Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 38 : Lentera Kehidupan


Zhou Fan memandang ke salah satu ruangan, dia kemudian berjalan ke ruangan itu.


Pemuda itu dapat merasakan aura tersebut memang terpancar dari ruangan yang dia maksud, tapi ketika masuk aura tidak lagi dapat dirasakan, seolah itu lenyap dan menghilang.


Zhou Fan melangkah keluar, dia dapat kembali merasakan aura itu. Hal ini membuat keningnya berkedut.


"Ini aneh, seperti ada sesuatu yang mengacaukan persepsi dalam ruangan ini." Zhou Fan masuk ke dalam ruangan, dia mencari sebenarnya apa yang menyebabkan persepsinya terhalang.


Shao Mingrui hanya mengikuti kemanapun saudaranya melangkah, begitupun dengan Penatua Song.


Semakin masuk ke dalam Zhou Fan merasakan ada suatu yang menariknya, bahkan pemuda itu melemaskan kedua kaki agar bergerak mengikuti kemana dirinya ditarik.


Ternyata itu membawanya ke pojok ruangan, tapi tidak apa apa di sana, membuat Zhou Fan semakin terheran.


Namun Shao Mingrui yang di belakang tiba memekik ketika merasakan kakinya terperosok ke bawah.


Zhou Fan membalikkan tubuhnya, ketika dia melihat ke bawah, dia bisa melihat sebuah gambar, ini seperti sebuah formasi besar yang menutup seluruh lantai ruangan.


Shao Mingrui menarik kakinya, tersisa sebuah lubang agak besar yang mempunyai kedalaman sekitar setengah meter.


"Sebentar," ucap Zhou Fan sambil merentangkan sebelah tangan. Dia menelisik gambar di bawah kakinya.


"Gambar ini sangat jelek, pasti yang membuatnya orang tua berusia senja." Shao Mingrui mendengus sambil menepuk tangan membersihkan debu yang menempel.


Zhou Fan menganti lantai ruangan dari sudut ke sudut, beberapa saat kemudian sebuah senyuman terukir indah di wajahnya.


"Kalian mundur beberapa langkah." Zhou Fan berdiri, dia kemudian menggerakkan tangan mengendalikan udara di sekitarnya.


Debu beterbangan, dan itu sangat menyesakkan.


Uhuk uhuk...


Shao Mingrui menutup hidung, mencoba menghalangi debu masuk ke dalam hidung.


Sesaat setelahnya, lantai ruangan yang terlihat lusuh itu terlihat lebih bersih.


Kini gambar yang terlihat tidak beraturan, menjadi sebuah gambar acak, seolah itu menunggu seseorang untuk mencocokkannya.


Tak...


Zhou Fan memindahkan salah satu kepingan lantai dan memposisikan itu di pojok ruangan. Satu persatu kepingan lantai dia susun berdasarkan naluri.


Shao Mingrui yang melihat gambar itu mulai menampakkan wujudnya, mulai mengikuti apa yang dilakukan Zhou Fan.


Satu persatu kepingan lantai mereka susun berdasarkan gambar yang ada di atasnya.


"Ini adalah kepingan terakhir." Zhou Fan memasang kepingan lantai di tempat yang masih kosong.


"Seekor naga!" Shao Mingrui baru menyadari bahwa gambar ini berwujud naga, bahkan kepalanya pun terlihat nyata.


Zhou Fan hanya diam di tempatnya, dia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun tidak ada yang terjadi, seolah dia melakukan suatu yang sia-sia.


"Bersinar, ini bersinar!" Shao Mingrui saking terkejutnya dia bahkan melompat ketika tepat dibawah kakinya muncul sebercak cahaya.


Cahaya itu bersumber dari mulut naga yang posisinya tepat berada di bawah kaki Shao Mingrui.


Perlahan cahaya itu menyebar, dan menyelimuti seluruh ruangan.


Glak...


Suara dentuman itu membuat Zhou Fan memalingkan pandangan ke pojok ruangan, dan dia melihat sebuah celah yang di sana terdapat sebuah peti.


Pemuda itu dapat kembali merasakan sumber aura yang sebelum ini dia rasakan, dan itu berasal dari peti berwarna putih tersebut. Perlahan dia mendekati peti, rasa penasaran menarik dirinya untuk membuka peti.


Bang!


Sebuah energi yang sangat besar melemparkan Zhou Fan hingga menabrak dinding ruangan, tidak hanya dia, bahkan Penatua Song yang merupakan petarung senior juga ikut terbang karena energi tersebut.


Ketiganya bangkit, dan mendekati peti putih yang sudah terbuka. Di dalamnya ternyata adalah sebuah kertas dan juga jubah hitam yang penuh dengan lubang.


Meski begitu, jubah ini memancarkan sebuah energi yang tidak dapat diremehkan. Jika tidak salah, itu adalah sebuah pusaka.


Zhou Fan memakai jubah hitam itu, dia merasakan tubuhnya akan dapat menahan serangan seorang petarung senior meski hanya diam.


"Ini adalah barang berharga, aku akan menyimpannya." Zhou Fan kemudian meraih kertas yang masih berada di dalam peti.


Hum...


"Lentera Kehidupan?"


Seketika Shao Mingrui merampas kertas di tangan Zhou Fan, dia merasa tidak asing dengan 'Lentera Kehidupan'.


Shao Mingrui masih berusaha mengingat, sambil mengelus dagu dia menelisik kertas di tangannya.


Penatua Song seakan tahu sesuatu, pria tua itu membuka suaranya. "Pangeran, bukankah itu adalah cerita legenda yang ada di perpustakaan istana?"


Shao Mingrui terbelalak mendengar perkataan Penatua Song. Tidak heran jika merasa tidak asing, itu adalah cerita pengantar yang selalu dia dengar kala masih kecil.


"Namun apa maksudnya?" Shao Mingrui masih berusaha mengingat kembali tentang 'Lentera Kehidupan', akan tetapi tidak ada satu pun yang dia ingat.


"Sepertinya kita harus kembali ke istana." Shao Mingrui melirik Zhou Fan.


***


"Kau akan kembali ke istana?" Cheng Liyu menatap suaminya dengan sedikit tidak rela.


"Yah, aku harus kembali karena ada suatu urusan." Shao Mingrui mencoba menjelaskan, bagaimanapun Cheng Liyu tengah mengandung anaknya, dia tidak bisa membuatnya khawatir.


"Aku mengerti." Cheng Liyu kembali ke ruangannya, meninggalkan Shao Mingrui bersama dengan Zhou Fan.


Untuk Penatua Song, pria tua itu telah meninggalkan kediaman pangeran ketiga sejak meninggalkan kediaman Klan Ci. Tujuannya tentu saja adalah untuk mengumpulkan dukungan terhadap Shao Mingrui.


"Kita akan berangkat ketika matahari belum bersinar."


Zhou Fan mengangguk dan meninggalkan ruang tamu untuk menuju ruangannya.


Zhou Jim ketika melihat Zhou Fan kembali, langsung mendekat dengan menunjukkan perutnya, dia mengeluarkan wajah mengiba, membuat Zhou Fan berdecak kesal.


Serigala ini tahunya hanya makan, tidur dan makan lagi. Beruntung serigala itu selalu bisa diandalkan, jika tidak mungkin sudah dia buang.


Zhou Fan mengeluarkan beberapa porong daging, melemparkannya ke pojokan.


"Kau makan saja itu, terlalu malas untuk mengolahnya."


Zhou Jim seolah mengerti, dia langsung menggigit daging mentah yang dilempar.


Tok tok tok...


Zhou Fan melenguh, dia berdiri dengan malas. "Siapa yang datang malam malam begini."


Ketika pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian sedikit terbuka menyapa Zhou Fan sambil menyerahkan sebuah kertas.


Pemuda itu langsung mengambilnya, membaca apa yang ada di dalamnya. Perlahan kerutan di keningnya semakin jelas terlihat, dia kemudian menelisik wanita di hadapannya.


"Tuan, apakah -- "


"Tidak tidak, kau pergilah." Zhou Fan langsung menutup pintu ruangan, tidak lagi peduli dengan keberadaan wanita itu.


Srak...


Zhou Fan merobek kertas menjadi serpihan serpihan kecil, dia menginjak kertas itu dengan kesal. "Beraninya dia mengirim seorang wanita ke ruanganku!"


Dia mengingat kata demi kata yang tertulis di dalam surat, tapi kalimat yang membuatnya kesal adalah Shao Mingrui meragukan kenormalannya.


Melihat serpihan kertas yang masih di lantai, Zhou Fan masih kesal, dia pun menjentikkan jari dan api meloncat membakar kertas itu menjadi abu.


Huh...


"Aku bukanlah seorang perjaka!"