
pendeta itu mulai geram dan sangat merah hingga wajahnya memerah.
"kau... Apakah kau ingin menjadi kafir!"
Arcane hanya menyeringai dengan tatapan datar dan membalas.
"terserah kau mau menganggap ku seperti apa, karena aku tidak ingin memuja Tuhan yang dibuat oleh kalian orang-orang fanatik"
meskipun Arcane adalah seorang yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan namun ia masih memiliki keyakinan akan keberadaan Tuhan.
didunia sebelum nya pandangan mengenai Tuhan tergantung seberapa dekat mereka dengan ilmu pengetahuan mereka, biasanya semangat dengan dengan ilmu pengetahuan maka mereka akan semakin jauh dari keyakinan akan Tuhan ini juga berlaku untuk sebaliknya.
namun Arcane berbeda ia bisa memiliki sebuah keyakinan akan Tuhan dan memeluk salah satu agama, meski tidak terlalu baik namun dalam hatinya ia masih percaya.
namun semenjak masuk ke dunia ini pandangannya mengenai apa yang di sebut sebagai Tuhan sedikit berbeda, bukan karena keyakinannya melainkan pemikirannya seperti di paksa diganti dengan konsep Tuhan yang ada di dunia barunya.
namun hatinya masih bisa melihat kalau keyakinan seperti itu hanya keyakinan seorang yang fanatik, dan Arcane membenci hal seperti itu.
pendeta tersebut mulai terpojok ia kemudian menghadap raja dan membungkuk.
" kau terlalu sombong.
raja hamba juga ingin mengadukan sesuatu jika di ijinkan"
James mengangguk kemudian bicara.
"katakan"
pendeta itu kemudian berkata dengan lantang.
"semalam hamba melihat saudara hamba pergi mencari angin namun sampai saat ini keberadaannya tidak di temukan.
hamba telah mencari dirinya ke pelosok istana ini dan bertanya kepada prajurit namun mereka tidak tau.
tapi pagi ini seorang pelayan berkata kalau saudara hamba kemarin sedang bersama mahluk kotor itu, hamba curiga kalau mereka melakukan sesuatu kepada saudara hamba "
perkataan itu sukses membuat semua orang disana menjadi yakin akan kecurangan itu, namun Arcane membantah.
"hahaha.....
itu masih belum cukup, pelayan itu hanya mengatakan kalau ia melihat saudara mu pergi bukan mencelakai"
raja James kemudian membalas.
"kalau begitu bawa pelayan itu kesini, supaya semuanya jelas"
prajurit kini mulai berjaga di dalam ruangan rapat itu yang kini menjadi persidangan, beberapa saat kemudian pelayan yang di maksud datang.
ia kemudian di minta untuk menjelaskan apa yang ia lihat di malam itu, dengan sedikit rasa takut pelayan itu menceritakan tentang kejadian malam itu.
ternyata pelayan itu hanya melihat pendeta itu menyeret Brown dengan paksa hanya sampai sejauh itu, lalu ketika selesai bicara Arcane langsung memberi komentar.
"hanya seperti itu?
kalau hanya seperti itu dia hanya bisa dianggap sebagai saksi yang menguatkan tuduhan, namun tidak bisa menyatakan kalau pelayan ku bersalah akan hal ini! "
namun pendeta itu malah berfikir sebaliknya.
"huh bahkan jika pelayan ini berbohong ia harus di beri emas sebagai kesetiaannya.
pelayanmu itu bersalah kau menganggapnya seperti itu karena tidak mempercayai Tuhan dan enggan mengimani nya"
Arcane juga membalas dengan keras.
"aku memiliki keimanan ku sendiri bahkan aku selalu mempelajari sejarah dan Alkitab yang kalian sebarkan.
dan dari kesimpulan ku kalian hanya menyembah Tuhan yang kalian ciptakan untuk menghisap darah jemaah kalian sampai kering!! "
"lancang kau Arcane!!! "
Arcane tidak gentar ia pun malah menantang Elias.
"huh kau kira aku takut denganmu! "
Elias tanpa basa basi langsung menyerang Arcane dengan gelombang angin yang cukup kuat, namun di sisi lain pendeta itu juga menyerangnya dengan tombak tanah.
Arcane dengan siap menangkal serangan itu namun tiba-tiba.
"SLING..... "
"CLING... "
sebuah gerakan cepat dan gesit langsung menghilangkan semua serangan yang ada, tak hanya di situ tubuh Arcane juga di lindungi oleh barier pertahanan sihir.
mereka menyaksikan kejadian itu cukup terkejut pasalnya kedua serangan sihir itu dibatalkan oleh serangan fisik biasa dan tehnik pedang biasa pula secara horizontal.
Arcane melihat orang yang melindunginya dan ternyata ada Gray dan Brown yang kini berada di depannya dengan mengeluarkan aura jingga mereka.
sesaat tanpa sadar Arcane mereka hatinya hangat dan merasa ada ingatan yang kembali.
"kalian...."
Gray maju satu langkah dan dengan mengacungkan pedangnya ia berteriak dengan lantang.
"sebelum menyentuh tuanku maka hadapi dulu kesatria nya"
Gray mengatakannya dengan tegas dan penuh keyakinan semua orang dapat merasakan jiwa kesatria dari Gray berkobar dengan liar.
sementara itu tiba-tiba Johnson berteriak sambil melompat.
"hmm....
kau berani mengacungkan pedangmu!!!! "
Johnson mendarat tapat di depan Gray ia langsung mengeluarkan sebuah pedang besar yang tingginya setara dengannya.
Gray tidak takut dan kini memasang kuda-kuda, Johnson melihat itu menjadi kesal dan ia langsung menyerang Gray.
satu ayunan penuh tenaga dari Johnson secara vertikal dari atas, sementara Gray menyambutnya dengan menahannya dengan pedang yang ia bawa.
"BANG.... "
hentakan kuat diterima Gray hingga pijakan nya hancur namun serangan itu belum cukup untuk mengalahkannya, selain fisik yang sebenarnya lebih kuat namun keyakinannya juga membuat Gray berani menghadang serangan Johnson.
disisi lain Johnson sedikit terkejut pasalnya sebagai manusia ia di ilhami tubuh yang sangat kuat dan mampu bersaing dengan kebanyakan ras half beast.
meskipun serangan barusan adalah serangan pembuka sesungguhnya Johnson ingin menyelesaikan nya dalam satu serangan fatal namun ia terkejut bahwa Gray bisa memblokir nya.
kemudian Gray dengan sekuat tenaga mendorong pedang itu dengan keras hingga membuat Johnson sedikit kehilangan keseimbangan dan mundur satu langkah.
sedetik berikutnya sebuah serangan berupa tombak batua melesat.
"SLING.... "
Gray terkejut dan memasang posisi bertahan namun sebelum tombak itu mengenai Gray sebuah perisai mana tercipta dan melindungi Gray.
"BRAK.... "
Gary tau kalau itu ada perbuatan adiknya, dibelakang Gray Brown melakukan apa yang ia bisa ketika melihat pendeta itu menghimpun mana dan langsung akan menyerang Gray ia langsung bersiap meluncurkan sihir perlindungan.
setelah itu tiba-tiba seluruh ruangan di penuhi aura pertempuran dari semua prajurit yang kini langsung maju tanpa menunggu perintah dan langsung menyerang Gray dan juga Brown