
tidak dapat bergerak membuat Agni dan Rudra gelisah dan tidak berdaya, sorot mata mereka kini lebih di penuhi teror karena meskipun tidak dimaksud kan mengancam namun tatapan datar dan senyum lebar Arcane membuat mereka bergidik ngeri.
disisi lain semua orang kini menjadi ngeri dan takjub akan kekuatan Arcane, Sebastian masih mengendalikan diri dan berjalan ke dekat Arcane.
ia kemudian memberi hormat dan berkata.
"selamat anda telah mengalahkan penjaga gerbang"
Arcane langsung menjentikkan jarinya, dalam sekejap sebuah lingkaran sihir tercipta seketika pula kobaran api panas keluar.
namun panas api itu tidak terasa oleh Gray, One eye, dan Kai bahkan Sebastian yang notabene nya lebih dekat pun tidak terasa.
kobaran api itu hanya sesaat dan langsung hilang, setelah menghilang es yang mengurung Agni dan Rudra retak dan langsung pecah.
ketika keluar mereka langsung terjatuh berlutut dan nafas mereka sangat berat.
"bagaimana..... "
Tanpa basa basi Arcane langsung menjawab sebelum Agni menyelesaikan perkataannya.
"jika kalian tau sebab akibat di dunia maka kau bisa menaklukkan dunia"
perkataan Arcane membuat seluruh orang yang di sana merinding namun seperti tidak peduli Arcane langsung membuka pintu besar itu.
tanpa perkiraan gerbang itu begitu ringan, ketika di buka bukan cahaya silau cahaya yang menyambut mereka melainkan kegelapan yang sunyi.
Arcane langsung melakukan sihir bola api dan melemparkan ke dalam kegelapan itu, dan yang terjadi adalah apa yang di depan mereka adalah lorong panjang yang entah sampai kapan.
Arcane berbalik dan bertanya kepada Agni dan Rudra.
"kalian, apakah tau seberapa panjang lorong ini? "
Agni dan Rudra yang berlutut kebingungan mereka langsung menjawab.
"maaf tuan, kami tidak mengetahuinya... "
"...kami tidak memiliki kuasa untuk meninggalkan tugas kami"
Arcane mengangguk dan menatap Sebastian.
"ayo kita pergi sementara kalian kembali berjagai"
"baik" kata mereka secara bersamaan.
namun Sebastian tidak menjawab dan memasang ekspresi kebingungan.
"tapi tuan sepertinya hamba tidak bisa"
Arcane memiringkan kepalanya dan berkata.
Sebastian membungkuk dan membalas.
"hamba dan seluruh penghuni terikat oleh tempat ini, selain orang yang anda bawa kami tidak bisa meninggalkan istana"
Arcane mengangguk dan sedikit berfikir, beberapa saat kemudian ia berkata.
"baiklah kalau begitu kita berempat saja"
akhirnya Arcane ditemani oleh Kai, One eye, dan Gray menyusuri lorong gelap itu.
seperti kata Sebastian, Agni dan Rudra, kalau pintu besar itu adalah jalan keluar dari istana karena pijakan mereka kini adalah berupa batu dan tanah.
karakteristiknya seperti gua batu, dengan penerangan berupa bola api dari Arcane dan One eye mereka menyusuri gua itu.
"tuan aku ingin bertanya" kaya Gray
Arcane menoleh dan mendapati kalau Gray memasang wajah bingung, Arcane menggeleng dan kembali berjalan.
"tanyakan saja"
"apakah anda bisa mengendalikan seluruh elemen? "
kata Gray dengan gugup, sementara itu Kai dan One eye juga di buat penasaran dengan jawaban Arcane karena mereka juga terkejut kalau Arcane bisa mengendalikan lebih dari 1 elemen.
"bukannya kalian juga bisa" kata Arcane santai.
"uhuks" Kai dan One eye langsung terbatuk.
Arcane sedikit aneh dan bertanya.
"kenapa kalian? "
Gray menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menjawab.
"sebenarnya hanya beberapa orang yang bisa mengendalikan elemen lebih dari 1.
dan kebanyakan hanya bisa menggunakan 1 elemen"
"benarkah? aku kira sudah berubah literasi nya, soalnya aku membaca dari buku yang di copy dari 1000 tahun lalu" balasannya.
Arcane memang mengetahui itu dari buku tua, kebanyakan buku selain sihir di buat dalam waktu lama dan Arcane membaca pengetahuan dasar lebih dari 1000 tahun.
"lalu kenapa anda hanya menggunakan elemen angin selama ini? " kaya Gray.
"karena itu mudah dan aku seperti memiliki keterikatan tersendiri hingga aku bisa menggunakannya seperti bernafas" balas Arcane.