
arcane duduk dan belum menyentuh makannya karena menunggu Elisabeth untuk menyuruh makan, arcane duduk tenang sementara suasana sangat canggung.
sementara itu Elisabeth dan selena sangat terkejut karena arcane bisa melakukan itu, menggunakan sihir tanpa merusak dan mengangkat makanan seperti itu pastinya membutuhkan kontrol mana yang sangat rumit.
perlu bertahun-tahun untuk melakukannya namun arcane melakukannya dengan santai dan bebas, kini Elisabeth seperti menemukan seekor monster yang tertidur lama dan namun kini mulai menunjukkan taringnya.
"ehem...... mari kita mulai makan saja terlebih dahulu"
mereka bertiga makan dan hanya suara dentingan alat makan dan piring yang ada di sana.
beberapa saat kemudian di pertengahan makan Elisabeth memulai pembicaraan.
"arcane apakah selama ini kau menyembunyikan bakatmu? "
"tidak juga"
"lalu bagaimana kau menjelaskan kejadian hari ini? "
arcane melirik selena dan membuatnya tidak nyaman lalu ia menjawab.
"seseorang melakukan kesalahan jadi aku hanya menghukumnya"
Elisabeth mengerutkan alisnya merasa tidak percaya dengan perkataan arcane.
"lalu bagaimana caramu menjelaskan kekuatanmu tadi siang? "
"tidak ada, itu hanya sihir lemah semua orang bisa menggunakannya"
setelah arcane mengucapkan itu selena menggebrak meja dan berteriak.
"bohong! itu tidak mungkin! aku tidak pernah melihat orang yang menggunakan sihir semudah itu"
arcane tertawa kecil dan menjawab dengan sedikit menghina.
"tidak pernah kau lihat bukan berarti tidak ada"
"KAU"
"cukup!!!"
Elisabeth menghentikan mereka berdua, sebenarnya ia juga penasaran dengan kekuatan arcane yang sesungguhnya apalagi dengan kejadian siang ini.
"arcane jawab Ibu dengan jujur, kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu?! "
dengan ketegasannya Elisabeth kini mulai memperhatikan arcane yang selama ini ia abaikan, meski ia tau kalau saat ini sudah terlambat.
di sisi lain arcane juga sebenarnya mulai tidak menyukai ibunya karena apa yang pertama kali ia rasakan saat datang ke dunia ini adalah perasaan palsu.
"tidak ada yang mau melatih ku jadi aku belajar sendiri, tidak ada yang bertanya padaku jadi aku tidak mengatakannya, tidak ada yang melihatku jadi aku buat mereka melihat"
"ting.... "
Elisabeth menjatuhkan sendok dan Garbunya ia kini tau kalau anaknya telah berubah sedemikian rupa, kini ia tidak mengenali arcane yang sekarang.
arcane segera mempercepat makanannya dan tanpa mengatakan apapun ia langsung pergi kekamar lebih awal meninggalkan selena dan Elisabeth di sana berdua.
melihat itu selena berkata kepada ibunya.
"ibu apakah kau yakin dia adalah saudara ku? "
Elisabeth memandang selena dan mengatakan dengan sedikit sedu.
"ia saudara mu, hanya saja kita yang tidak tau seperti apa dirinya yang sebenarnya"
_______________________________________________________
pagi hari yang mendung hujan terus turun sejak subuh meski tidak terlalu lebat, namu hujan itu tidak membuat arcane dan gray berhenti berlatih.
"cuaca yang bagus untuk praktek"
arcane dapat mengendalikan seluruh elemen namun ia saat ini hanya menggunakan elemen angin karena sama dengan keluarga nya.
namun brown masih tertidur, arcane tidak mengajaknya karena ia masih dalam masa pemulihan dan jika ingin belajar atau berlatih arcane menyuruhnya untuk berlatih di dalam kamarnya.
waktu berlalu mereka menghentikan latihan ketika waktu dirasa siang dan mereka belum sarapan karena latihan saat pagi-pagi buta.
ketika kembali di pintu masuk di sampingnya ada seseorang yang menunggunya ia adalah adiknya selena, kini tidak ada jejak penghinaan atau kesombongan yang ada di matanya kini hanya ada rasa ketakutan dan kecanggungan.
arcane hanya melirik dan masuk begitu saja tanpa memasang ekspresi atau mengatakan apapun, namun gray lah yang mengucapkan perkataan itu.
"putri masuklah, di sini dingin......"
meski hanya basa basi yang di ucapan gray namun itu hanya Kata-kata yang sa'at ini bisa di ucapkan gray karena bagaimana pun selena juga tuannya.
selena menatap gray ia mengangguk dan masuk ke dalam dan gray juga mengikutinya, tampak terlihat kalau wajah selena ingin mengucapkan sesuatu namun kata itu seperti tertahan di tenggorokannya.
selesai berlatih dan memesan makanan arcane langsung menuju kamarnya dan membersihkan diri, ia pun langsung mengeluarkan beberapa peralatan di kamarnya.
diantaranya adalah 3 pedang, 2 tongkat sihir, pena rune, pena lingkaran sihir, gulungan kertas sihir, dan beberapa ramuan lainnya.
arcane kini mulai mempelajari benda sihir dan bagaimana pengoperasiannya, dan tentu saja ia praktek dengan apa yang di ketahui dunia ini, merubah sedikit, memodifikasi, dan membuat beru.
entah itu kebiasaan atau memang insting ilmuan nya yang membuatnya berlaku demikian namun arcane terus menikmati berada di dunia ini meskipun wajahnya selalu datar.
lalu beberapa saat kemudian pintu di ketuk.
"tok..... tok..... tok.... "
"masuk"
ketika pintu di buka bukan pelayan yang datang melainkan itu adalah Elisabeth, ia dengan lembut tersenyum dan menghampiri arcane.
"ibu tidak pernah melihatmu seperti ini, apa yang terjadi padamu? "
arcane tanpa melirik dan melanjutkan pembelajarannya menjawab dengan enteng.
"tidak ada yang berubah, hanya memperlihatkan wajah baru"
"kenapa? "
"supaya tidak ada orang yang mengangguku"
Elisabeth bingung dengan perkataan arcane namun ia memilih untuk menaruh makanan di dekat tempat tidurnya meski jauh itu karena saat ini meja yang di gunakan arcane penuh dengan kertas, buku dan beberapa peralatan lain.
"ibu taruh makanannya di sini, makan sebelum dingin......"
"hmm..... "
arcane hanya mengangguk singkat, itu membuat Ibu sedikit sedih.
"satu hal lagi, makan bersama bulanan dilaksanakan 3 hari lagi, apakah kau ikut? "
"ya"
"baiklah"
Elisabeth langsung pergi sementara arcane masih fokus pada pekerjaannya.
sebelumnya untuk 'makan bersama bulanan' itu adalah momen ketika dalam satu hari raja mempertemukan seluruh keluarga nya untuk makan bersama, meski bukan keluarga besar yang di undang dan hanya untuk para ratu dan anak-anak nya.
acara itu juga di gunakan raja untuk bisa dekat dengan seluruh keluarga nya, ini bukan acara resmi jadi siapapun bisa menolak.
Untuk arcane ia tidak memiliki ingatan yang bagus tentang acara ini karena seluruh keluarga nya terus memojokkan dan menghina dirinya, yah meski ibu dan ayahnya sang raja tidak ikut-ikutan.
namun itu membuat kesan yang buruk untuk nya dan ia sering menolak acara itu kecuali perintah dari raja, kecuali itu ia tidak akan datang yah meski itu akan muncul saat arcane telah melakukan kekacauan besar.
namun kali ini arcane datang karena ingin melihat dan menilai bagaimana keluarganya memperlakukan dirinya, ini menurut penilaiannya sendiri bukan ingatan sebelumnya.
"huh....
yah jika hanya membuang waktuku, aku hanya langsung pergi saja dari sana"