
Perkiraan Zhou Fan tidak meleset, dengan adanya dua orang petarung tingkat suci bintang empat pasukan tuan kota mampu menghabisi seluruh beast gelombang kedua.
Beast badak bercula ganda yang merupakan beast tingkat delapan tak mampu berbuat banyak dan harus mengakui kekalahannya di tangan Tuan Kota dan juga Patriark Klan Xie.
Zhou Fan masih berada di atas pohon, Tuan Kota serta Patriark Klan Xie sama sekali tak menyadari keberadaannya padahal jarak dengan mereka mungkin hanya seratus langkah.
Setelah menghabisi beast beast itu, mereka berpikir akan dapat mempunyai waktu untuk memulihkan diri. Namun, raungan serta suara tapak kaki dari arah hutan membuat mereka seketika siaga.
Tuan Kota yang sudah bersiap dengan pedangnya tiba-tiba merasakan kedatangan sebuah pasukan besar. Ia pun menoleh kepada Patriark Klan Xie. "Patriark, apakah engkau juga merasakannya?"
Patriark Xie mengerutkan kening, ia juga merasakan apa yang dirasakan Tuan Kota. Namun bertahap ekspresinya berubah tenang kala melihat seekor burung camar terbang menuju ke tempat mereka.
"Itu pasti tiga klan besar lainnya, jika tidak salah burung camar itu milik Patriark Klan Dou."
Mendengar ucapan Patriark Xie, wajah Tuan Kota berangsur tenang. Tak berselang lama tiga kelompok masing-masing terdiri dari tiga puluhan orang datang. Di antara mereka terdapat tiga pria tau yang memiliki kultivasi tingkat petarung suci bintang empat.
"Tuan Kota, Patriark Xie. Maafkan kami yang terlambat." Patriark Klan Dou mendekat dan berdiri di samping Tuan Kota.
"Ketiga patriark telah datang, tentu merupakan bantuan yang sangat besar. Sekarang tak perlu khawatir dengan serangan beast ini." Tuan Kota melirik sekilas, kemudian kembali fokus dengan gelombang ketiga yang akan segara tiba.
"Patriark Nei, Patriark Gang, kalian berdua bersama Patriark Dou bersiaplah, gelombang beast tahun ini lebih parah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan pada gelombang kedua sudah muncul beast tingkat delapan."
Mendengar perkataan Patriark Xie, ketiga patriark mengedutkan mata. Jika yang dikatakan Patriark Xie memang benar, ini jelas sebuah tanda bahaya.
Roar...
Roar...
Gelombang beast ketiga tiba, masih dalam jumlah ratusan kelompok beast serigala perak menerjang. Bukan hanya beast serigala, ada juga beast kelabang berkaki panjang dan juga beast musang berjenggot.
Dari ratusan beast yang menyerang setidaknya delapan dari mereka merupakan beast tingkat delapan.
Tuan Kota bersama dengan empat patriark mengatur orang-orangnya agar tidak terlalu mendekati beast tingkat delapan, terkhusus bagi mereka yang belum mencapai petarung suci.
Pertarungan berlangsung lama, lebih lama dari pertarungan sebelumnya. Namun karena beast tingkat delapan hanya setara dengan petarung suci bintang tiga, bukan tidak mungkin membantai mereka semua.
Dalam pertarungan ini pasukan Kota Zi kehilangan puluhan orang, sementara ratusan orang terluka. Namun, kemenangan telah menjadi milik mereka.
"Ciu San, ambil mayat beast kelabang ekor panjang. Meski racunnya sangat mematikan, bila dimurnikan akan sangat baik untuk proses penguatan tubuh." Zhou Fan sudah tidak merebahkan dirinya, duduk sambil menggelantungkan kaki.
Ciu San menyipitkan mata, kemudian mengikuti kemana sang tuan muda memandang. "Tuan muda, bagaimana jika ketahuan oleh mereka?"
Mayat kelabang ekor panjang berukuran besar, bahkan lebih besar dari manusia biasa. Letaknya juga di antara pasukan kota. Menjumpai mayat beast tingkat delapan tiba-tiba menghilang, mereka pasti akan curiga.
Zhou Fan menggelengkan kepala. "Tidak akan, mereka harus bersiap menghadapi gelombang keempat. Tak ada waktu untuk mengurusi mayat-mayat beast itu."
Ciu San memperhatikan tuan kota dan beberapa tokoh besar yang ada di sekitarnya. Benar saja, mereka berusaha memulihkan diri sambil bersiap menyambut gelombang selanjutnya.
Ciu San mengendap-endap laksana seorang pencuri, bergerak pelan tapi pasti. Tak butuh waktu lama sampai ia berada di dekat mayat kelabang ekor panjang.
Bust...
Dengan satu kali ayunan tangan kelabang ekor panjang menghilang dari sana, masuk ke dalam cincin penyimpanan.
Ciu San berjalan kembali, kedua mata tak berhenti mengawasi. "Tenang, tenang. Ini bukan mencuri, hanya mengambil tanpa berkata."
Huft...
Setelah memastikan aman, Ciu San melompat ke atas dan kembali ke tempatnya semula. "Selesai tuan muda."
"Bagus, setelah ini kita akan menyaksikan pertarungan gelombang keempat." Zhou Fan menerima cincin pemberian Ciu San, ia akan memurnikan racun beast kelabang ekor panjang setelah pergi dari hutan ini.
Baru saja Zhou Fan memberikan akhiran titik pada ucapannya, kelompok beast kera bertangan tinju melompat dari dahan ke dahan. Mereka dipimpin oleh seekor kera yang ukurannya dua kali lipat dari kera lainnya.
Namun seperti sebelumnya, pasukan Kota Zi mempu menghadapi mereka. Dan gelombang keempat dapat ditaklukkan dengan mudah.
Serangan gelombang terus terjadi sampai gelombang kesembilan pasukan kota mulai kewalahan walau pada akhirnya tetap menang.
Tak terhitung lagi jumlah mayat beast yang berserakan di sana, mulai dari kera bertangan tinju sampai buaya kulit baja, mereka semua tiada di tangan pasukan Kota Zi.
"Apakah masih ada?" tanya Patriark Xie dengan nafas memburu, bukan hanya ia yang sudah mencapai batas, tapi juga ketiga patriark lainnya. Bahkan Tuan Kota pun telah menerima banyak sekali luka di tubuhnya.
Baru saja mereka berkata, kawanan harimau dan juga babi hutan muncul dari kedalaman hutan.
Wajah Tuan Kota nampak buruk, begitupun dengan empat patriark yang berdiri di samping kanan kirinya.
"Sial, empat dari mereka adalah beast tingkat delapan yang setara dengan petarung suci bintang empat!" Patriark Gang berkata dengan nada khawatir.
Selain keberadaan empat beast yang setara dengan petarung suci bintang empat, masih ada beberapa beast tingkat delapan. Tentu ini adalah pertarungan yang sangat sulit mengingat kekuatan mereka telah berkurang sejak pertarungam gelombang sebelumnya.
Mereka mengakui, jika gelombang serangan beast tahun ini jauh lebih mengerikan dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan jika membandingkan dengan serangan belasan tahun silam.
"Tuan muda, jika kau tidak turun tangan mungkin mereka semua akan mati di tangan kawanan beast harimau dan juga beast babi hutan." Ciu San merasa jalan pasukan kota hanya ada kebuntuan, sangat tidak mungkin bagi mereka menaklukkan gelombang kesepuluh.
Zhou Fan masih diam, sementara di bawah, pasukan kota telah menyerang.
Harimau mengaum, menerkam dan mengoyak dengan kukunya yang tajam. Taring yang kokoh juga menjadi senjata paling diandalkan.
Tuan Kota bersama empat patriark menghadapi empat beast harimau yang mempunyai kekuatan setara dengan petarung suci bintang empat.
Dengan senjata di tangan mereka, kelimanya berusaha sekuat tenaga. Membawa masa depan Kota Zi melawan dengan begitu gagah berani. Namun tetap saja, mereka yang telah dalam keadaan terluka tidak mampu menghadapi empat beast yang secara nyata mempunyai fisik sekuat baja.
Zhou Fan mengeluarkan pedang, berdiri di atas dahan. "Memang harus turun tangan,"