
pada dunia Baru ini meski ada yang dinamakan tehnologi namun itu mengarahkan kepada hal yang aneh bagi arcane.
tehnologi di dunia ini seperti hanya di kembangkan untuk mempermudah masyarakat untuk melakukan sesuatu dengan sihir, mana atau sejenisnya.
seperti mana stone yang bisa menyimpan mana namun mereka tidak menciptakan alat untuk efeknya sama, namun mereka malah memasangnya begitu saja dengan tongkat atau lampu di jalanan.
mereka tidak pernah belajar akan sebab dan akibat dari suatu fenomena seperti hujan atau bahkan bagaimana menyalakan api manual.
mereka s lebih berfokus untuk mengembangkan apa yang sudah ada seperti kuda yang selalu berjalan meski dalam keadaan tidur, atau memanaskan tungku untuk melelehkan sejumlah besi.
arcane kini memiliki satu pertanyaan yaitu
"apakah tidak ada yang namanya peneliti di dunia ini? "
_______________________________________________________
arcane kini mengendap-endap bersama gray, ia melakukan ini agar tidak ada yang ketahuan karena ia telah pulang terlalu malam, atau lebih tepatnya pagi.
biasanya ia pulang di waktu tengah malam atau sekitar itu namun ia kini pulang ketika matahari memunculkan sinarnya, arcane tahu itu karena dari kejauhan ia melihat kalau langit mulai menjadi lebih terang ketika melompati beberapa atap untuk jalan pintas.
seperti biasanya ia masuk melewati dapur dan berpisah dengan gray di sana dan langsung menuju kamarnya, arcane melewati semua penjaga dengan sukses dan lancar.
namun ketika ia masuk ke dalam kamarnya dan berbalik seluruh tubuhnya membeku.
"darimana saja kau arcane!! "
itu adalah Elisabeth ibu arcane dengan tatapan marah dan tatapan penuh tanda tanya.
arcane menelan ludah dan mencoba menjelaskan.
"aku tadi ke dap-"
sebelum arcane menyelesaikan perkataannya Elisabeth memotong perkataan arcane.
"seluruh penghuni mencarimu dan tidak menemukanmu.
apakah kau memang dari dapur!? "
"mencari udara segar? "
arcane berusaha mencari alasan namun sepertinya ibunya tidak puas.
"katakan yang sebenarnya"
"hah..... "
arcane menghela nafas dan kini ia merasa sedikit muak, meski ia tadi terkejut namun itu hanya karena ia takut akan 'kegiatan' kecilnya di ketahui dan akhirnya ia menjawab dengan santai.
"aku keluar, Jalan-jalan menikmati suasana malam apakah salah?
lagipula aku bukanlah orang penting di sini, hanya 'gelar' ku saja yang berarti di sini, keduanya"
Elisabeth menghirup nafas dalam-dalam dan berkata.
"gelar yang satunya kau sendiri yang membuatnya bukan?"
"yah, lalu kenapa? bukannya aku di usir atau diasingkan aku malah terus berada disini dan di hina terus menerus"
Elisabeth terdiam sebentar, lalu ia melanjutkan.
"jadi kau lebih ingin di asingkan? "
arcane menggelengkan kepala lalu melewati Elisabeth dan mengambil minuman yang ada di meja kerjanya.
"bukankah itu lebih baik?
seperti menyingkirkan duri dari tubuh"
Elisabeth kini marah dan membalas dengan nada tinggi.
"ARCANE, kerajaan ini masih termasuk baru berjaya.
jadi jika kau diperlakukan seperti itu maka kau bisa menjadi alasan untuk menjadikan kerajaan ini kembali menjadi kerajaan kecil!! "
arcane tidak terpengaruh, ia bahkan membalas dengan santai.
"kalau begitu singkirkan dulu duri yang telah menancap di tubuh sebelum membabat semak belukar.
aku sarankan yang paling mudah seperti keluarga raja terlebih dahulu, dan yang paling menganggu"
arcane meminum air itu dan menuju kamar mandi pintu kamar mandi tak lupa juga ia menaruh barang yang ia bawa di kasur, sebelum masuk arcane mengatakan satu hal.
"satu hal lagi.
lebih baik singkirkan mulai dari yang paling di benci, sudah pasti tidak ada yang memperdulikan dirinya"
Elisabeth kini bingung entah iba atau kesal karena perkataan itu keluar dari mulut anaknya.
"lalu apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? "
"melakukan apapun yang aku mau dan mengalir dengan situasi"
Elisabeth hanya menghela nafas ia kemudian berkata kepada arcane.
"nenekmu tadi datang mencarimu, ia ingin bertemu denganmu"
Elisabeth menunggu jawaban dari arcane namun suara air mengalir terdengar, Elisabeth menggeleng dan berjalan keluar.
ketika ia membuka pintu Elisabeth terkejut karena disana ada seseorang yang sedang berdiri, Elisabeth ingin membungkuk sebagai penghormatan namun di tahan orang itu.
"anda mendengar semuanya? grand qwen? "
itu adalah marina, Elisabeth berkata seperti itu karena ia dapat melihat kalau wajah marina tampak lesu dan sedih.
"tidak, tapi aku paham"
marina tersenyum dan langsung membawa Elisabeth pergi dari kamar itu.
_______________________________________________________
pagi hari seperti biasanya namun kali ini arcane berada di ruang keluarga, bukan lapangan latihan, didepannya ada Elisabeth dan marina.
arcane tampak santai dan mengotak atik kotak besi yang berasal dari toko gavin meskipun Elisabeth memasang wajah kesal sementara marina memasang sedikit wajah kemarahan.
bukan karena apa sebenarnya suasana mereka baik namun ada aturan tidak tertulis di keluarga itu untuk menghadiri undangan makan bersama, khususnya pada yang lebih tua.
namun arcane melanggarnya dengan menyuruh pelayan untuk mengirim dirinya makanan ke kamarnya padahal marina telah menyuruhnya makan bersama, pelayan tahu dan tidak mengirim makanan kepada arcane jadi dia memasak sendiri makanan di dapur dan makan disana sendiri.
itu membuat Elisabeth, selena, dan marina sarapan mereka tertunda hingga seorang pelayan memberi tahu mereka kalau arcane telah selesai sarapan di dapur.
kini mereka sedikit marah kepada arcane dan sebenarnya Elisabeth ingin memarahi dan memberi ceramah kepada arcane namun marina menyuruhnya bersabar.
setelah beberapa saat marina akhirnya berbicara.
"arcane aku akan memanggil guru untuk"
arcane yang dari tadi sedang membongkar kini melirik sebentar neneknya dan membalas.
"kenapa?, untuk apa? "
Elisabeth sedikit terkejut namun masih diam, sementara marina melanjutkan perkataannya.
"aku melihat potensimu, jadi jika berhasil mungkin dimasa depan kau bisa menjadi orang yang berguna"
arcane dengan kesibukannya sendiri menjawab dengan kesal.
"orang berguna huh.....
kalau begitu jangan membuang-buang waktu untuk mengajari orang seperti diriku"
Elisabeth kini tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya..
"apa magsudmu"
arcane pun menjawab dengan enteng.
"yah lebih baik mengajarkan seseorang yang lebih menjanjikan daripada seseorang yang memiliki masadepan yang tidak jelas"
Elisabeth tidak bisa mengendalikan amarahnya lagu dan membentak arcane.
"ARCANE, JAGA BICARAMU!!! ATAU"
mendengar dirinya di bentak arcane juga tersulut emosi dan menatap ibunya dengan tajam.
"atau apa!?
ibu ingin menghukum aku? silakan.
karena sejak dulu kecuali kau yang melahirkan aku, hanya benda yang dinamakan uang lah yang kau berikan"
selesai bicara arcane melanjutkan mengotak atik benda yang di pegangnya, melihat itu marina juga tersulut emosi dan merebut benda itu dan membantingnya ke lantai
"arcane, perhatian jika orang tua berbicara!!! "
arcane terkejut, bukan karena neneknya yang marah namun barangnya yang kini telah makin rusak, ia berdiri dan menunduk untuk melihat benda itu.
tubuhnya kini bergetar dan aura berwarna merah kini keluar dari tubuhnya, ketika berbalik terlihat jelas ekspresi yang familiar dan asing tertuju pada Elisabeth dan marina.
Elisabeth melihat arcane tersentak wajah kekesalan kini hilang sepenuhnya di gantikan dengan tatapan sedu, ia menghampiri arcane dan hendak membelai nya untuk menenangkan arcane.
namun tanpa mengatakan apapun arcane mengambil benda itu dan langsung keluar dari ruangan itu, Elisabeth memanggil arcane namun arcane tetap berjalan dengan cepat dan bahkan membanting pintu.
Elisabeth kini menatap marina yang kini wajahnya diliputi ketidak percaya dan kenyamanan, mereka berdua saling menatap dan seperti telepati mereka tau kalau arcane kini mengeluarkan tatapan yang sama ketika awal mula menjadi arcane yang sekarang.
mereka tau kalau arcane menatap mereka dengan kecewa, namun kini juga diliputi dengan kemarahan.