Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 98


Kai langsung menangkap Arcane sebelum ia terjatuh dan langsung dengan sigap memakai granat yang ia miliki sebagai pengalihan Magical knight itu.


disisi lain seluruh keluarga kerajaan mematung dan Elisabeth sendiri mengejar Arcane yang di bawa pergi dengan tangis


"tunggu!!! JANGAN BAWA ANAKKU!!! "


ketika akan mengejar Elisabeth dihalangi oleh Magical knight itu dan secara bersamaan rentetan ledakan terjadi di sana.


beberapa saat kemudian.....


"kau kenapa kau menghalangi aku!! "


kata Elisabeth dengan marah.


Magical knight itu hanya berlutut dan menjawab.


"hamba hanya melaksanakan tugas yang mulia"


"tugas?! maka kau harus di bunuh sekarang karena kau meloloskan anak ku yang di bawa pergi!! "


saat ini Elisabeth sangat marah hingga tidak memperdulikan keanggunan seorang ratu.


Magical knight itu hanya bisa diam dan menunduk, namun Elias tiba-tiba menjawab.


"lebih baik kita buru saja dia! "


perkataan Elias mengagetkan seluruh orang yang disana apalagi Elisabeth itu seperti menuangkan minyak kedalam kobaran api.


"apa maksudmu! "


Elias masih tenang dan menjelaskan.


"karena ia memiliki alat peledak itu, bukankah dulu sudah aku tunjukkan kepada kalian bagaimana cara kerja dan bentuknya?.... "


Elias kemudian mulai menjelaskan bahwa Arcane sebenarnya merencanakan semua itu, mulai dari penyerangan istana dan semua kekacauan yang ia buat.


semua itu masuk begitu saja dan semua orang percaya namun hanya Elisabeth dan Selena yang tidak ingin percaya.


"lalu bagaimana kau mendapatkan barang yang sama? " kata Selena.


Elias melirik sebentar dan tersenyum.


"hanyalah menyuruh orang untuk membeli secara diam-diam, itu sangat mudah untukku"


Selena kini menaruh kecurigaan dan mulai berbicara.


"pasti kau telah memiliki sejak lama bukan? "


"apa maksudmu" kata Elias.


"kau memiliki benda itu sebelum kerajaan tau apa itu, bahkan persebarannya di kerajaan.


bukannya kau sebenarnya lebih lama memiliki koneksi? "


kata Selena ketus.


semua orang mulai mengangguk namun ratu Lina membalas.


lagian bukankah lebih parah kakakmu yang malah menjadi salah satu anggota dunia bawah? "


Selena semakin geram dan marah hingga ia ingin mengumpat.


"ka-"


"cukup Selena! "


kata Elisabeth sangat cepat dan tegas hingga memotong perkataan Selena.


"tapi ibu! ....mer-"


Selena dengan geram berbalik dan ingin protes namun sebelum ia bisa melakukannya Selena melihat raut wajah ibunya menjadi diam dan membeku.


Elisabeth kini memasang wajah yang tegas dan dingin dengan suasana hari yang mulai sore dan seluruh tempat hancur membuatnya semakin horor.


raja James melihat itu dan hanya menghela nafas.


"hah...


jangan begitu eli, apa yang dikatakan Elias memang benar"


"benar!? "


Elisabeth langsung memandang suaminya dengan tetapan marah yang membara.


"kau hanya bisa menyalahkan seorang anak karena kelemahannya, dan sekarang ia telah menunjukkan kekuatannya dan kau malah menyalahkan nya?! "


raja James hanya membalas dengan tatapan tajam.


"apa yang harus dilakukan, ia memang lemah bahkan ia tidak bisa melawan seorang anak perempuan seumuran dengannya!? "


"hoh ternyata begitu Ya.... dasar tidak berguna"


Elisabeth berjalan menuju gerbang dan berkata kembali.


"Selena ikut aku ke kampung halaman, disana kau akan di didik langsung oleh kakekmu "


raja James yang mendengar itu langsung naik pitam.


"Elisabeth apa maksudmu!! "


Elisabeth berhenti dan berkata.


"aku menikah Denganmu karena urusan politik benar bukan!!


bahkan sebelum Arcane lahir kau malah mengeluarkan perkataan kotor. dan ketahuilah kebenaran yang selama ini aku cari ketika mengurus informasi dan dokumen kerajaan.


Arcane bertarung tanpa alasan dengan perempuan hasil percobaan dunia bawah, ia bahkan melawan balik namun beberapa orang wanita juga datang untuk mengeroyok Arcane.


berita pasti telah menyebar di seluruh kerajaan entah bagaimana kejadian itu di mulai atau alasannya, hal itu membuat namanya tercoreng.


entah kau akan mendengarkan penjelasan ku atau tidak karena kau tidak pernah mau mendengarkan perkataan ku!? "