
arcane berjalan di antara masyarakat dengan perasaan berat, bukan karena perkataannya tadi melainkan karena saat ini ia berada di wilayah kaum atas atau bangsawan namun mereka memiliki budak yang tak terurus.
seperti biasanya dimana mereka yang berkuasa dan memiliki pengaruh bisa melakukan apa yang mereka inginkan, apalagi di jaman ini memiliki sistem perbudakan.
arcane merasa sesak tidak di dunia lamanya maupun saat ini para manusia sangatlah kejam pada sesamanya, didunia sebelumnya meski tidak di sebut budak namun perlakuan mereka sama.
yaitu menyiksa mereka yang di bawah dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari keringat dan air mata mereka.
jikalau bisa ia ingin membeli semua budak dan membangun peradaban untuk berubah keadaan, namun ia juga realistis jikalau berhasil pasti ada oknum yang melakukan hal yang sama karena keserakahan dan ketamakan.
arcane memandang mereka yang terus melayani majikannya hingga tanpa sadar ia berada di depan sebuah toko buku.
karena gray berada tak jauh darinya arcane masuk kedalam, ketika masuk banyak rak yang berisi berbagai buku jadul maupun baru.
arcane melihat sekeliling dan mulai menyusuri toko itu karena toko itu sangat sepi jadinya toko itu memiliki suasana ketenangan dalam keheningan, ia mendapati kalau kebanyakan berupa buku puisi, sejarah, dan cerita.
arcane trus melihat-lihat dan ia mendapati kalau ada bagian tehnik latih mulai dari tahnik pedang sampai buku sihir, dan uniknya kini arcane melihat ada tehnik pelatihan penyerapan mana.
arcane mulai tertarik dan mengambil buku jenis itu, karena buku jenis itu saja yang jumlahnya tidak terlalu banyak maka ia megambil beberapa, buah dan langsung menuju meja baca yang tersedia di toko itu.
diikuti oleh gray yang berdiri di sampingnya arcane mulai membaca buku itu dan tenggelam dalam fokusnya belajar.
beberapa saat kemudian seorang perempuan yang memakai pakaian pelayan datang, ia memiliki tampang yang cukup imut dengan aura menenangkan yang berada di sekitarnya.
ia menghampiri arcane dan menawarkan pelayanan toko.
"permisi tuan, apakah anda memiliki pesanan untuk menemani membaca anda?"
arcane diam saja tidak merespon, pelayan itu kebingunan lalu ia memandang gray.
"ehem, tuan memang seperti itu ketika membaca.
jadi jangan tersinggug, sebentar"
gray kemudian memegang pundak arcane dan mengatakan kalau pelayan toko datang.
"tuan, ......pelayan toko datang"
ketika pundaknya di pegang arcane langsung sadar dan berbalik mendapati gray dan 1 orang asing, dan ia pun memasang ekspresi tanda tanya.
melihat itu pelayan tersebut kembali berkata.
"begini toko ini memiliki pelayanan pembelian minuman dan penjualan kue untuk menemani anda mambaca,apakah anda tertarik?"
arcane paham dan langsung berkata.
"oh.....
aku pesan teh mungkin akan lama jadi sediakan 2 cangkir dan 1 teko, dan aku pesan 2 porsi makanan ringan yang kalian rekomendasikan atau yang paling enak di sini"
pelayan itu mengangguk dan pergi, sementara itu arcane melihat gray yang terus berdiri di tempatnya.
"gray?
kenapa kau masih berdiri di sana?"
gray sedikit bingung dengan perkataan arcane kemudian arcane kembali berkata karena melihat ekspresi gray.
"duduklah di sini, meja ini masih cukup luas dan memiliki 3 kursi kosong"
gray kemudian membalas dengan sedikit ragu.
arcane tersenyum kemudian berkata.
"dimataku semua mahluk hidup sama, aku tidak peduli dengan hal seperti itu.
jadi kemarilah"
gray dengan ragu duduk di sebalah arcane, sangking ragu nya ia berkeringat cukup banyak, sementara itu arcane hanya tertawa kecil melihat tingkah gray.
arcane melanjutkan membacanya dan semakin membaca semakin banyak pertanyaan yang berada di benaknya mengenai fenomena alam yang disebut dengan mana.
lalu seseorang datang dengan pakaian pelayan, bukan pelayan perempuan tadi namun itu adalah seorang pria degan setelan rapi dan mempesona.
orang itu duduk di depan arcane dan menatap dengan ekspresi serius.
"kau terlalu memikirkan banyak hal"
arcane menghentikan membacanya dan menatapnya.
"apa maksudmu? "
pria itu tersenyum lalu secepat kilat ia mengambil 2 buku yang berada di gelang arcane.
"aku ambil buku ini"
arcane terkejut lalu memeriksa gelangnya kembali, ia tau meski tidak mengingat buku itu namun instingnya memberi tahunya kalau ia adalah pemilik dari buku itu.
dengan marah ia mulai mengeluarkan aura mananya.
"kau!, kembalikan barang milikku! "
namun pria itu mengibaskan tangannya dan seketika arcane seperti orang biasa yang tidak bisa apa-apa seperti orang biasa.
"tenang lah, aku bukan musuh biar aku jelaskan"
arcane kembali tenang dan mulai menghilangkan auranya, lalu setelah tenang pria itu melanjutkan perkataannya.
"buku ini berbahaya untuk mu bahkan dunia ini, aku tidak tau sifat mu namun buku ini bisa membuat seseorang menjadi liar dan buas dalah satunya menjadi tidak terkendali.
yah meski bisa membuat dirimu menjadi orang terluat di dunia ini sih namun setiap dunia memiliki aturan, meski beberapa orang ada yang melanggar aturan namun aturan itu harusnya tidak boleh terlalu melenceng, itu hanya akan membuat dunia menjadi kacau.
maka dari itu aku mengambil buku ini, lalu aku akan memberi kompensasinya "
pria itu kemudian kembali mengibaskan tangannya kemudian dari kekosongan muncul dua buku yang memiliki cover coklat.
pria itu memberi arcane buku itu, dan tentu saja ia menerimanya.
arcane sebenarnya sedikit bingung namun ia tetap memilih menerimanya, lalu ia kembali melihat pria tadi namun pria itu menghilang dari hadapannya.
arcane bingung lalu ia pun keluar bersama dengan gray, tidak lupa ia membayar biaya di toko itu.
ketika berbalik toko itu menghilang dan hanya ada ruang kosong seperti sebuah gang buntu, ia pun berbalik dan berkata kepada gray.
"gray apakah kau ingat ada toko buku di sini? "
gray dengan bingung menjawab
"bukannya kita baru saja berada di sebuah restoran tuan?, buku di sini adalah barang mewah tuan, jika ada toko buku pastinya jika ingin membelinya akan sangat mahal"
arcane bingung dan tidak melanjutkannya ia memutuskan kembali pulang dan memilih diam saja karena tanpa disadari hari sudah menjelang malam.