Legenda Petarung (2)

Legenda Petarung (2)
Chapter... 218 : Peningkatan Tak Terduga


"Guru, kita berada di mana?" Zhou Fan mengedarkan pandangannya, nampak jelas jika mereka tidak lagi berada di wilayah sekitar kediaman Klan Sian Timur.


Sian Lou merapalkan sebuah gerakan, perlahan muncul sebuah segel di bawah permukaan tanah yang membuat suasana menjadi terang.


Goa?


Tidak ini bukan sebuah goa, karena tak ada pintu masuk yang terlihat, seolah mereka berada di dalam rongga batu dan tak ada jalur untuk keluar ataupun masuk.


"Kita masih berada di Kota Cahaya, ini adalah goa sutamura. Kau mungkin merasakan, energi alam di sini jauh lebih pekat dari yang ada di luar. Hal itu dikarenakan tempat ini istimewa, berada di antara garis lintang dan bujur yang mana merupakan sumber dari energi alam."


Sedetik setelah mendengar perkataan Sian Lou, Zhou Fan yang belum menyadari perbedaan tersebut langsung melebarkan mata. Seperti yang dikatakan sang guru, energi alam di sini jauh lebih pekat dibandingkan dengan energi alam daratan dewa.


Eh...


Zhou Fan merasakan pergerakan dari dalam cincin penyimpanannya, karena penasaran ia memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Pedang darah malam melayang seolah ada yang menggerakkan, aura kemerahan terpancar begitu nyata dan seolah ada semburat energi yang masuk ke dalamnya.


"Aku dapat mencapai tingkat setinggi ini juga karena berkultivasi di sini. Andai tak menemukan goa sutamura, aku mungkin masih tertahan di tingkat petarung dewa bintang dua atau bahkan bintang satu."


Zhou Fan seketika mengabaikan pedang darah malam ketika mendengar perkataan sang guru. Sampai bisa berkata demikian, sebenarnya berapa lama ia berada di goa sutamura. Namun belum sempat bertanya Sian Lou sudah membuka ruang, berniat untuk pergi.


"Guru,"


"Kau tetaplah di sini, tingkatkan kekuatanmu. Keluarlah jika kau sudah merasa tak mampu menyerap energi alam yang ada di sini."


"Guru, ...."


Sian Lou benar-benar pergi, meninggalkan Zhou Fan sendirian di dalam goa sutamura. Perhatian Zhou Fan kembali kepada pedang darah malam, tiba-tiba cincin bersinar dan pedang pusaka itu keluar dengan sendirinya.


Pedang berputar, menyerap energi alam yang begitu melimpah.


Tentu Zhou Fan terkejut dengan kejadian ini, sebelumnya pedang darah malam tak pernah bertingkah seperti ini. Bahkan ini adalah pertama kalinya ia tahu pedang darah malam bisa bergerak walau tak ada yang menggerakkannya.


"Apakah ini dipengaruhi oleh energi alam yang melimpah ruah?" Tak ada kesimpulan yang lebih masuk akal dari pada itu, nampaknya keadaan pedang darah malam memang karena berada dalam goa sutamura.


Zhou Fan tak mau kalah, bagaimana mungkin dia membiarkan pedang darah malam menyerap habis energi alam di dalam goa, ia masih membutuhkannya untuk meningkatkan kekuatan.


Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah satu bulan sejak Zhou Fan datang ke goa sutamura. Dalam kurun waktu itu Zhou Fan masih bergeming dalam penyerapan energi alam. Begitupun dengan pedang darah malam yang tak sekalipun mengendurkan cakupan energi alam yang masuk ke dalam bilahnya.


Aura pedang darah malam semakin kuat, sinar merah semakin terang dengan diselimuti cahaya hitam. Benar-benar seperti darah.


Sementara itu, di ruangannya. Sian Lou memang itu dagu sambil berpikir keras. Setelah tak lagi menjadi patriark dan Klan Sian telah kembali menjadi satu, ia lebih bebas dan tenang. Namun, ancaman yang selalu terbatang dari dewa beast masih menjadi suatu hal yang tak boleh diabaikan.


Seluruh orang berkumpul, mulai dari perwakilan klan hingga sekte menara es.


"Meski tak ada tanda-tanda akan ada serangan, kita tetap harus waspada, serangan sebelumnya mereka datang tanpa diduga."


Setelah Patriark Yue, ganti giliran Patriark She dan Sin. Semua pihak ikut terlibat karena ini juga demi kepentingan daratan dewa.


Hari demi hari kembali berlalu, tak terasa enam bulan Zhou Fan berada di dalam goa sutamura. Perbedaan suasana nampak sangat terasa, energi alam di dalam goa kini tak lagi pekat seperti sebelumnya. Bahkan mungkin sudah dapat dikatakan setara dengan yang ada di luar.


Semua karena dia pelaku yang menyerap tanpa ada batas lelah. Mereka adalah Zhou Fan dan pedang darah malam.


Aura pedang darah malam semakin kuat, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sementara Zhou Fan juga merasakan perubahan pada dirinya, terlihat tanda-tanda akan menerobos tingkatan.


Beberapa saat kemudian, pancaran aura Zhou Fan meluap dan menyelimuti tubuhnya. Cahaya emas samar berputar membentuk sebuah tabung yang membatasinya. Di waktu yang sama angin berhembus kencang, tapi semua itu tak mempengaruhi Zhou Fan untuk tetap bergening dalam posisinya.


Pedang darah malam tak lagi menyerap energi alam, mungkin kepekatan sudah tidak menarik lagi baginya. Di jatuh dan menancap cukup dalam.


Zhou Fan perlahan membuka mata, seketika ledakan aura membuat suara yang nyaring. Mata Zhou Fan nampak melebar, terkejut mendapati kekuatannya yang naik secara tak wajar. "Bintang lima?!"


Diliputi pertanyaan besar, Zhou Fan terheran. Akhir-akhir ini keberuntungan seolah selalu betoihak kepadanya, mulai dari altar peninggalan sampai goa sutamura. Dia yang saat itu hanya petarung suci sekarang telah menjadi petarung dewa bintang lima. Mungkin jika ada yang mengetahui hal ini, dapat dipastikan mereka akan sangat iri kepadanya.


Pandangan mengarah ke pedang darah malam, pedang yang menancap di depannya itu memancarkan aura yang berbeda, lebih kuat dari sebelumnya. Raut wajah bahagia semakin jelas tergambar dalam ekspresinya.


Zhou Fan meraih pedang darah malam, perlahan mulai mengayunkannya. Satu kata untuk menjelaskan pedang darah malam. Menakjubkan!


"Eh!"


Zhou Fan baru menyadari energi alam di dalam goa sudah sangat tipis, ia terlalu fokus dengan peningkatannya sehingga tak begitu memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Apakah ini karenaku?" Seolah tak ada hubungannya dengan dirinya, Zhou Fan bergumam tanpa rasa bersalah. Namun tak ada siapapun kecuali dirinya, mungkin memang benar dialah pelakunya. Setelah ini sang guru pasti akan meminta penjelasan karena tempat kultivasinya tak lagi ada, Zhou Fan hanya bisa menerima dan diam jika itu benar-benar terjadi.


"Sudah berbulan-bulan aku di sini, entah apa yang terjadi di luar." Zhou Fan tentu ingat tentang ancaman yang mengancam daratan dewa, dia harus segera keluar karena ini adalah saat baginya menunjukkan kekuatan.


Tak berlama-lama Zhou Fan membuka ruang, meski tak terlalu ahli juga tidak terlalu buruk.


Wosh!


Tubuh lenyap ketika melintasi sebuah cahaya seperti cermin. Zhou Fan muncul di sebuah hutan dekat wilayah Klan Yue. Ia melihat penduduk berkumpul seolah ingin mengungsi, rasa penasaran tak bisa dibendung dan perlahan kaki melangkah ke sana.


"Bukankah kau adalah murid Tetua Sian Lou?" Seorang pria paruh baya sayang menghampiri Zhou Fan karena merasa kenal.


Zhou Fan tak menyangkal membuat pria paruh baya kembali berkata. "Apakah Tetua Sian Lou yang menyuruhmu datang?"


"Tidak, aku tak sengaja melintas, melihat kesibukan Klan Yue mengatur penduduknya."


"Bagaimana kami bisa tak sibuk jika beberapa hari ini kerap ada serangan beast yang terjadi di beberapa lokasi. Mungkin saja serangan besar akan terjadi, lebih baik segera bersiap sebelum terlambat." Pria tua kemudian meninggalkan Zhou Fan untuk menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda.


Zhou Fan masih diam di sana, memandang penduduk yang akan mengungsi. "Aku harus kembali ke Klan Sian!"