Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 122


Arcane memacu kereta kudanya dengan santai, bisa di bilang kuda yang ia ambil hanya berjalan tidak berlari.


Arcane sengaja melakukannya supaya ia bisa menikmati udara segar di hutan itu.


"hah.... berbeda sekali dengan kehidupan ku dulu yang bahkan pohon pun berupa besi"


"hah... hah... hah..... tolong!!!! "


ketika ia sedang berjalan santai tiba-tiba ia mendengar seseorang yang berteriak, Arcane tidak bergerak hanya duduk bersandar di kursi kusir dengan santai.


sementara itu di depan terlihat anak kecil berlari, meskipun kecil namun larinya sangat cepat dengan jubahnya yang menutupi seluruh tubuhnya ketika ia berlari dan melihat kereta kuda Arcane anak itu langsung melompat dan mendarat di gerbong kereta dan berbisik.


"diam dan lindungi aku atau kau akan mati"


anak itu langsung bersembunyi di antara tumpukan rongsokan yang di bawa Arcane.


beberapa saat kemudian beberapa orang datang dari kejauhan, mereka berlari menggunakan armor berat dan lengkap.


mereka ada sekitar 5 orang yang sangat kelelahan, Arcane menduga kalau mereka mengejar anak kecil itu ia hanya memasang sikap biasa dan tenang.


ketika prajurit itu datang mereka langsung bertanya kepada Arcane.


"hei kau apa kau melihat seorang anak kecil kemari!? "


Arcane dengan tenang menjawab.


"iya"


"dimana? "


kata salah satu prajurit.


"deg... " anak kecil sebelumnya mendengar perkataan Arcane, dadanya kini terasa sesak dan ketakutan namun ia hanya bisa berdo'a


"ia baru saja melewati aku, sepertinya kakinya terluka akan sesuatu ketika akan memasuki hutan"


kata Arcane.


para prajurit itu saling menatap dan jejak ketakutan kini muncul di wajah mereka.


"a... apakah ia memasuki hutan? "


Arcane menggeleng sebelum menjawab.


"tidak ketika ia mencoba memasuki hutan ia ketakutan dan kemudian berlari menyusuri jalan ini"


prajurit itu langsung berlari kembali namun salah satu prajurit menunduk dan berterimakasih sebelum pergi, Arcane hanya mengangguk dan meneruskan perjalanannya.


tak berapa lama kemudian seseorang datang dengan cepat menaiki seekor kuda, tak hanya itu ia juga mengenakan zirah yang cukup elegan.


Arcane dan pria itu hanya saling menatap singkat, namun pria itu berhenti dan dengan arogan bertanya kepada Arcane.


"hanya pupuk untuk bertani, pupuk dari kotoran hewan"


kata Arcane santai.


pria itu mencibir.


"huh kaum udik, kau bahkan tidak memberi hormat kepada penguasa"


Arcane tersenyum di balik topengnya dan membalas dengan santai.


"maaf namun jika Saya melakukannya kuda-kuda ini akan langsung berlari, karena telah melihat sesuatu yang mengerikan"


pria itu kemudian melanjutkan perjalanannya namun sebelum pergi ia menendang kereta kuda Arcane dan membuatnya berguncang.


Arcane tidak memperdulikan nya dan meneruskan perjalanan.


setelah beberapa saat mereka telah keluar di percabangan jalan, Arcane berhenti sejenak dan berkata dengan lantang.


"keluar lah, sudah aman sekarang"


anak itu langsung berdiri dan menatap sekitar, ia juga mengarahkan belati ke Arcane.


"dimana ini? "


Arcane dengan santai langsung menjawab.


"di sebuah persimpangan jalan, aku tidak tau pasti namun aku akan menuju timur.


dan lebih baik kau keluar sekarang karena meskipun kau melalui jalan yang sama aku tidak ingin memberi tumpangan kepada siapapun"


anak itu bukannya pergi ia malah maju dan menghunus belati nya di tengkuk Arcane.


"huh, kau tidak tau kalau kereta dan kuda ini sekarang menjadi milikku"


Arcane hanya berbalik dan menatap datar anak kecil itu dan berkata.


"hoh.... aku takut sekali"


merasa di remehkan ia kini melakukan hal yang lebih ekstrim, anak itu kini memasang belatinya tepat di tenggorokan Arcane dan ia pun berkata.


"sekarang apa yang akan kau lakukan? "


melihat itu Arcane hanya tersenyum lalu tiba-tiba ia membisikkan sesuatu.


"~air defensif~"


Sontak sebuah lingkaran sihir tercipta dan sebuah sihir angin mendorong anak itu hingga terjatuh, Arcane hanya tertawa dan melanjutkan perjalanannya menuju timur.