
dijalan yang sepi ada di gelapnya malam, sinar lampu remang-remang menyinari jalanan batu dan tanah, jalanan kotor yang penuh sampah sana sini.
pada jalan itu ada 3 orang yang melewatinya, mulai dari paling depan adalah thin, dan 2 orang lagi mengikuti dari belakang adalah arcane dan gray.
pada suatu persimpangan thin berbelok dan langsung masuk kedalam gang dan berjalan di sana melalui beberapa belokan rumit, lalu tak lama kemudian mereka sampai di sebuah bangunan yang mirip pabrik dan gudang.
gang itu cukup gelap dan arcane langsung merilis bola api yang melayang di atas thin, itu membuat pandangan mereka lebih jelas dan nyaman.
"bagus sekali kau tidak kabur di gang itu"
arcane menepuk pundak thin dan menatapnya dengan dingin.
thin yang di pandang seperti itu membuatnya merasa ngeri sendiri.
"hahaha.... mana berani, kan saudaraku berada di tanganmu"
thin tentu saja berbohong, semua preman yang menemani dirinya kini telah di tahan di tempat gavin arcane tidak takut mereka melarikan diri karena jika mereka lari jebakan yang di pasang gavin akan membuat mereka sengsara.
sementara itu thin juga berencana kabur namun ia melihat kalau arcane melayangkan sihir semudah bernafas membuatnya tidak berani macam-macam, apalagi bola api yang berada di atas kepalanya belum hilang jika arcane mau saat ini pun ia akan menjadi daging panggang.
"baik, sekarang kau bisa pergi.....
mau kabur atau kembali itu pilihanmu"
kata arcane sembari berjalan ke markas preman itu.
thin sedikit tertegun karena arcane begitu memegang perkataannya, ia sadar dan langsung berbalik pergi.
"gray... "
"hamba siap menerima perintah"
"siapkan dirimu, dan jangan menahan diri.
aku tidak peduli kau membuat cacat seseorang atau bahkan membunuh yang penting kau harus selamat"
"siap!! "
gray kini langsung mengeluarkan pedang yang ia bawa, sebagai pengawal ia selalu membawa senjatanya setiap saat.
dan pedang itu adalah milik dirinya sendiri dari arcane bukan di pinjami seperti ketika saat ia menjadi budak, ketika menjadi budak ia pernah du suruh untuk menjadi pengawal karena bakat bertarung nya.
namun ketika itu ia tidak pernah di beri senjata, ia sebenarnya pernah memegang senjata namun itu tidak lama karena tuannya merampas senjata itu.
namun saat ia di beli oleh arcane ketika ia di beri pekerjaan untuk menjadi pengawal pribadinya, arcane tidak ragu untuk memberi dirinya senjata dari koleksi pribadinya.
meski pedang itu memiliki tampilan lumayan bagus namun pedang itu sangat kokoh dan mudah untuk di aliri mana, karena hal itu hati gray tersentuh dan membuatnya selalu membawa pedang itu kemana-mana.
sementara itu untuk arcane ia cukup beruntung memeiliki koleksi seperti itu dari pemilik sebelumnya meskipun tidak terlalu banyak, ia tidak menjualnya karena tau kalau beberapa benda lebih mementingkan fungsinya daripada penampilannya.
kembali ke cerita.
kini arcane mengangkat tangan kanannya dan membuat bola itu semakin kuat, bola itu awalnya seukuran kepalan tangan namun kini menjadi sebesar bola sepak ,warna dari bola yang awalnya kuning terang kini menjadi biru.
arcane tampa ragu langsung meluncurkan bola itu ke pintu pabrik itu, pintu itu sangat besar seperti pintu gudang dan sepertinya bangunan itu menjadi satu antara gudang dan pabrik karena bentuk nya yang sangat besar dan lebar.
"DUAR"
debu mengepul di sekitar pintu, banyak orang berhamburan keluar karena panik sementara ada juga beberapa orang yang waspada di sekitarnya.
arcane menilai dari ciri fisik mereka kalau yang melarikan diri adalah para pekerja kasar dan mereka yang waspada adalah penjaganya.
setelah memberi kode kepada gray mereka berdua langsung menerjang masuk kedalam bangunan ituitu, mereka memanfaatkan kondisi yang kacau dan masuk dengan lancar.
didalam arcane melihat kalau banyak meja kerajinan dan berbagai alat diatasnya.
arcane mendekati salah satu meja dan mengambil sebuah benda mirip pensil disana, ada sebuah tombol untuk mengaktifkan benda itu.
"solder"
arcane tersenyum karena itu adalah peralatan pertama yang ia pegang selama di dunia ini, sebagai seorang mekanik ia memiliki ketertarikan tersendiri dengan peralatan.
arcane langsung melihat beberapa alat yang ada di sana dan kini ia tahu kalau meski beberapa alat memiliki bentuk yang aneh dan harus di aliri mana fungsinya tidak jauh beda dengan peralatan di dunia lamanya.
meski ia memiliki beberapa peralatan sihir namun itu adalah hal yang berbeda dengan apa yang ia pegang saat ini,hak ini membuat jiwa mekaniknya bergejolak dan tenggelam dalam fikiran nya sendiri.
"HEI SIAPA KALIAN!!!"
suara teriakan menyadarkan arcane, ia menoleh dan menyadari kalau ia telah di kepung oleh banyak preman.
"dimana bos kalian?! "
kata arcane tanpa basa basi.
"ada urusan apa kau dengannya?! "
"merebut usahanya! "
ucapan arcane membuat preman disana kebingungan sementara itu arcane memberi kode kepada gray untuk langsung menyerang mereka.
pertempuran langsung terjadi disana, arcane terus bertarung dengan tangan kosong karena ia tidak cocok dengan pertarungan menggunakan pedang.
meskipun telah berlatih menggunakan pedang ia masih merasa kalau pedang membuat gerakannya tidak leluasa dan nyaman meskipun para preman itu menggunakan senjata seperti tongkat dan pisau.
jadi meski ia memiliki beberapa pedang ia tidak menggunakannya, sementara itu gray ia telah mengeluarkan pedangnya sejak tadi telah menebas dengan kuat beberapa preman itu.
Rata-rata para preman itu memiliki aura berwarna merah dan sisanya masih berwarna jingga, namun itu tidak membuat mereka unggul.
dapat di lihat kalau sihir arcane cukup efektif apalagi ia juga bisa melakukan beladiri, itu membuatnya sulit untuk di dekati.
untuk gray ia sebagai seorang half beast yang mana memiliki kekuatan melebihi manusia dan di tambah sihirnya yang memperkuat serangan dan kecepatannya membuatnya menjadi sangat tangguh.
pertarungan itu terjadi hanya sebentar karena seseorang berteriak, meski begitu banyak preman telah tumbang akibat gray dan arcane.
"HENTIKAN!!...... SESEORANG JELASKAN APA YANG TERJADI DI SINI!!!!"
ia adalah seorang pria berotot dengan banyak bekas luka yang di wajah dan memakai penutup mata di sebelah kanannya.
tak lama setelah ia berteriak ada seseorang yang datang menghampiri.
"tuan ada 2 orang yang menerobos kedalam markas!!! "
"siapa! "
"disana tuan"
orang itu menunjuk ke arah arcane dan gray.
melihat itu ia langsung melompat dari lantai dua dan langsung berada di hadapan arcane.
arcane sedikit terkejut dengan kedatangan orang itu dan dalam sekali pandang ia mengetahui kalau orang yang ada di hadapannya adalah bos dari tempat ini.
"hehehe....
kau pemilik tempat ini? "
meski sudah tau namun arcane merasa kalau lebih Baik mengkonfirmasi dulu.
"benar, sekarang apa mau mu!? "
arcane tersenyum mengerikan dan menatap tajam pria itu.
"tunduk kepadaku, dan berikan tempat ini kepadaku"