
di istana kerajaan semua orang berkumpul seperti kemarin bedanya kini beberapa mentri turut hadir juga ruangan yang digunakan adalah ruangan pertemuan dimana masalah kerajaan di selesaikan.
suasana seperti biasanya karena permasalahan yang umum seperti penanganan wilayah kumuh dan beberapa masalah Mafia atau geng dunia bawah yang masih belum terpecahkan.
selain selain itu juga permasalahan tentang insiden ledakan yang terjadi di beberapa tempat, meskipun begitu tidak ada yang mengacau sampai.
"izin melakukan audiensi yang mulia"
seorang pelayan datang ketika rapat itu akan selesai.
raja James membalas.
"ada apa"
pelayan itu mendekat kemudian bersujud.
"yang mulia pangeran ke 3 datang dan meminta audiensi, dia bilang kalau pangeran memiliki informasi yang sangat penting"
setelah pelayanan itu mengatakan maksud kedatangannya Elisabeth langsung berdiri dan berkata dengan keras.
"dimana dia sekarang!? "
pelayanan itu kemudian menggeser tubuhnya hingga menghadap ratu Elizabeth.
"pangeran ke 3 ditahan di depan istana karena membawa kedua mahluk kotor itu yang mulia ratu"
Elisabeth tanpa pikir panjang langsung berkata.
"suruh dia masuk!!"
tidak ada yang menghentikan ratu Elizabeth karena mereka semua perlu penjelasan dari Arcane yang tiba-tiba menghilang, mereka semua yang ada di ruangan ini tau kalau Arcane akan di hukum dan mereka pasti menebak kalau ia akan meminta keringanan untuk hukumannya.
mereka pastinya berfikir kalau Arcane pergi untuk mengacau dan pastinya ia telah menyinggung seseorang dan kini merengek meminta perlindungan.
__________________________________________________________
disisi lain Arcane sendiri sedang bersandar di depan istana, kemudian seorang pelayan keluar dan berbicara kepada Arcane dengan tidak sopan.
"kau telah di ijinkan masuk"
Arcane hanya mengangguk dan mengikuti dari belakang, sembari itu juga ada prajurit yang menggendong Brown dan Gray yang tak sadarkan diri.
beberapa saat kemudian mereka telah tiba dan dengan suara teriakan penjaga pintu Arcane masuk ruangan yang sangat mewah.
sang raja tentu saja duduk di singgasana yang dibagun di tempat tinggi dan para ratu di tempat yang lebih rendah, lalu di ikuti oleh para pangeran dan mentri.
ketika masuk Arcane tersenyum lebar dengan mata datarnya itu ia memandang sekitarnya, ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian berkata.
"ini terasa Dejavu, namun tidak ada Selena, raja Albert dan putri Luna saja"
semua orang langsung merubah tatapan mereka, lalu raja James langsung memulai pembicaraan.
"jangan basa basi apa yang kau inginkan kali ini"
Arcane maju kemudian memberi hormat kemudian ia berbicara dengan lantang.
"salam semuanya, sebelumnya aku minta maaf akan kesalahanku.
selanjutnya aku di sini meminta untuk meringankan hukuman ku... "
Arcane berhenti sejenak dan memandang sekitar lalu tentu saja semua orang disana langsung tertawa kecuali raja James dan ratu Elizabeth karena tebakan mereka benar dan ada juga beberapa orang yang melakukan taruhan.
kemudian pangeran frost menanggapi.
"hahahaha....
aku melihat kau telah memukuli pelayanan sampahmu...
Apakah itu membuat ayahanda akan meringankan hukumanmu? "
Arcane masih tersenyum namun tanpa di sadari semua Orang tangan kirinya ia sembunyikan dan mengepal dengan kuat hingga bergetar.
setelah beberapa saat dan semua orang puas tertawa Arcane melanjutkan perkataannya.
"sebagai penebusan ku aku akan memberikan kalian informasi tentang pergerakan dunia bawah"
semua Orang langsung membeku dan kini mulai serius ketika ada yang menyangkut tentang dunia bawah Arcane tersenyum dengan penuh kemenangan.
lalu raja James memberi syarat kalau menyuruh Arcane kembali melanjutkan ceritanya.
"yah ketika semalam aku ketempat judi aku mendengar kalu dalam waktu dekat mereka akan melancarkan serangan kepada tempat judi yang semalam aku kunjungi Jadi kita bisa melakukan beberapa persiapan untuk menangkap mereka dan mendapatkan informasi.
untuk kedua pelayan ini aku telah sadar ketika mereka mencoba menghianati aku, jadinya aku juga memohon untuk mengeksekusi mereka dengan tanganku sendiri " jelas Arcane.
"hepmbbb..... " sebuah suara seperti seseorang berusaha berbicara terdengar, semua orang melihat darimana asalnya dan ternyata itu adalah Brown yang tersadar.
Brown sadar bebarengan ketika Arcane sedang berbicara panjang lebar mengenai pernyataan yang dilontarkan, tentu saja Brown kini merasakan kekecewaan nya.
ia berusaha kini berusaha menyerang Arcane dan mengungkapkan semua kekecewaan yang berada di hatinya, namun ketika itu Arcane tersenyum jahat namun dengan tatapan datar berkata kepada Brown.
"apa? kau pikir aku menerimamu karena aku peduli? jangan berfikir terlalu jauh"
setelah berkata seperti itu Arcane langsung menendang perut Brown, tentu saja Brown kini menjadi kesakitan dan air matanya mengalir deras.
semua orang yang disana kini memiliki tatapan yang penuh penghinaan bukan kepada Brown dan Gray saja namun juga kepada Arcane.
bagi mereka Arcane adalah wujud dari noda di kain sutra, meskipun ia memiliki seorang adik tapi adiknya bagaikan parfum yang menambah kesan di kain itu.
"cukup, prajurit bawa mereka ke ruang tahanan" kata Elisabeth yang tak tahan akan perilaku Arcane yang bahkan ia sempat menendang kepala Gray yang masih pingsan ketika akan dibawa prajurit.
setelah semua itu selesai Arcane kini berlutut dan berkata.
"Jadi ayah... bagaimana dengan proposal ku? "
James hanya menghela nafas lalu berkata.
"bagaimana kau yakin informasi ini benar?
karena hanya orang bodoh yang menyusun rencana penyerangan di wilayah musuh"
Arcane menjawab dengan penuh keyakinannya.
"tapi mereka menyebutkan tentang kehancuran geng dead bath, Jadi aku yakin kalau tempat itu ada hubungannya dengan dunia bawah"
setelah berkata seperti itu kali ini ratu Lina berkata
"apa kau punya bukti? "
Arcane mengangkat kepalanya dan memasang ekspresi kebingungan dan gugup, siapapun yang melihatnya bisa tau kalau Arcane tidak memilikinya.
lalu ratu Lina kembali berkata.
"kau tidak memiliki bukti, darimana kau tau kalau akan terjadi penyerangan? "
Arcane menjadi semakin panik ia kemudian merendahkan Kepalanya dan berkata kepada ayahnya.
"ayahanda aku mohon percayalah kepadaku, hamba yakin kalau mereka akan menyerang dalam waktu dekat. "
raja James hanya menatap Arcane tajam dan tanpa bicara, lalu tak di sangka-sangka ibunya ratu Elizabeth berbicara.
"cukup, kali ini hanya karena tidak ingin di hukum kau mau memberikan laporan palsu.
kau di hukum dengan di kurung dalam istana ini arcane sampai kau di asingkan"
Arcane mendongak dan menatap Elizabeth dengan perasaan ketakutan dimatanya namun Elisabeth tidak bergeming.
sementara itu James memandang Arcane dengan tatapan tajam ia kemudian berkata.
"hanya itu? kalau tidak salah kau juga memiliki maasalah dengan pendeta yang memberkati dirimu"
Arcane kemudian dengan lesu berdiri dan mendekati pendeta itu yang berada di dekat pangeran ke 2 Elias, Arcane membungkuk seraya meminta maaf.
"ma... maafkan aku pendeta yang Agung"
pendeta itu memasang pandangan yang merendahkan lalu mengangkat kakinya dan menginjak kepala Arcane hingga membuat bersujud.
"jika ingin meminta maaf lanjutkan juga dengan mencium kakiku"
sebenarnya ini sangat berlebihan namun semua orang memilih diam, Arcane dengan berat mencium kedua kaki pendeta begitu selesai pendeta itu malah menendang kepala Arcane dan membuatnya terjatuh.
"prajurit bawa dia dan kurung dia di kamar menara" kata Elizabeth.
kamar menara biasanya di gunakan penjaga untuk beristirahat saat melakukan pergantian sift malam ke pagi jadinya kamar itu adalah kamar yang kwalitasnya sangat buruk.
disisi lain berbarengan dengan itu selena datang dan melihat keadaan kakaknya ia menghampiri nya namun Elizabeth menahannya.
"jangan dekati dia selena"
selena yang bingung pun menjawab.
"kenapa? kenapa kakak di perlakuan seperti ini? "
Elizabeth kemudian berkata dengan kejam.
"jangan panggil dia kakak, sebenarnya kini aku ragu kalau ia adalah anakku"
bebarengan dengan itu prajurit datang dan menyeret Arcane, selena berusaha mencegahnya namun para prajurit tidak mau mendengar.
selena bahkan membungkuk ke hadapan ibu dan ayahnya namun tidak di gubis, disaat itu si pendeta berkata dengan lantang.
"Arcane renungan perbuatanmu dan yakinlah akan ada perubahan ketika kau melakukannya"
Arcane kemudian membalas dengan datar.
"Ya... perubahan akan datang"
ketika di bawa pergi Arcane menoleh dan menatap semua yang ada di ruangan ini, lalu ketika keberadaannya akan terhalang dan pergi Elizabeth melihat raut wajah Arcane yang tersenyum mengerikan bahkan matanya juga berubah.
lalu tanpa sadar setetes air mata Elisabeth kekuar