
selena yang tengah merengek tersadar kalau Elizabeth mengeluarkan air mata.
"ibunda? anda sakit? "
Elizabeth langsung menghapus air matanya dan tersenyum.
"tidak apa nak, ibunda baik-baik saja"
selena tau kalau ibunya sedang memikirkan sesuatu namun ia tau kalau dia sedang menyembunyikan perasaannya, sama seperti kakaknya yang selalu diam dan tenang.
kemudian raja James berkata kepada selena.
"cukup selena, atau kau akan mengalami hal yang sama"
selena kini diam saja dan memilih untuk keluar dari ruangan pertemuan itu, setelah itu Elizabeth berkata.
"Jadi bagaimana? apa kita akan mempercayai informasi dari Arcane atau tidak? "
Elias langsung menimpali.
"tidak udah ibunda Elizabeth, lagipula informasi itu tidak meyakinkan"
Elizabeth kini hanya diam kemudian raja James melanjutkan pertemuan itu dan membahas beberapa hal yang terjadi.
di sisi lain Arcane di bawa ke sebuah menara yang ada di istana itu, meskipun sebenarnya adalah menara jaga namun menara itu jarang di gunakan.
Arcane di bawa ke menara itu dan langsung dilemparkan masuk ke sebuah kamar yang ada secara kasar, para prajurit itu hanya mencibir dan memandang rendah Arcane.
setelah prajurit pergi Arcane tersenyum dan berdiri lalu menuju ke arah jendela yang sangat besar dan bahkan bisa di katakan kalau jendela itu adalah sebuah pintu.
Arcane membuka dan mendapati pemandangan yang menakjubkan, dimana hampir seluruh kota bisa terlihat dari sana.
ia memandang kota itu dan kemudian berkata.
"sekarang tinggal memancing ikan besar maka pion akan sempurna"
__________________________________________________________
di sebuah penjara bawah tanah terdengar suara tangisan tersedu-sedu, itu adalah suara seorang anak kecil.
suara itu berasal dari bagian penjara paling buruk dimana tempat itu sangat lembab dan bau, disana juga ada 2 Orang yang memiliki telinga dan ekor hewan di tubuh mereka.
kedua orang itu tak lain adalah Gray dan Brown yang dimana Gray yang di rantai menempel di dinding, sementara itu Brown yang duduk di pojokan dengan tangan dan kaki yang dirantai.
Gray di sana hanya diam dan merenung tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
"tok.... tok.... tok... "
di kesunyian penjara yang dingin dan gelap beberapa orang datang, lalu pintu sel terbuka cahaya obor menerangi ruangan itu.
akhirnya mereka masuk dan yang datang ternyata adalah Frost dan ratu Lina, mereka kemudian menyuruh prajurit berjaga di luar dan agak jauh supaya tidak ada yang mendengarkan pembicaraan ini.
Frost langsung mendekat dan kemudian meninju Gray di bagian perut.
"huh ternyata begini Ya rasanya meninju mahluk kotor seperti mu"
Brown mendongak dan maju untuk melindungi Gray namun tubuhnya yang lemah terjatuh, Frost mendekat kemudian menjambak rambut Brown hingga kepalanya terangkat.
Frost tersenyum mengerikan kemudian berkata.
"hehehe... kau yang berani melawan kakak kemarin bukan, dan sekarang bagaimana rasanya?! "
ratu Lina kini juga memulai pembicaraan.
"sudah cukup....
sekarang beritahu yang kalian ketahui tentang penyerangan itu"
Frost kini memandang ibunya dengan bingung, ia pun berkata.
"ibunda? apa kau percaya dengan si sampah itu? dan bag-"
"diam kau Frost, ini urusan ku yang dimasa depan akan menjadi tanggung jawabmu.
dan untuk hidup di dunia itu kau harus bisa mendapatkan informasi sekecil apapun dan bergerak di waktu yang"
tepat ratu Lina memotong pembicaraan Frost dengan tegas
Frost tidak paham, akhirnya ratu Lina hanya menghela nafas dan kembali berbicara.
"Elias akan menjadi orang penting di gereja sementara kau akan menjadi penguasa dunia bawah.
sebagai penerus bisnis ku kau harus menjadi kandidat yang menjanjikan.
manfaatkan siapapun dan apapun yang kau tau dan miliki"
Gray yang merasakan tekanan itu merasakan kesakitan yang luar biasa, nafasnya juga menjadi sangat berat dan sakit.
kemudian ratu Lina berkata.
"katakan apa maksudnya kalau dunia bawah akan melakukan pergerakan besar!? "
Gray menatap ratu Lina dengan penuh tanda tanya sangat jelas kalau Gray maupun Brown tidak tau kalau Arcane terlibat dalam penyerangan atau apapun itu.
ratu Lina tau kalau Gray tidak tau namun karena ia tidak menjawab ratu Lina malah menambah tekanannya, tekanan itu membuat hidung Gray mulai berdarah.
Brown kini semakin panik dengan nada pasrah ia langsung berkata.
"kami adalah budak!!! "
ratu Lina berhenti kemudian berbalik menatap brown.
"apa magsudmu? "
brown dengan menahan sakit ia kembali menjawab.
"kami di selundupkan melewati pasar gelap dan kami hanya mengetahui kalau transaksinya memiliki tempat yang terlihat jelas namun terselubung.
itu yang hamba ketahui, mohon lepaskan saudaku"
dengan kata terakhir terucap Brown mulai menangis ratu Lina tau kalau Brown berkata sejujurnya ia kemudian menatap Frost dan mengajaknya keluar.
"Frost kita cari informasi tambahan di dunia bawah"
Frost mengangguk dan melepaskan Brown, ketika diluar Frost berkata kepada ibunya.
"ibunda Apakah tidak masalah jika kita membeberkan rahasia kalau kita memiliki koneksi di dunia bawah? "
ratu Lina kemudian berkata dengan santai.
"hahaha.... memang kenapa?
mereka sudah dibuang oleh Arcane, sementara dia sedang di hukum meskipun begitu ia tidak akan berani.
bocah pengecut seperti itu tidak akan bisa melakukan apapun."
Frost hanya mengangguk dan kemudian mengikuti ratu Lina keluar, meniggalkan penjara itu dengan suara tangisan Brown.
beberapa saat kemudian Gray dengan payah berusaha memuntahkan sesuatu, Brown menyadarinya dan kini menjadi panik.
"kakak... kakak!!! kenapa denganmu!? apa kau sakit"
"hoek... "
Gray memuntahkan semacam benda bulat di sertai beberapa jejak darah, tangisan Brown mulai semakin kencang karena panik dan terlebih ia tidak bisa mengeluarkan sihir penyembuhan.
namun Gray tersenyum dan berkata.
"tenang, kakak baik-baik saja"
Brown mulai lega namun air mata masih terus menetes dari matanya, ia kemudian membersihkan mulut dan wajah kakaknya meskipun terbatas karena tangannya tersegel.
Gray kemudian melihat mutahannya dan melihat ada gumpalan dan menyuruh Brown memeriksanya.
"Brown coba lihat apa itu? "
Brown menatap apa yang di maksud Gray ia juga melihat gumpalan itu kemudian ia mengambilnya dan meletakkannya di tempat yang lebih bersih.
"apa ini kak? " tanya Brown.
Gray hanya menggeleng dan menjawab.
"entahlah yang pasti itu dari tuan"
Brown menghentikan memeriksa benda itu dan berkata kepada Gray dengan tatapan marah.
"apakah kau masih mempercayai penghianat itu!? "
Gray tau apa maksud Brown dan sesungguhnya ia juga mulai untuk tidak mempercayai Arcane, namun insting dan hatinya menyuruhnya percaya.
sudah kebiasaannya yang kini mulai memperoleh kedua hal itu, sebelumya jika bukan karena Brown ia pasti sudah kabur atau menjadi seorang penjahat sebagai jalan cepat untuk keluar dari perbudakan.
Gray tersenyum lembut dan menyuruh Brown melakukan perintahnya.
"lakukan saja"
Brown marah ia pun membersihkan benda itu, kemudian ia tau kalau itu ternyata sebuah kertas dari kulit, ketika ia membukanya matanya melebar.
"kak-kakak!!! ini adalah.... "