
dengan amarah yang menggebu-gebu arcane melancarkan sihirnya, tanpa mantra, tanpa pengucapan nama, tanpa gerakan.
semua itu ia lakukan dengan sangat singkat dan cepat.
~down air~
Seketika tubuh selena dan tanaman di sekitarnya tertekan ke bawah membuat tubuhnya sangat berat, ia berusaha tegak dan berdiri kokoh dengan mengeluarkan segenap tenaganya.
"hoh.... ternyata masih bisa tahan, bagaimana jika aku tambah? "
tekanan terus bertambah, semua orang yang didalam mansion dapat merasakan aura kepakatan dan tekanan yang di keluarkan arcane.
tekanan itu terus bertambah dan membuat selena berlutut namun kepalanya masih tegak, melihat itu Elisabeth berusaha menenangkannya.
"arcane hentikan ini segera, ia adikmu"
arcane mendengar ibunya membela adiknya merasa sedikit muak, ia menyayangi dan menghormati ibunya namun arcane memiliki rasa keadilan yang kuat jadi ia akan melakukan apa yang menurutnya benar.
"dia melewati batasan, aku sedang memberi pelajaran sebagai seorang kakak"
Elisabeth sedikit terkejut karena arcane berani membalasnya dengan tegas, sebelumnya ia tidak pernah berani seperti itu.
"atas dasar apa kau bisa memberi pelajaran! "
"atas dasar aku lebih kuat darinya"
"DEG.... "
Elisabeth melupakan sebuah hal, ia diakui kalau dirinya adalah seorang yang ter bijak di seluruh kerajaan dan kemampuannya juga sangat luar biasa, namun ia masih memegang prinsip kalau siapa yang kuat maka ia yang benar.
itulah mengapa meski terlihat melindungi arcane namun tidak ada usaha selain ucapan dan kata-kata palsu untuk menasihati arcane, dan kini prinsipnya menjadi kelemahannya.
"dengan sedikit kemampuan kau merasa dirimu kuat?"
"oh maaf, sepertinya ini masih terlalu ringan ya.
yah aku mengukurnya sesuai dengan hukuman tingkat inti mana warna putih sih"
perkataan arcane berhasil membuat semua orang keheranan dan sontak saja ia menambah tekanannya menjadi lebih kuat.
"crack duak"
tanah mulai retak dan dengan selena sebagai pusatnya, retakan terus menyebar hingga sekitar 1 meter.
jangan ditanya mengenai selena ia sudah dalam posisi bersujud dengan wajah yang menyentuh tanah, dan tanaman di sekitarnya pasti telah hancur.
Elisabeth melihat itu khawatir dan menyuruh beberapa pelayan untuk membantu selena, namun ketika akan membantu mereka terdorong dengan angin yang sangat kuat dan membentur tembok menyebabkan beberapa retakan di sana.
"aku masih bersabar, jika lebih dari ini maka akan ada pembunuhan hari ini"
selena kebingungan karena pelayan kerajaan setidaknya berada di tingkat kuning atau hijau, namun arcane menghempaskan mereka dengan mudah.
perlu di catat kalau setiap naik tingkat bukan hanya kapasitas mana yang bertambah namun kekuatan fisiknya juga.
melihat itu Elisabeth berjalan ke depan dan berbicara dengan benar.
"arcane kita bicara ini ketika makan malam, dan lepaskan adikmu ya"
arcane memandangi Elisabeth dan menelisik lalu ia menghela nafas dan menghilangkan tekanan yang di buatnya.
ia langsung melayang dan membawa brown ke kamar pelayan, sementara selena langsung bangun tatapannya masih tidak Terima dan mencoba menyerang arcane.
"BOOM..... "
tepat sebelum selena melakukan serangan sebuah kawa tercipta tepat di sebelah selena, meski tidak luas namun kawanh itu lumayan dalam sekitar setengah tinggi orang dewasa.
dari kawah itu dapat di nilai kalau kekuatan yang menghantam nya sangat kuat dan membuat selena gemetar di buatnya.
saat itulah suara arcane dengan nada mengancam terdengar.
"hanya karena ibu aku membiarkanmu, jika kau melewati batas aku tidak akan ragu untuk membunuhmu.
bahkan jika aku kehilangan nyawaku"
arcane pergi melayang dan tidak lupa gray juga ia bawa dengan tehnik melayang itu ke kamar pelayan yang berada di dekat dapur.
"selena kau tidak apa-apa?"
selena dengan gemetar menatap ibunya.
"ibu, apakah ia benar kakakku? "
Elisabeth juga memiliki pertanyaan yang sama namun ia memilih untuk menahannya dan bertanya langsung.
"kita tanya nanti saja ketika makan malam"
.
.
.
arcane langsung meletakkan brown dan langsung memeriksa ulang, dan beruntung perkataan gray benar karena brown hanya pingsan dan luka ringan.
lalu arcane langsung mencoba sihir yang pernah di lakukan Ibunya dulu yaitu menggunakan sihir penyembuhan, meski dengan pemahaman yang berbeda ia langsung mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas tubuh brown.
"heal"
cahaya hijau menenangkan keluar dari tangannya dan aura kehidupan turun menyelimuti brown, arcane melihat kalau sihirnya berhasil namun brown masih pingsan.
setelah selesai arcane beranjak pergi namun tiba-tiba tubuh arcane terjatuh dan ia merasakan rasa sakit pada dadanya, namun dengan sigap gray menahannya.
"tuan, apakah kau baik-baik saja?"
arcane melihat gray dengan wajah cemas telah terukir, ia hanya terseyum dan berkata.
"tidak apa, hanya terlalu membebani inti manaku karena terlalu mengeluarkan banyak mana"
gray ingin berbicara banyak hal kepada arcane namun melihat kondisinya sepertinya mustahil, jadi ia membopong arcane ke kamarnya.
"jika kau menginginkan kekuatan seperti tadi aku akan mengajari kalian berdua"
gray terkejut karena tehnik semacam itu pasti mustahil ia gunakan.
"tapi tuan itu"
"aku mengajari apa yang aku tau.
kau dan brown lebih berbakat dariku jadi pasti kau akan semakin kuat, jadi kedepannya aku mengandalkan kalian.
dan aku percaya kalian"
arcane melakukan gerakan tangan dan langsung rantai yang membelenggu mereka terlepas, gray tentu terkejut dan langsung menatap arcane heran.
"tu-tuan ini"
"aku mempercayai kalian, saat ini tolong kerjasamanya"
gray tersenyum dan menjawab dengan mantap.
"aku juga, mohon kerjasamanya"
arcane kembali ke kamarnya dengan gray ia membersihkan diri dan langsung berganti pakaian, dan langsung membaca buku sambil melatih tehnik pernafasan nya.
arcane kini tau beberapa kelemahannya dan ingin memperbaikinya dan mungkin ia harus membeli beberapa buku untuk mencari tau itu.
tanpa sadar malam telah tiba dan ia menuju meja makan, sudah kebiasaan para bangsawan untuk makan bersama kecuali ketika melakukan beberapa pekerjaan penting.
pada ruangan meja makan ada sebuah meja panjang dengan barisan 5 kursi di kanan dan kiri, juga 1 kursi di masing-masing ujungnya.
arcane datang dengan wajah datar dan disana sudah ada Elisabeth yang duduk di ujung meja dan Elisabeth yang duduk di sebelah kanannya, arcane langsung saja duduk di ujung lainnya berjauhan dengan selena dan Elisabeth.
keheningan tercipta di sana dan tak lama makanan datang para pelayan datang dan menata piring dan makanan, namun makanannya itu hanya berkumpul di dekat Elisabeth dan selena dan di hadapan arcane hanya ada sebuah piring kosong.
"cih"
arcane berdecak kesal dan pelayan yang di sebelahnya berinisiatif untuk mengambil kan makanan untuk arcane, namun tanpa basa basi aura sihirnya keliar dan lakukan sihir pisau angin skala kecil dan membelah beberapa daging dan sayuran.
tidak hanya itu dengan kendalinya ia membuat potongan makanan itu melayang menuju piringnya dan berhasil mendarat dengan lancar terlebih lagi makanan itu tersusun dengan rapi dan elegan.