, tapi tak menemukan apapun.
Zhou Fan dan juga Zhi Long ikut berhenti, "Ada apa?" tanya Zhou Fan kepada pria bertubuh gempal tersebut.
Namun yang ditanya malah terlihat bingung, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa menjelaskannya.
Krak!
Tiba tiba terdengar suara kayu retak. Zhou Fan spontan mengedarkan pandangan dan melihat puluhan pisau melesat dengan cepat ke tempatnya berada.
Trank! Trank....
Zhou Fan langsung mengeluar tombak, memutar tangan untuk menghalau puluhan pisau yang menyerang.
Pandangan Zhou Fan mengarah ke sebuah bambu yang menempel di sebuah batang pohon, bambu itulah yang mengeluarkan puluhan pisau.
"Ini beracun," ucapnya sembari mengamati pisau yang tergeletak di atas permukaan hutan.
"Tetap waspada, nampaknya kita masuk ke dalam wilayah pemburuan." Zhou Fan bersiap siaga dengan tombak di tangannya, ia khawatir tak akan sempat jika harus menyimpan kembali senjatanya.
Baru selesai Zhou Fan berkata, puluhan pisau melesat dari arah depan.
Trank!
Dua Kapak Kembar melompat dan langsung membentangkan kapak di depan, menghalau serangan pisau yang terpusat ke mereka. Namun satu pisau terlewat, dan melesat melintasi samping kepalanya.
Shut...
Slab!
Pisau menembus batang pohon dengan gampang, seolah itu adalah daging yang sudah matang.
"Nampaknya kita masuk ke dalam jebakan yang sebenarnya ditujukan untuk beast. Kemungkinan besar ini adalah tempat Suku Barbar menangkap buruan." Perkataan Zhou Fan membuat Ciu San dan juga Zhi Long menyipitkan mata.
Namun keduanya tak bicara, hanya diam dan berjalan ketika Zhou Fan melanjutkan penelusuran.
"Apa ini, apakah ini madu?" Zhi Long memandang cairan emas di tangan kanannya.
Mendengar seruan itu, Zhou Fan dan juga Ciu San menoleh kepada Zhi Long.
Tes...
Sekali lagi cairan berwarna emas itu terjatuh dari atas. Spontan ketiganya menengadahkan kepala, ketika memastikan wajah mereka nampak sedikit berkedut.
Tes...
Cairan emas itu jatuh tepat di wajah Zhou Fan. Manis, itu yang dia rasakan ketika cairan emas perlahan mengalir dan memasuki celah di antara bibirnya.
"Lebah Api!" Mata Zhou Fan terbelalak melihat lebah seukuran kepalan tangan. Sangat besar!
Dan yang lebih mencengangkan adalah jumlah mereka yang mungkin ada sekitar ratusan.
"Tuan muda, lebah itu adalah beast tingkat enam. Jumlah mereka sangat banyak, lebih baik kita menghindar."
Zhou Fan mengangguk, dia perlahan mengambil langkah menjauh. Bukannya dia takut ataupun tak percaya diri. Namun lebih baik tak bertarung karena melanjutkan perjalanan lebih utama baginya.
Namun sepertinya lebah api telah mengetahui keberadaan mereka, dengungan yaang dikeluarkan menjadi tajam dan bergemuruh. Lebah lebah itu berputar dan nampak telah siap untuk menyerang.
"Jangan sampai tertusuk oleh jarumnya, itu bisa membuat otot melemah dan akan kehilangan fungsi. Setelah itu kalian tak akan bisa bergerak." Zhou Fan mengingatkan Dua Kapak Kembar yang telah bersiap dengan kapak di tangan mereka.
Zhou Fan berdecak kesal sembari memasang kuda-kuda.
Hem...
"Ini akan merepotkan!"