
"jadi itu lah rencana ku, kalian bersedia ikut atau tidak?"
Arcane duduk di mejanya dan mengatakan dengan serius detail rencananya, semua yang mendengarkan adalah orang yang berada di bawah perintah Arcane secara langsung.
disaat itu One eye membalas dengan tajam.
"kenapa kau harus mati? "
Arcane berbalik dan menatap para pekerja dari kantornya, ia pun membalas.
"supaya kerajaan ini tau kalau Arcane Fortis telah mati, dan aku bisa secara bebas melakukan apa yang aku inginkan"
Jack yang sedari tadi diam mulai berbicara.
"namun kenapa harus sekarang? kenapa tidak langsung pergi dengan beberapa pengawal dan pelayan mu"
Arcane masih dalam posisi yang sama menjawab.
"aku telah dinobatkan sebagai pangeran yang paling di benci oleh seluruh kerajaan, menurutmu mengapa aku harus membawa mereka yang sewaktu-waktu akan menusukku dari belakang? "
Gavin kemudian menimpali.
"lalu menyapa kau mengajak kami sebagai bawahan mu!? "
Arcane memutar kepalanya dan menjawab.
"itu hanya kebetulan semata, kalian memiliki apa yang aku inginkan.
dan kalian juga bersedia karena aku memiliki sesuatu yang kalian butuhkan.
sesungguhnya dengan adanya kalian aku biasa mempercepat project yang aku lakukan."
Thin kemudian langsung membalas dengan sinis.
"huh... bukankah kami juga bisa menusukmu dari belakang jika keinginan kami denganmu mulai bertolak belakang!? "
Arcane kemudian kembali menatap kosong kearah pabrik.
"aku tidak peduli, kalian bebas melakukan apa yang kalian inginkan.
namu jika kalian menghianati aku atau melakukan sesuatu yang merugikan Orang lain aku tidak akan segan"
mereka semua diam tertunduk merenungkan perkataan Arcane, mendapati kalau pembicaraan ini selesai Arcane menuju pintu keluar.
sebelum keluar Arcane berbicara kepada mereka.
"kalian bebas ingin melakukan apapun, namun jika kalian masih ingin mengikuti aku lakukan rencana yang aku berikan kepada kalian. "
__________________________________________________________
hujan masih saja terus turun namun tidak sederas sebelumnya, di tengah gelapnya malam dan diantara turunnya hujan Arcane berjalan di jalan yang sepi.
meskipun beberapa orang masih lalu lalang untuk membawa beberapa barang mereka, ketika berjalan Arcane menundukkan kepalanya dan memegang dagunya.
ia sedang berfikir tentang rencana kedepannya jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan nya, namun ketika ia sedang berfikir seseorang berlari dari depan dan menabraknya.
tabrakan yang lumayan keras namun Arcane terjatuh lalu orang yang menabraknya langsung mengulurkan tangannya dan berkata.
"oh maafkan aku, aku tidak melihat"
Arcane menahan sakitnya dan menjabat tangan Orang itu dan berdiri.
"uh... tidak apa, aku juga tidak melihat karena hujan"
ketika Arcane dan orang itu saling menatap tiba-tiba orang itu tersenyum dan berkata dengan keras.
"kau... pangeran Arcane kan"
Arcane bingung dengan perkataan pria didepannya, ia kemudian mengingat ingat siapa yang ada di depannya namun tidak menemukan petunjuk.
"siapa anda? "
orang itu sedikit tertegun namun ia membuka tudung8dan menampakkan wajahnya, ia adalah seorang lelaki yang cukup berumur sekitar 40 tahunan terlihat jejak putih di rambutnya yang coklat.
ia kemudian menunduk dan memasang posisi penghormatan layaknya kepada kaum bangsawan.
Arcane memiringkan kepalanya menunjukkan kalau ia masih tidak mengerti atau lebih tepatnya tidak mengenal seseorang yang berada di depannya.
Orang yang mengaku bernama Brian tersebut kembali berbicara.
"mungkin anda telah lupa atau tidak menyadarinya namun berkat anda tempat Saya kini semakin besar dan ramai.... oh lebih mudah menunjukkannya daripada bercerita, kalau anda senggang mari ketempat hamba? "
Arcane mengangguk kemudian mengikuti orang yang bernama Brian .
"mohon maaf namun sepertinya kita harus berlari karena aku memiliki sesuatu yang mendesak di toko"
"tidak masalah" balas Arcane.
mereka berdua langsung berlari, Brian sesekali melihat kebelakang takut Arcane akan tertinggal namun kekhawatiran nya terbantahkan karena secepat apapun Brian Arcane bisa mengikuti.
beberapa saat kemudian hujan berhenti berbarengan dengan itu didepan sebuah bangunan yang cukup mewah Brian sampai dengan nafas yang terengah-engah sementara Arcane mengikuti dengan santai seolah-olah perjalanan itu bukan apa-apa bagi-Nya.
Brian melihat Arcane cukup takjub namun ia tidak memiliki waktu, ia mempersilahkan Arcane untuk mengikutinya masuk.
sempat sebelum masuk ia di hentikan oleh penjaga di sana namun Brian mengatakan kalau ia adalah orang penting untuk tempat ini jadinya statusnya bisa di bilang setara dengan dirinya.
ketika memasuki bangunan itu tampak arsitektur yang cukup mewah menyambut mereka, kesan elegan dan berbagai hiasan batu permata menghiasi seluruh dinding.
Arcane mengikuti Brian memasuki sebuah ruangan lain yang menggunakan pintu dengan 2 daun pintu yang cukup besar disana.
ketika memasuki ruangan itu tampak sebuah ruangan judi dengan berbagai macam permainan, mereka yang hadir disana memakai baju yang sangat mewah dan elegan.
Arcane sedikit terkesima namun ia tetap mengikuti Brian menuju ke salah satu meja yang cukup ramai dengan banyak orang yang berkumpul
ketika mendekati meja itu Brian langsung berkata dengan keras.
"dimana dia, aku sudah membawanya!! "
semua orang yang berkumpul langsung terbelah dan mempersilahkan Brian berjalan melewati mereka, Brian langsung menghampiri seseorang yang memiliki pakaian paling mencolok disana dan langsung menatapnya dengan tajam.
Orang yang di tatap Brian berumur sekitar 50 tahunan dengan rambut yang di sisir rapi berwarna hitam, melihat Brian yang tengah berdiri di depannya ia berkata dengan nada meremehkan.
"Jadi mana dokumennya? " kata pria itu sambil mengulurkan tangan.
Brian merogoh pakaiannya mengambil dokumen yang ia sembunyikan, ia kemudian menyerahkannya pada pria di depannya.
pria itu tersenyum licik dan ketika hendak mengambil dokumen itu Brian menariknya dan langsung berkata.
"sebelum itu kembalikan istri dan anakku!.
jangan ingkari janjinya Fake! "
orang yang di panggil Fake itu kemudian menyuruh anak buahnya dengan memberi isyarat, tak lama kemudian seorang pria besar berotot membawa 2 perempuan beda umur yang sepertinya adalah ibu dan anak.
Brian kemudian langsung menghampiri mereka namun di tahan oleh anak buah Fake, Brian tau apa maksudnya ia kemudian langsung memberikan dokumen itu dan menghampiri kedua wanita itu yang sepertinya adalah istri dan anaknya.
namun ketika ia akan menghampirinya Brian masih di tahan oleh anak buah Fake, ia menoleh ke menghadap Fake kemudian berkata.
"apa maksudnya ini!!!"
Fake yang tengah memeriksa dokumen itu berhenti dan berkata kepada Brian.
"aku tadi berkata kepadamu untuk membawa dokumen ini maka aku ijinkan kau melihat mereka bukan memiliki mereka.
saat ini mereka adalah budakku"
mendengar pernyataan Fake, Brian langsung marah dan berusaha menyerang Fake namun karena Brian sendiri sementara Fake membawa orang bersamanya Brian langsung di hajar di tempat hingga tubuhnya di tahan di lantai.
Fake kemudian menghampiri Brian dan berkata.
"jika kau menginginkan mereka maka berjudi denganku, hahahahahaha.... "
Brian yang hanya bisa berbaring di lantai ia hanya bisa menahan amarahnya dan menahan air matanya, bukan karena sakit namun karena takut kalau ia tidak bisa bersama dengan keluarga kecilnya.
namun tiba-tiba sebuah suara terdengar keras.
"judi?....
sepertinya menarik, bagaimana kalau kita melakukannya? "