
waktu telah berlalu tanpa terasa 1 minggu telah terlewat, saat ini Arcane dan Ghor telah sampai di sebuah kota pesisir.
Ghor saat ini telah seperti biasanya, memerlukan waktu sebanyak 3 hari untuk membuat Ghor yakin kalau dirinya tidak di racuni.
dalam waktu itu pula ia semakin tertarik dengan Arcane karena bisa melakukan sihir dengan bebasnya dan bahkan seperti menempa besi, selain itu Arcane juga mengetahui asal-usul Ghor.
Ghor bilang kalau dirinya adalah dwarf murni namun entah mengapa ia memiliki tinggi di atas Rata-rata, ini membuat dirinya dikucilkan oleh para dwarf lain.
ia juga tidak pernah melihat ayahnya sejak lahir dan ibunya telah meninggal sejak lama, akhirnya di usia 15 tahun ia pergi meninggalkan kerajaan dwarf dan sekarang ia telah berusia 18 tahun.
sementara itu Arcane memberi tau Ghor kalau ia adalah anak yang tidak diinginkan oleh keluarganya, lalu ia akhirnya membuat masalah dan pergi untuk berpetualang.
sebenarnya Arcane takjub karena tinggi dwarf tidak sampai 1 meter namun Ghor kini memiliki tinggi yang lebih 1 meter, Arcane mengerti dengan kondisi Ghor saat ini.
setelah arcane membayar biaya masuk Arcane langsung berkata kepada Ghor.
"baik sekarang apa rencanamu? "
Ghor berfikir beberapa saat, dan akhirnya menggelengkan kepala.
"tidak ada, selain menempa tidak ada yang bisa aku lakukan.
saat ini juga aku sedang dalam keadaan terdesak, jika boleh aku ingin ikut denganmu"
mendengar itu Arcane hanya mengangguk tanda kalau ia tidak masalah.
"kalau begitu kau bisa menilai sebuah benda kan khususnya besi? "
Ghor tersenyum dan langsung tertawa keras dan berkata dengan yakin.
"hahahaha....
biarpun dengan mata tertutup aku bisa mengenali jenis logam yang berbeda beserta kwalitasnya"
Arcane mengangguk kini tugasnya semakin ringan, memang selain mencari Blue Arcane disini juga ingin membeli beberapa benda.
Arcane takut kalau ia membeli barang palsu dan ia tidak bisa menilai barang itu, namun dengan adanya Ghor ia bisa menghilangkan kekhawatiran itu.
Arcane langsung memesan 2 kamar hotel dan memikirkan kereta dan ke-tiga kudanya, setelah mengurus beberapa pembayaran ia dan Ghor beristirahat.
__________________________________________________________
di sebuah trotoar yang cukup ramai Selena ditemani beberapa pengawal menyusuri jalanan yang ramai, ia dengan semangat kesana kemari melihat-lihat apa yang di jual oleh pedagang kaki lima.
ketika sedang asik seorang pengawal menghampiri dan berbicara dengan Selena.
Selena memiringkan kepalanya dan bertanya.
"kakek? kenapa? "
kesatria itu mendekat dan berbisik kepada Selena.
"apa yang Mulia lupa kalau anda akan datang ke pelelangan malam ini? "
Selena langsung ingat dan bergegas.
"benarkah, ayo kalau begitu"
Selena kembali dengan riang bersama para pengawal, setelah beberapa saat berjalan ia langsung memasuki ruang kerja kakeknya.
"KAKEK KAPAN KITA BERANGKAT!? "
kata selena yang langsung berteriak.
sementara itu Jones tersenyum dan berkata dengan ramah.
"bersiaplah, kita akan berangkat malam ini"
"hm.. "
Selena mengangguk dan langsung berlari dengan riang.
ketika ia berlari Selena juga berpapasan dengan Elisabeth, Elisabeth melihat Selena tersenyum riang tak kuasa menghentikan kesenangannya.
mereka hanya saling menyapa dan Elisabeth langsung pergi ke ruang kerja ayahnya, ketika ia masuk Elisabeth langsung mengatakan maksudnya.
"ayahanda"
Jones melihat anaknya dan tersenyum.
"ada apa? "
Elisabeth kemudian duduk di depan Jones dan berkata.
"kenapa aku juga harus ikut kedalam lelang itu"
Jones menggeleng ringan dan berkata.
"karena firasat ku mengatakan kalau seseorang akan berpamitan untuk memulai perjalanannya"