Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 78


"wah... sepertinya ada penyusup disini"


sepasang mata merah bersinar muncul dari balik lorong dan bersamaan dengan itu langkah kaki berat mendekati tempat Arcane berada.


Arcane kini semakin bersiap-siap dan mengeluarkan sebuah pedang dalam sabuk nya, Arcane juga bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang ada namun raut wajahnya tetap datar.


semakin mendekat semakin terlihat bentuk tubuh dari pemilik mata itu, dari suara langkah kakinya bisa di duga kalau ia memakai sepatu dan melangkah dengan teratur.


Arcane dengan wajah datar nya mulai berfikir kalau ia memasuki sarang psikopat super kuat dalam film, dimana mempunyai jurus lari cepat, teleportasi di belakang pemain, dan tubuh otot kawat tulang besi.


beberapa saat kemudian orang itu telah melangkah tempat yang lebih terang, Arcane melihat kalau orang itu menggunakan sepatu berat ala tentara dengan celana kain dan celemak bernoda merah dan memegang sebuah parang.


Arcane kini memasang wajah serius apalagi ketika ia melihat wajah orang itu, orang tersebut memiliki tinggi yang rata-rata seluruh tubuhnya terlihat wajah pucat dengan mata merah kosong menatap Arcane.


ketika ia memasuki ruangan itu parangnya juga di angkat dan disandarkan di bahunya, membuat perawakan ngeri.


"zombie kah?" kata Arcane.


orang itu memandang Arcane selama beberapa waktu namun setelah itu ia tersenyum lebar dengan tatapan kosongnya, memperlihatkan gigi yang putih dilumuri darah.


dengan tampang horor itu ia menghampiri Arcane dan berkata.


"apakah kau saudara ku? "


"brak.... " suara Arcane yang kehilangan keseimbangan dan jatuh.


.


.


.


"aduh.... " Arcane duduk dan mengusap kepalanya yang terasa sakit ketika jatuh tadi.


ketika akan berdiri tiba-tiba zombie itu mengeluarkan tangannya kepada Arcane dengan senyumannya, tangan yang putih pucat dan ada beberapa luka yang menganga hingga memperlihatkan dagingnya.


"aku hanya bercanda jangan takut"


Arcane bersikap sopan dan menerima uluran tangan itu dan kemudian berdiri.


"trimakasih... "


"Sama-sama saudara... " kata zombie itu.


Arcane sedikit risih karena ia di panggil oleh saudara dan kemudian tiba-tiba Blue berbicara.


"tuan mungkin ia memanggil anda dengan sebutan saudara karena mata tuan yang tampak datar itu sama seperti ras undead"


Arcane tertawa kecil dan berkata.


"burfff... tidak mungkin ia memanggilku saudara hanya karena tatapan ku yang datar ini"


blue ingin menjawab namun zombie itu malah yang membalas Arcane.


"bukankah kau memang seorang undead karena kau memiliki tatapan undead? "


Arcane kini membeku karena tak tau mau membalas apa namun Blue juga menimpali.


"sudah aku katakan tuan"


Arcane lemas, hanya karena tatapannya yang datar bisa membuat seorang zombie memanggilnya saudara lalu mengabaikan kondisinya ia bertanya.


"tuan .... "


"Sebastian" jawab zombie itu karena tau kalau Arcane belum tau namanya.


"ah tuan Sebastian, perkenalkan namaku Arcane dan bola biru ini Blue.


Sebastian mengangguk dan berbalik, ia juga berjalan menuju pintu keluar Arcane menjadi bingung namun Sebastian tau ia berbalik dan menyuruh Arcane mengikutinya.


"ikuti aku, aku akan menjelaskan sambil berjalan.


tidak enak jika bercerita di ruangan ini"


Arcane kini tanpa ragu mengikuti Sebastian namun ia tidak menurunkan kewaspadaan nya dan masih memegang pedangnya, Sebastian mengerti dan memberikan Arcane membawa pedang itu.


ketika menuju keluar bangunan itu seperti mengenali ada orang yang datang, ketika Arcane akan keluar dari ruangan itu di kedua sudut atas ruangan itu berbahaya, Arcane melihat itu seperti lampu otomatis yang akan bersinar ketika seseorang berjalan.


"sebenarnya sulit untuk menggolongkan tempat ini namun dengarkan cerita ini....."


Sebastian mulai bercerita kalau sebenarnya ada sebuah istana dari Kerajaan kecil namun memiliki fasilitas yang sangat lengkap dengan masing-masing pegawai yang ahli di bidangnya.


namun beberapa dekade keluarga kerajaan menjadi sombong, karena kesombongannya ia menyinggung seorang penyihir yang ahli dalam kutukan.


kerajaan dan rakyat perlahan mulai hancur karena bencana, perang saudara, pandemi, kelaparan dan lain-lain.


ketika kerajaan itu berada di ujung tanduk istana tiba-tiba ambles tenggelam kedalam tanah menelan seluruh orang di dalamnya, namun bentuk dari istana itu tidak berubah sama sekali.


mereka yang terjebak perlahan namun pasti mulai menjadi bagian dari istana, seperti menjadi daging yang menempel kepada tulang para pelayan, pekerja prajurit, kesatria dan bahkan pangeran dan ratu menjadi satu dengan istana.


namun sang raja tetap menjadi dirinya sendiri dan seperti seorang pemimpin yang mengatur istana, ia seperti di tolak di istananya sendiri dan mulai menjadi baru di singgasananya.


Sebastian juga termasuk kedalam bagian dari kejadian naas itu i juga bisa mengetahui kalau raja tidak bisa menjadi satu karena mereka semua yang melebur memiliki koneksi, Jadi Sebastian bisa merasakan kalau sang raja di tolak oleh istananya sendiri.


Sebastian juga bisa mengetahui setiap sudut istana ini, ketika selusin abad kemudian istana berubah mengikuti dunia yang bergerak.


tata letak dan ruangan meski tetap sama namu jalan menuju setiap ruangan selalu berpindah, awalnya seperti istana yang terpendam, selanjutnya seperti dungeon, berikutnya seperti labirin tanpa akhir.


dan kini istana ini menjadi seperti benteng perlindungan dari bencana karena bagian luar dari tempat ini adalah sebuah bukit di dalam lembah, Sebastian yang terhubung bisa mengetahui setiap gerakan dan perpindahan ruangan, Jadi sulit untuk menentukan nama dari tempat ini.


"lalu kita akan kemana? dan Apakah itu darah?" tanya Arcane.


Sebastian menjawab dengan senyuman.


"ini memang darah dan kita akan ruang pelatihan tempat yang sedang kita tuju"


setelah tak lama Sebastian berkata sebuah pintu ruangan terlihat, Sebastian mempersilahkan Arcane untuk membukanya karena Arcane begitu penasaran.


Arcane membuka pintu dan sama seperti sebelumnya di beberapa bagian dari tempat itu mulai bersinar secara otomatis, Arcane terperangah ketika cahaya mulai bersinar di ruangan itu.


pasalnya ia melihat lusinan prajurit yang berjejer rapi lengkap dengan pedang yang terhunus dan senjata lainnya, semua mata prajurit itu memancarkan tatapan permusuhan.


mereka semua saling bertarung hingga tubuhnya tidak bisa bergerak, namun ketika seorang prajurit itu berada dalam posisi tersebut perlahan namun pasti tubuhnya mulai beregenerasi.


pertarungan itu seperti nyata bahkan darah dan jeroan yang keluar dan tersembur kemana-mana, ketika Arcane mulai waspada dan menarik pedangnya Sebastian menepuk pundak Arcane dan berkata.


"jangan takut, mereka tidak akan menyerangmu kecuali kau ikut dalam pertempuran ini.


mereka dulunya adalah tahanan dari berbagai kalangan karena kejahatan mereka, anggap ini adalah hukuman mereka"


Sebastian kemudian menarik dan menutup ruangan itu, ia kemudian menghadap Arcane yang kebingungan.


"anggap ini adalah tempat ajaib karena sebuah kutukan tanpa pemilik"


seketika Arcane kembali sadar, ia kemudian berfikir dan mulai tersenyum tatapan matanya juga berubah menjadi serius namun ada kegembiraan yang terselubung di dalamnya.


Sebastian yang mengetahui itu mulai memandangi Arcane dan bertanya.


"apa? menemukan sesuatu yang menarik? "


Arcane kemudian memandang Sebastian dan berkata dengan tegas.


"kau bilang tanpa pemilik kan? lalu bagaimana caranya mengklaim kepemilikan tempat ini? "