Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 129 : Lagi-lagi Jing Tian


Blar!


Sebuah ledakan tiba-tiba terdengar, membuat mata Zhou Fan terbuka lebar.


Ia melirik Zhou Jim, kemudian mengingat jika Ciu San serta Zhi Long berada di luar. Tanpa berpikir lebih lama ia keluar, menerjang lubang seukuran badan.


Keningnya bertahap mengerut, sekumpulan orang berdiri dengan tangan bertolak pinggang, sementara beberapa orang berhadapan dengan Dua Kapak Kembar.


Zhou Fan memandang batu di bawah kakinya, menyepak dengan kuat.


Batu terbang, melayang menghantam kepala salah seorang pria. Tak diragukan, tubuh pria itu langsung terhempas dan mati tanpa bisa melawan.


Mata Ciu San melebar, mengalihkan pandangan ke belakang. Melihat Zhou Fan telah keluar, pancaran wajahnya nampak senang.


"Tuan muda?" Zhi Long yang mengetajui kedatangan Zhou Fan langsung menjauh dari hadapan kelompok berpakaian hitam.


Ciu San tak ketinggalan, dengan cepat melompat ke belakang.


Wajah pukuhan orang nampak geram, memancarkan api kemarahan. "Beraninya kalian mencuri hasil penggalian kami! Itu adalah kerangka yang kami temukan dan kalian malah mengambilnya saat kami tidak di sini."


Salah seorang berpakaian hitam maju, dengan rambut putih yang tipis ia menyerukan kemarahannya.


"Ada apa, kenapa kalian masih di sini. Di mana kerangka itu?" Seorang pria berpakaian mewah datang dan lansung bertanya kepada pemimpin kelompok.


Zhou Fan merasa suara ini begitu tidak asing, ia memusatkan mata, melihat ke belakang barisan.


Senyum tak berdaya tersemat dalam ekspresinya, sungguh sebuah kebetulan yang langka. Ia sangat mengenal pria ini, seorang pria yang pernah menjadi lawannya.


Pria itu berjalan ke depan, sampai di samping pemimpin kelompok.


"Tuan muda, ada tiga orang yang dengan berani mencuri hasil pencarian. Mereka sangat keterlaluan, tak bisa dibiarkan."


"Siapa yang berani mencari masalah dengan keluarga Jing, sungguh cari mati!" Perlahan ia mengangkat wajahnya, menelisik satu persatu sosok di hadapannya.


Begitu melihat dengan jelas, matanya berkedut. "Ka-kau -- "


Tubuhnya menegang penuh dendam, matanya semakin memerah mengingat pertarungan final di depan ribuan orang.


"Tuan muda Jing, tak ku sangka akan bertemu denganmu di sini. Kita memiliki takdir yang sama." Zhou Fan begitu santai, bahkan masih sempat menyapa.


"Bajingan, aku akan membunuhmu!" Jing Tian menoleh ke puluhan orang di belakangnya, kemudian berkata dengan suara dingin. "Serang mereka!"


Puluhan orang langsung menerjang, menyerang Zhou Fan serta kedua orang lainnya. Zhou Fan mengeluarkan pedang, mengeluarkan teknik dewa pedang.


Api memancar dengan garang, melahap puluhan orang yang datang. Api yang panas membakar pakaian mereka, berjingkrak jingkrak mencoba memadamkannya.


Mata Jing Tian menyorot tajam. Zhou Fan telah merebut calon istrinya, juga telah merebut posisi pertama turnamen antar klan besar, sekarang hendak mengambil kerangka beast yang ia temukan. Sungguh membuat orang geram!


Blar!


Sambil melesat Jing Tian mengeluarkan jurus pedang pembalik. Namun sayang, dengan cepat Zhou Fan berguling menghindar.


Sekali lagi Jing Tian mendengus, memutar pedangnya. Pedang lamanya telah hancur, kini ia menggunakan pedang lain, tentu saja pedang ini tak kalah secara kualitas dari pedang sebelumnya.


Zhou Fan tak hanya diam, dia berkelebat dengan pedang di tangannya.


Jing Tian menempatkan pedang menghalau serangan Zhou Fan. Namun siapa sangka jika pria itu memutar tubuhnya, mendaratkan tebasan yang tak terduga.


Secepat kilat Jing Tian berusaha menghindar, tapi gerakannya terlalu lambat, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Zhou Fan.


Sret...


Sebuah tebasan mendarat di lengan kanannya. Tidak sampai di sana, Zhou Fan mengangkat kaki dan menyepak tubuh Jing Tian sampai terbang terlempar.


Pohon di belakang tumbang, darah keluar dari mulut Jing Tian.


"Fisikmu terlalu buruk, kekuatan petarung suci sama sekali tidak pantas untukmu!"


Mendengar perkataan Zhou Fan, Jing Tian sangat murka. Dia mengeluarkan sebuah botol giok.


Zhou Fan menyipitkan mata, mengamati lebih jauh apa yang akan dilakukan Jing Tian.


Ternyata isi botol itu adalah sebuah pill, warna merah seperti darah dengan atoma yang kuat membuat Zhou Fan menautkan alisnya. "Pill darah marah, pill tingkat sepuluh."


"Pengetahuanmu luas juga, saat pertarungan sebelumnya aku tak bisa menggunakan pill darah marah, tapi saat ini berbeda. Aku dapat melakukan apapun termasuk mengkonsumsi pill darah marah." Tanpa menghitung sampai tiga, Jing Tian menelan pill itu. Dalam waktu singkat pancaran tubuhnya semakin kuat, nampak aura hitam berputar mengelilinginya.


Zhou Fan tersenyum dingin. Mengalahkannya, itu terlalu awal. Kekuatan pill darah marah memang hebat, tapi ingatlah jika ia adalah seorang alkemis. Seluk beluk pill sudah ia hapal dalam kepalanya.


Pill darah marah hanya memiliki satu kelemahan, yakni saat berada di suhu tinggi. Efeknya akan hilang lebih cepat dari pada waktu yang seharusnya. Kebetulan meningkatkan suhu adalah keahliannya.


Sambil memegang erat pedang darah malam, ia mengangkat tangannya tinggi tinggi. Mengeluarkan sebuah formasi samar yang mengurung mereka berdua di dalamnya.


Mata Jing Tian terbelalak, tapi hanya sekilas karena berpikir hanya formasi biasa. Namun tak lama air mukanya berubah, merasakan hawa di sekitar semakin naik.


"Ka-kau ... !" Jing Tian benar-benar terkejut, tidak menduga ternyata dalam pertarungan sebelumnya Zhou Fan belum mengeluarkan semua kemampuannya. Ini semakin membuatnya marah, ia tak terima karena kalah dari seorang yang lebih muda darinya.


"Persetan dengan formasimu, aku akan mengalahkanmu!" Jing Tian yang sudah dalam pengaruh pill darah marah melesat dengan cepat, kecepatannya hampir dua kali lipat. Namun sayang, ia tak mengetahui jika pill darah marah tidak bisa dipakai dalam keadaan suhu tinggi.


Zhouou Fan mengeluarkan teknik dewa pedang, api yang berkobar langsung menyambar bagai lesatan cambuk yang lapar.


Blar!


Blar!


Blar!


Ledakan beruntun terdengar beriringan dengan bercak tebasan di permukaan tanah. Serangan semakin hebat dan Jing Tian menahan dengan segenap kekuatannya. Ia sangat yakin dapat mengalahkan Zhou Fan dengan pill yang telah dikonsumsinya.


Perlahan waktu terus berjalan, tapi Jing Tian masih mencoba mengalahkan lawan. Ia yang menyerang begitu brutal seolah lupa bahwa ia sekarang berada di dalam formasi milik Zhou Fan.


Api yang berkobar membentuk sebuah ombak, menghantam tubuh Jing Tian.


Blar!


Ketika tubuhnya menghantam dinding formasi, tak ada apapun yang terjadi. Formasi begitu kuat, seolah tak ada yang bisa menghancurkannya.


Jing Tian bangkit, mencoba mengalirkan tenaga dalam. Namun keningnya mengerut karena tak bisa merasakan apapun dalam tubuhnya.


Yang tidak ia ketahui adalah, pill darah marah telah habis digunakan. Dan kekurangan pill ini adalah saat efek pill telah habis, maka tenaga dalam akan menjadi pengganti untuk menggantikan asupan energi yang sebelumnya begitu besar.


Ini seperti satu saluran air dipaksa dengan lima pipa sekaligus, tentu saja untuk mengembalikan ke bentuk semula membutuhkan penyesuaian dan itu dengan tenaga dalam seseorang yang mengkonsumsi pill tersebut.


Zhou Fan menarik kembali formasinya, tak membutuhkan banyak usaha untuk mengalahkan seorang seperti Jing Tian. Memang tuan muda keluarga Jing itu merupakan petarung tangguh, tapi ia bertindak tanpa berpikir, itu sangat memudahkannya.


Perlahan kakinya melangkah, mendekati Jing Tian yang telah meringkuk kesakitan karena tenaga dalamnya tersedot hingga kering. Saat ini pria itu hanya orang biasa, bahkan lebih lemah dari pria tua yang renta.


Matanya tak sengaja menangkap sebuah cincin di jari manis Jing Tian. Senyum seketika terpancar, niat licik sudah terencanakan.


Anggap saja ini adalah bayaran karena tak membunuhmu." Zhou Fan tak lupa meringkus pedang rank mitick milik Jing Tian.


Ia tidak membunuhnya karena tanpa kultivasi hidup seorang petarung akan lebih menderita. Dapat dipastikan Jing Tian akan lumpuh dalam waktu lama, bahkan seumur hidupnya. Bayangan kekalahan dua kali juga akan semakin memperburuk mentalnya, itu akan membutuhkan waktu lebih lama.


Apakah Zhou Fan kejam? Biarkan dia menjadi kejam, selama itu tidak ia lakukan terhadap sembarang orang. Dia selalu mengingat satu ucapan. "Kejam terhadap lawan adalah hal wajar."