Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 13


ketika dua orang itu duduk mereka melihat arcane dengan bingung dan penasaran, mereka tau identitas arcane namun dengan semua yang selama ini arcane lakukan saat ini mereka merasa kalau salju akan datang di musim panas.


melihat ada buku lain laki-laki yang lebih muda mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satunya, namun ketika akan sampai buku itu tiba-tiba menjauhi tangannya.


pria itu sadar dan ternyata arcane mengambil kedua bukunya dan menaruhnya di kursi kosong yang ada di sampingnya, dan mereka baru menyadari kalau kursi itu telah di geser ke dekat arcane.


ini menandakan kalau arcane telah menyadari mereka dari tadi dan menunjukkan kalau dirinya tidak ingin mencampuri atau membuat mereka tidak ikut campur urusannya.


mereka sedikit kesal akan hal itu namun arcane berkata sesuatu sebelum di tegur.


"kalian urus urusan kalian sendiri, aku tidak akan ikut campur.


aku sudah lebih dulu di sini jadi tidak akan mengalah, jendral, elder king"


elder king adalah sebutan untuk mantan raja jadi yang di depannya adalah paman arcane dan kakeknya, pamannya bernama jhon dan kakeknya bernama blast mereka adalah pilar militer di Kerajaan karena kekuatan dan prestasinya dalam peperangan penaklukan dan menghadang gelombang koloni hewan sihir di perbatasan.


jhon merasa tersinggung dan langsung berkata dengan emosi.


"apa maksudnya, apakau tidak menghormati paman dan kakekmu!! "


arcane membalas tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.


"aku menghormati kalian sebagai jendral dan elder king"


"ya memang, namun pemilihan kata sambutan mu tidak menunjukkan itu.


dan apa akau tidak menghormati kami sebagai keluarga!?"


mendengar kata 'keluarga' arcane menghentikan membaca buku dan menumpuknya dengan buku lain, lalu dengan wajah datar ia langsung membalas perkataan pamannya.


"keluarga? aku kira aku sudah dicoret dalam daftar dan menunggu pencopotan gelarku.


lagian apa arti keluarga untuk kalian kepada darah daging lemah? "


perkataan itu membuat kakeknya langsung terpancing amarahnya dan begitu juga pamannya, meski kakeknya adalah orang yang tenang namun perkataan arcane bisa membuat dirinya marah.


arcane masih tenang dan di wajahnya tidak ada rasa takut atau apapun hanya tatapan kosong dan datar, ia bisa merasakan kalau kedua orang di depannya marah namun arcane sama sekali tidak takut.


jhon juga mengeluarkan sedikit aura membunuhnya dan dengan kedua aura itu siapapun pasti akan gemetar ketakutan dan memilih menjauh.


namun arcane berbeda ia malah memandang mereka dengan datar seolah-olah tidak terjadi apapun.


"apakah kalian sudah selesai dengan memamerkan kekuatan membunuh?


jika belum lakukan sementara aku menyelesaikan buku ini"


begitu selesai ia langsung mengambil bukunya kembali dan melanjutkan membacanya, hal itu membuat mereka berdua cukup heran karena arcane tidak takut bahkan keringat pun tidak ada seolah-olah aura itu tidak ada.


mereka berdua menarik aura membunuhnya dan kakeknya langsung berkata.


"arcane apa kau tidak takut? "


arcane dengan nada malas ia membalas.


"aku takut, namu ada sesuatu yang lebih membuat aku takut"


"apa itu? "


"aku harus melawan keluargaku sendiri sampai mati"


arcane berkata seperti itu bukan tanpa sebab, sebenarnya di kehidupan sebelumnya arcane tidak memiliki siapapun yang bisa di sebut 'keluarga' bahkan seseorang yang sebenarnya ia percayai seperti raja iblis.


namun saat ini ia memiliki keluarga meski tidak menganggap nya sebagai bagian darinya namun arcane masih menghargai itu, namun ia tidak naif karena arcane akan melawan jika terus di injak.


setelah berkata seperti itu arcane berdiri dan meninggalkan gazebo, ia tidak pamit atau berkata apapun lagi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan pahit di mulut.


matahari masih terik namun sudah menjelang sore dan arcane langsung menuju ke perpustakaan istana, di sana ada banyak buku yang menghubungkan dan lengkap seperti perpustakaan umum.


tanpa basa basi ia memilih beberapa buku dan menaruhnya di meja yang tersedia tanpa sadar ia membuat tumpukan buku yang lumayan tinggi.


saat membaca buku yang berjudul 'kumpulan tehnik tubuh' arcane menemukan sebuah tehnik yang dinamakan 'pernafasan bumi' disana tertulis pada kertas terpisah seperti di satukan begitu saja dengan buku yang ia baca.


itu adalah tehnik pernafasan yang membuat pemakainya bisa menghimpun mana di alam, dan arcane menyadari kalau ini mirip dengan tehnik pernafasan nya, jadi arcane melepaskan kertas itu dan langsung menyimpannya dan melanjutkan belajarnya.


tidak lama kemudian seseorang datang, ia adalah seorang nenek-nenek dengan menggunakan tongkat sebagai penyangga pakaian elegan dan cukup mewah meski begitu ia memancarkan aura yang sangat bijak sana.


semua orang menundukkan kepala ketika nenek itu melewati mereka, ia tersenyum dan mengangguk tak luput pula ia melihat arcane dan menghampiri nya.


"apakah salju akan turun di musim panas?


nenek rasa itu lebih wajar daripada kehadiran mu di sini"


itu adalah marina, beliau adalah nenek arcane ratu sebelumnya.


marina menatap arcane dengan senyuman lembut terukir di wajahnya, rasa kasih sayang dan kelembutan memancar di sekitarnya.


sementara itu arcane menghentikan kegiatannya dan tersenyum lembut namun matanya masih datar.


"yah aku rasa itu memang lebih logis, nenek"


"lanjutkan saja apa yang kau lakukan, aku juga melakukan yang sama"


marina langsung pergi dan mengambil buku yang ingin ia baca, ia juga duduk di hadapan arcane dan membaca bersama arcane.


sebetulnya ia berfikir kalau arcane akan tertidur atau langsung pergi, namun ia cukup terkejut karena cucunya bertahan cukup lama.


beberapa saat berlalu dan hari semakin sore, saat marina melirik arcane ia kini tidak hanya membaca namun mencatat beberapa tulisan dari buku itu, tidak hanya selembar dua lembar namun catatannya kini telah menjadi sebuah buku tebal.


marina tidak tau pasti namun ia yakin kalau catatan itu telah mencapai sekitar 100 lembar lebih, marina melebarkan matanya karena seorang sarjana saja tidak akan bisa melakukan itu dalam beberapa jam saja.


marina berdiri dan melihat catatan yang di buat arcane, dan disana bukan hanya sekedar coretan melainkan inti dan penjelasan mengenai sihir berelemen maupun tidak.


ada juga beberapa yang berisi tentang teknologi sihir dan teori tentang penelitian beberapa ilmuan, tidak peduli apapun namun catatan itu sangat mudah di mengerti namun butuh kemampuan juga jika harus memahami isinya.


marina mengambil catatan itu dan berkata.


"nenek tidak tau kalau kau sepintar ini".


arcane masih meneruskan mencatat beberapa hal dan menjawab.


" ya.... karena nenek tidak bertanya, lagipula di kediaman bukunya tidak terlalu bagus dan lengkap "


"hoh.... kalau begitu kenapa kau tidak membawa buku dari sini"


arcane berhenti dari belajarnya dan langsung menatap neneknya.


"nenek bukannya buku di sini tidak boleh ada yang keluar?


maka dari itu aku merangkumnya dalam catatan kecil"


alis marina berkedut jika catatan yang arcane buat adalah catatan kecil maka bagaimana dengan catatan yang lebih lengkap.


marina menepis pikiran konyol itu ia menaruh kertas yang ia bawa dan berkata.


"kau bisa membawa beberapa buku untuk keluar dari sini namun tidak dengan di luar istana ini"


"benarkah!?"


arcane tersenyum gembira, dan bahkan tatapannya menunjukkan kegembiraan yang besar seperti seorang anak kecil yang telah mendapat permen.


"ia, kau boleh melakukannya asal kau mengembalikannya dengan utuh dan tidak keluar dari wilayah istana ini"


marina tersenyum lembut dan memberikan sebuah plakat perak, itu sebagai tanda kalau seseorang yang memiliki nya bisa membawa buku itu keluar perpustakaan istana.


arcane menerimanya dengan semangat dan langsung memeluk neneknya untuk berterima kasih.


"terima kasih nenek"