Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 34


arcane terkejut dan melihat kalau adik kecilnya memeluknya dengan sangat erat, seperti seorang anak yang tidak ingin kehilangan mainannya.


ia juga merasakan ketakutan, kelegaan dan kekhawatiran ibunya yang kini merembes kedalam hatinya, rasa hangat asing ini sedikit mengganggu arcane namun ini membuatnya sangat nyaman.


arcane kemudian menatap marina yang tersenyum tulus, brown yang meneteskan air mata dan gray yang berusaha membendung air mata untuk tidak keluar.


arcane tersenyum dan berkata dengan lembut.


"maaf membuat kalian khawatir"


__________________________________________________________


keesokan harinya di pagi yang cerah arcane, selena, Elisabeth dan marina sedang makan bersama.


mereka makan dengan keheningan total hanya suara peralatan makan yang terdengar, ketika mereka selesai makan arcane memulai pembicaraan.


"ehem....., apakah aku bisa meminta sesuatu? "


Elisabeth menghentikan makannya juga dan menjawab.


"ada apa arcane? "


"bisakah aku kembali dilatih oleh kakek? "


perkataan arcane membuat semua orang disana menghentikan kegiatannya saat itu juga, ingatan tentang arcane yang terluka di latihan pertama masih membekas segar di ingatan mereka.


Elisabeth tentu langsung menolak permintaan itu.


"tidak mungkin, apakah kau lupa dengan pelatihan di hari pertama mu itu! "


arcane ingin membalas namun marina mendahuluinya.


"benar arcane, nenek akan mencarikan guru yang lebih baik jika kau ingin belajar.


nenek tidak ingin membuat dirimu celaka seperti kemarin"


arcane terdiam sesaat kemudian ia berkata dengan tegas.


"ibu.....nenek.....


aku tau.... namun ini keputusanku.


Elisabeth masih resah, mau bagaimanapun kejadian kemarin membuat dirinya trauma.


"tapi nak... "


arcane mengerti kegelisahan ibunya dan ia pun menegaskan kembali.


"aku mengerti ibu, ketika aku merasa kalau aku tidak mendapatkan apapun aku akan meminta berhenti.


lagi pula sepertinya aku lebih nyaman jika latihan sendiri,mungkin lebih baik nenek dan ibu bisa memberikan beberapa buku dari perpustakaan istana"


Elisabeth dan marina saling menatap, mereka bisa melihat kalau tekad arcane sangat kuat dan tanpa keraguan sama sekali.


marina meminta Elisabeth menyetujuinya karena ia merasa kalau arcane adalah besi yang perlu di tempa dengan sangat keras apalagi arcane seperti besi yang memiliki kesadarannya sendiri yang dimana ia bisa mengetahui titik mana saja yang perlu di tempa.


Elisabeth kini hanya bisa mengangguk dan kini giliran selena yang berbicara karena tidak tahan.


"aku juga menginginkan sesuatu"


mereka bertiga menoleh dan menunggu selena berbicara, selena kini gugup lalu wajah nya mulai merona ia berbicara dengan wajah yang di palingkan.


"ehem.....


besok aku harus kembali ke akademi, dan aku ingin menghabiskan hari ini dengan kakaku.


setidaknya memastikan dirinya tidak bertindak bodoh"


mereka semua tertawa kecil dan disambut baik oleh arcane.


"tidak masalah.... "


mereka kini menyelesaikan makanan mereka dan langsung berpisah dimana arcane kembali ke kamarnya dan ketika masuk kedalam kamarnya ia langsung memasang raut wajahnya menjadi serius.


ia berdiri di tengah-tengah ruangan dan mulai memfokuskan diri dalam keadaan meditasi, ia bisa merasakan setiap jengkal mana yang mengalir di seluruh tubuhnya.


ketika meditasi nya menjadi lebih dalam 2 sosok muncul dengan kekuatan dan aura yang luar biasa, mereka di ruangan yang sama saling bertarung dan melukai.


arcane tertekan dengan aura dan pemandangan itu, membuat seluruh tubuhnya merinding, detik berikutnya ia kembali ke kenyataan dengan keringat yang keluar deras dari tubuhnya.