
Elizabeth dengan membawa sebuah nampan berisi sup hangat memasuki kamar arcane, dan di sana ia mendapati kalau anaknya sedang duduk di kursi balkon.
pada balkon itu terdapat taman mini dengan ayunan berada di sebelah kiri sementara sisi lainnya terdapat meja bundar dan 4 kursi yang mengelilinginya, dan di kursi itu arcane duduk sengan memakai sebuah jaket dan celana pendek.
arcane yang sedang memandangi taman luas sedikit terkejut dengan kedatangan ibunya.
"hoh.... tumben anak ibu sedang menikmati pemandangan"
arcane menoleh dan tersenyum lembut.
"yah tidur seharian tidak nyaman jadi aku mencari suasana lain"
Elizabeth langsung duduk bersebelahan dan langsung menyuapi arcane.
arcane menolak namun ibunya bersikukuh untuk menyuapi nya, dan akhirnya arcane hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan ibunya.
memanfaatkan waktu itu arcane juga berbicara ringan dengan ibunya tentang kondisi kerajaan dan lain-lain, sesungguhnya ibunya sedikit terkejut dengan obrolan itu karena anaknya tiba-tiba tertarik dengan topik seperti itu.
setelah makan Elizabeth pergi karena ada urusan lain, sementara arcane berkeliling untuk memperkuat ingatannya tentang seluk beluk tempatnya.
setelah beberapa saat berkeliling ia tau kalau ia berada di mansion black rose, salah satu dari 3 mansion yang di khususkan untuk ratu kerajaan.
mansion itu di bangun untuk tempat tinggal ratu dan anak-anak nya, sementara raja tinggal di istana karena fungsinya untuk tempat kerja kerajaan.
untuk mansion ini sebenarnya mansion Paling kecil dan sederhana karena desainnya yang minimalis dan tampilan luarnya yang elegan berwarna hitam, dan itu membuat kesalahan tersendiri dimana tamannya yang indah dan luas.
setelah berkeliling ia menemukan apa yang ia cari, ia berhenti di sebuah pintu yang memiliki tanda nama ruangan di depannya.
"ini dia,.... tempat dimana pengetahuan berkumpul.
perpustakaan"
ya, demi beradaptasi dengan dunianya sekarang ia harus mengetahui tentang segala hal yang berhubungan dengan dunianya.
dan sekarang ia berada di perpustakaan dan tanpa basa basi ia langsung memasuki ruangan itu, dan yang di dapatinya adalah ruangan yang temboknya rak buku dan di isi penuh.
beberapa saat berlalu dan kini dalam wajah arcane terukir kekecewaan yang sangat jelas, kekecewaan itu berasal dari apa yang di simpan dalam perpustakaan itu sendiri.
karena disana susunan bukunya terlalu acak dan kebanyakan buku yang di dapatinya adalah buku syair dan puisi yah meskipun beberapa diantaranya ada sedikit kaitannya dengan sihir.
namun di balik itu ia juga mendapatkan beberapa buku tingkat dasar sampai menengah tentang sihir dan kesatria, namun hal yang paling ia cari adalah buku tentang tehnologi.
ia sebenarnya juga memisahkan buku-buku itu berdasarkan isinya, yah meskipun sebenarnya ia mensortir buku yang ia butuhkan dan penumpuk nya di tempat yang terpisah dan membutuhkan waktu sampai malam untuk memilah buku itu.
ia dapat menemukannya namun setelah membaca sedikit ia kecewa karena tehnologi di jaman ini terlalu terbelakang, itu di karnakan sihir yang lebih di gunakan oleh masyarakat membuat tehnologi semakin di tinggalkan.
namun kini di fikiran arcane berbeda, dengan adanya sihir maka ia bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik atau luar biasa dari kehidupannya dulu.
namun kali ini ia berencana untuk menikmati kehidupannya bukan untuk membuat trobosan gila gilaan dan membuat dirinya sasaran dunia.
"pelayanan....."
arcane berteriak dan memanggil pelayanan, dan sesaat kemudian seorang pria usia lanjut dengan janggut dan kumisnya yang dirapikan dan memakai baju pelayan datang.
"ada apa tuan?"
pelayan itu datang dan membungkuk memberi hormat kepada arcane.
"mark, tolong bawa beberapa buku berada di tumpukan itu ke kamarku.
lalu panggil beberapa pelayan lain untuk menyusun ulang perpustakaan ini, dan bawakan kepadaku jika menemukan buku tentang sihir, kesatria dan sumber daya alam."
pelayan yang di panggil mark itu keheranan dan saat akan bertanya arcane menyelanya.
"sudah lakukan apa kataku"
arcane langsung menyusun beberapa buku dan membawanya ke kamarnya dengan mark, yah meski ia hanya bisa membawa 3 buku karena tubuhnya yang masih terluka.
sementara itu mark memberi perintah kepada pelayan lain untuk melaksanakan perintah arcane.
pekerjaan itu memerlukan waktu lama karena di mansion itu hanya ada 5 pelayan dan 2 diantaranya adalah juru masak dan tukang kebun, apalagi buku yang di inginkan arcane cukup banyak.
jadinya memerlukan waktu sampai tengah malam untuk menyelesaikan semuanya.
dan ketika selesai alis arcane berkedut karena bukunya memenuhi kamar dan rak yang ia miliki penuh dengan makanan dan perhiasan, jadi tidak cukup untuk menyimpan semua buku itu.
"sial sepertinya aku harus mulai mengosongkan beberapa hal"
_______________________________________________________
malam telah berlalu dan kini pagi yang indah telah mendatangi kediaman black rose, namun berbeda dengan hari-hari biasanya, semua pelayan terlihat sibuk mondar mandir.
bukan karena suatu masalah, kesibukan itu di karnakan sang pangeran yaitu arcane merombak kamarnya.
mulai dari mengosongkan lemari rak yang berisi makanan dan perhiasan digantikan menjadi lemari rak yang berisi buku tebal.
lemari pakaian yang terlihat penuh dan patung manekin yang terpasang baju mewahnya sebagian ia kosongkan, dan semua barang itu ia jual karena tidak ada yang menarik selain mewah dan menyilaukan tidak ada yang spesial, yah meski untuk beberapa batu permata masih ia simpan sebagai tabungan investasi.
Untuk makannya ia berikan kepada semua pelayan yang ada di tempat itu, tidak peduli mau di jual, di bagikan, ataupun di buang arcane tidak peduli.
setelah selesai arcane memberikan semua pelayan yang membantunya perhiasan yang di milikinya sebagian bonus.
"tuan ini?"
"ambil saja, anggap sebagai bonus karena bekerja di kediaman ini dan sebagai uang tutup mulut dengan apa yang aku lakukan saat ini"
para pelayan terlihat bingung dan sedikit ragu, dan mark lah yang mewakili mereka untuk bertanya karena ia adalah kepala pelayan di mansion ini.
"yang mulia ini terlalu banyak untuk kami, kami juga menerima gaji yang cukup jadi..... "
ketika akan mengembalikan perhiasan itu arcane kembali berkata.
"itu adalah bonus dariku tidak termasuk gaji kalian, karena kalian telah membantuku merenovasi kamarku.
dan sebagai uang muka untuk membantuku menjual pakaian dan perhiasan lain, jika kalian tidak mau maka buang saja"
setelah mengatakan hal itu ia langsung mengambil beberapa buku dan duduk di meja yang kerja (meski sebenarnya itu adalah meja belajar namun sepertinya tidak pantas untuk di jadikan meja belajar karena terlalu besar dan mewah).
para pelayan itu sedikit gemetar namun tersenyum bahagia karena bonus yang di berikan arcane diperkirakan setara dengan 3 tahun bekerja sebagai pelayan, mereka pun menunduk dan memberi hormat kepada arcane.
"trimakasih yang mulia, trimakasih"
arcane melirik mereka dengan wajah datar dan mengangguk.
"baik, lanjutkan tugas kalian dan bawakan aku jus tomat kemari"
para pelayan menjawab dengan senang hati.
"baik tuan"
sebenarnya mereka enggan melakukan perintah dari arcane karena reputasinya, namun dengan kejadian pagi ini pandangan mereka kepada arcane telah membaik meski tidak sepenuhnya percaya.