
"oh....
cerita yang sangat bagus"
Arcane masih duduk dan memakan camilan itu dengan santai sementara Brian terkejut akan ketenangan yang Arcane apalagi matanya yang selalu datar tanpa ekspresi.
"lalu? kenapa kau malah bersinggungan dengan Dunia bawah bukannya pergi dan mencari kehidupan baru? "
kata Arcane.
Brian sedikit malu untuk menjawab, ia kemudian menatap istrinya dengan tatapan kasih sayang dan senyuman lembut.
"karena ada dirinya ketika hamba menjadi budak hamba telah jatuh cinta kepadanya.
selain itu anda pasti tau kenapa Saya tidak keluar dari ibukota ini selain itu dengan bersinggungan dengan dunia bawah secara tidak langsung aku melindungi anak dan istriku."
Arcane mengangguk mengerti karena jika Brian keluar dari kota ini itu hanya akan membuat seseorang tanpa latar belakang menjadi sasaran empuk untuk di jadikan budak.
ini adalah pemandangan yang normal bagi dunia bawah, namun keputusan Brian adalah keputusan yang tepat dengan membentuk sebuah tempat yang bisa menjadi penghubung baik itu dunia bawah maupun kerajaan secara tidak langsung tempat itu pasti dilindungi.
meskipun tidak secara penuh dengan berbagai resiko kerusakan dan kerugian besar yang selalu mengancam namun pilihan ini lebih baik daripada tidak ada kemajuan dalam hidup.
"lalu siapa anak yang membantumu? " kata Arcane singkat.
Brian tertawa kecil kemudian membalas Arcane.
"hahahaha.....
anda selalu melupakan kebaikan yang anda lakukan"
Arcane memiringkan kepalanya tanda masih bingung dengan Jawaban yang di berikan, namun kemudian seorang wanita muda menghampiri Brian dan berkata dengan lembut.
"ayah, apakah dia orang yang paling berjasa di hidupmu? "
Brian menoleh dan mendapati putrinya yang bisa di bilang remaja berusia sekitar 17 tahun ia mengangguk dan memperkenalkan Arcane kepada keluarga nya.
"Lou anakku, Hana istriku perkenalkan orang yang menyelamatkan ku dari kekangan rantai budak ia lah yang selalu kami dukung.
sang pangeran ke -3 Arcane Fortis"
Hana terkejut dan langsung berlutut laku berkata.
"trimakasih tuan trimakasih telah menyelamatkan ia dari keterpurukan"
sementara ekspresi Lou malah kebalikannya ia malah tak Terima.
"apa! tidak... aku tidak akan pernah mengakui orang macam ini sebagai penyelamat keluarga, lebih baik aku kembali menjadi binatang!!!"
"Lou tunggu!!! " kata Brian yang melihat Lou yang pergi meninggalkan ruangan itu.
sementara itu Hana bersujud dan memohon ampun.
"maafkan anak hamba tuan, ia memang memiliki sikap yang keras Kepala"
Arcane melirik Hana dan berkata dengan sedikit penekanan.
"memaafkan? apa maksudmu memafkan? "
Brian disana langsung berkeringat diginiin, ia langsung bersujud disamping istrinya dan berkata.
"pangeran aku mohon belas kasihan anda, ia adalah anak angkat kami namun meski begitu kami telah menganggap nya darah daging kami sendiri Jadi hamba mohon -"
sebelum Brian berkata lebih jauh Arcane langsung memotongnya.
"Brian sebenarnya apa yang kau lakukan? "
mendengar perkataan Arcane ia semakin merinding dan kini ia membenturkan kepalanya ke lantai, melihat itu Arcane bersandar di sofa itu dan menyilangkan kakinya.
Arcane kemudian menatap kearah cendela yang masi gelap dan suara hujan yang masih terdengar.
"Untuk apa kalian bersujud padaku padahal aku bukanlah dewa ataupun Tuhan.... "
ketika Arcane berkata seperti itu Brian melirik Hana ddengan tatapan bingung Hana juga melakukan hal yang sama lalu Arcane kemudian berkata kembali.
mendengar hal itu Brian memberanikan diri untuk mendongak dan melihat Arcane.
"pangeran ham-"
sebelum menyelesaikan perkataannya Arcane langsung memotongnya.
"..... hei menurutmu apakah aku sungguh seperti rumor yang beredar atau orang yang dulu menolongmu?
yah meskipun aku tidak ingat kapan hal itu terjadi"
mata Brian kini semakin melebar karena entah sejak kapan ia mulai mengikuti arus dan mempercayai rumor yang beredar, ia kemudian tersenyum malu dan menampar dirinya sendiri.
"plak"
"apa yang kau lakukan" kata Arcane yang melihat tingkah Brian
"sayang!?" kata Hana yang khawatir kepada Brian.
namun Brian malah tertawa dan berkata dengan yakin sambil berlutut memberi penghormatan.
"hahaha.....
sungguh aku juga tidak tau kenapa aku malah mengikuti arus fitnah tentang anda pangeran"
Hana juga heran dengan situasi ini namun ia masih tidak berani tidak sopan, lalu Arcane kembali berkata.
"Lalu kenapa kau masih berlutut? kau bukan bawahan ku jadi tidak perlu berlutut! berdirilah...."
namun bukannya berdiri Brian malah memberi hormat dan berkata dengan penuh keyakinan.
"pangeran hamba mohon jadikan hamba salah satu pengikut anda, hamba yakin bisa berguna untuk anda"
Arcane melirik Brian lalu berkata dengan tatapan datar.
"jika ingin bicara seperti itu denganku kau harus berdiri dan duduk di depanku terlebih dahulu lalu menatap ku bukan ke lantai"
Brian bingung dengan perkataan Arcane bukankah cara meminta sesuatu kepada orang yang memiliki status lebih tinggi harus seperti ini? terlebih Arcane memiliki darah seorang bangsawan.
kebingungan juga melanda Hana meski ia bisa mengerti akan situasi ini namun ia tidak tau mengapa suaminya mau mengikuti orang didepannya, dan sejujurnya ia juga percaya apa yang di katakan oleh masyarakat tentang pangeran ke 3.
Brian dengan ragu berdiri dan duduk di depan Arcane ia kemudian menatap Arcane dengan sedikit rasa takut karena tidak sopan.
kemudian pandangan mereka bertemu, Brian mulai sedikit gugup sementara pandangan Arcane semakin lama semakin tajam.
beberapa saat kemudian Arcane tersenyum dan berkata.
"jangan gugup seperti itu aku melakukan hal yang berbeda ketika mengangkat seseorang, dan ketika aku melihatmu sepertinya aku bisa menerimamu"
selesai bicara Arcane langsung mengulurkan tangannya, Brian tersenyum ia masih gugup dengan cara Arcane dan tanpa sadar ia juga meraih tangan Arcane dan menjabat nya.
"aku sudah menganggap kau adalah orang yang bekerja denganku, lalu sekarang ceritakan dengan detail perihal tempat judi ini dan yng kau sebut dengan 'kami', pasti kau juga memiliki seseorang yang bekerja sama denganmu.
Brian kini mulai lega dan ia pun membicarakan tentang usaha yang dimilikinya.
seperti penjelasan sebelumnya usahanya adalah tempat judi umum selain itu tempat ini juga menawari ruang judi VIP dan ruang pribadi untuk melakukan transaksi.
tempat judi ini juga biasanya di gunakan untuk melakukan transaksi antar berbagai kelompok, dan kenapa tempat ini menjadi pilihan karena Brian sendiri yang mengumumkan kalau apapun yang ada di tempat judi ini akan selamanya di sembunyikan.
perkataan Brian terbukti benar karena setiap ada petugas yang datang untuk mencari petunjuk tentang transaksi apapun yang terjadi di tempat ini mereka hanya akan mencapai titik buntu.
itu karena mereka akan mencampur berbagai informasi, jadinya penyelidik akan mendapatkan informasi tentang orang yang salah atau bahkan informasi palsu.
dan Kerajaan tidak bisa seenaknya menutup tempat ini karena tempat ini telah di lindungi oleh kelompok-kelompok yang menerima keuntungan.
lalu Brian juga menjelaskan tentang yang ia sebuat sebagai 'mereka'.
"pangeran sebenarnya tanpa sadar anda menolong dan membantu mereka yang berada dalam keputusan meskipun tidak ada siapapun yang tau.
mereka diam-diam bersatu dan membentuk sebuah kelompok yang bernama dead bath"