
"aaargh sungguh lelah" keluh Arcane.
"tuan anda baru berjalan 1 km dari gerbang" jelas Blue yang terbang mengitari Arcane.
Arcane berbalik dan menatap gerbang ibukota yang megah ia pun terus berjalan menuju sebuah hutan yang ada di depannya.
"sial aku tidak tau kalau berjalan akan selelah ini" kata Arcane sambil mengelap dahinya.
"tuan mungkin itu karena anda jarang melatih tubuh fisik anda, ingat beberapa waktu lalu anda tidak pernah berlatih fisik anda"
Arcane hanya berjalan dengan sempoyongan tanpa menjawab pertanyaan Blue, saat ini Arcane menuju kearah timur dimana katanya ada sebuah peradaban yang sangat unik.
Arcane tiba di tepi hutan begitu sampai ia langsung merebahkan diri di bawah pohon rindang, nafas Arcane perlahan-lahan mulai teratur dengan semilir angin lembut ia perlahan tertidur.
namun baru terpejam telinganya menangkap sesuatu.
"tolong... tolong... "
Arcane terbangun dan menoleh ke kanan dan ke kiri, ia menyadari kalau suara itu ternyata dari kedalaman hutan.
"apakah ini kejadian umum yang berada di setiap novel? , cih sungguh tidak kreatif penulis novel ini" kata Arcane menggerutu.
tanpa basa basi Arcane berdiri di ikuti dengan blue di belakangnya ia langsung memasuki hutan, Arcane langsung menggunakan kekuatan anginnya untuk meloncat dan bermanuver di antara pepohonan yang rindang.
ia sebenarnya sangat menikmati suasana hutan yang asri dan masih segar, bukan seperti hutan tempat tinggalnya yang telah rusak dan manusia bukannya memperbaiki malah membuat pohon buatan untuk membersihkan udara.
setelah beberapa saat Arcane mencium bau terbakar ia langsung mempercepat langkahnya dan semakin gesit, Arcane seperti itu karena jika hutan terbakar maka hewan akan keluar dan merusak ladang.
jikalau manusia hanya menghalau para binatang si tidak masalah tapi rasa tamak manusia melihat hutan bekas terbakar pastinya akan ada satu dua orang yang akan mengambil kesempatan untuk mengolah tanah itu.
kembali ke cerita Arcane telah menemukan sumber api ia kemudian bersembunyi di atas pohon dan melihat keadaan.
ketika Arcane melihat kebawah nampak sekelompok pria berpakaian acak-acakan dan banyak dari mereka menggunakan mantel atau armor kulit dan membawa pedang dan tombak yang ter hunus dari perawakan mereka sudah dipastikan kalau mereka ada bandit atau perampok.
sementara itu ada juga kelompok pengemis yang menggunakan pakaian lusuh dan kotor yang dikumpulkan menjadi satu, nampak ketakutan dan kekhawatiran terukir jelas di wajah mereka.
"perampokan ya? " kata Arcane santai.
Arcane menatap datar pemandangan di bawah mereka, ia kemudian menyentuh dadanya mungkin lebih tepatnya ia menggenggam baju di daerah dadanya.
"aku tidak merasakan apapun ketika melihat mereka, namun jika aku mengabaikan mereka aku merasa kalau aku akan menyesalinya" kata Arcane.
"mungkin itu adalah dorongan kemanusiaan tuan"
Arcane menggeleng dan ia membalas.
"tidak, sepertinya aku akan mendapatkan anak buah lagi"
Arcane langsung melompat dan mengeluarkan sebuah pedang pendek dari sabuk nya, sementara itu blue terkekeh dan berkata dengan nada merdu khas suara anak perempuan.
"hihihi..... tuan memang tidak jujur akan dirinya sendiri"
Arcane mendarat tepat di pinggir kobaran api dan ia langsung menerobos api itu, begitu ia menerobos para bandit menyadari Arcane dan langsung berteriak.
"siapa kau bocah"
Arcane melihat sekeliling dan menyadari kalau mereka telah membawa tiga gerobak yang masing-masing berisi anak-anak, wanita dan pria.
di sekelilingnya juga baru mendapati kalau itu adalah puing-puing tenda sederhana yang pastinya di gunakan untuk tempat tinggal mereka.
Arcane menatap para bandit itu dan mengacungkan pedangnya.
"kalian apakah tidak mempunyai rasa malu?
oh aku yakin kalian tidak memiliki ********"
para bandit itu merasa tak trima, beberapa dari mereka lang menyerang Arcane.
"bangsat, kurang ajar kau!!! "
"ku bunuh kau anak kecil!!! "
Arcane hanya berdiri santai dan membiarkan mereka menghampirinya, namun...
"sling... crasssh.... "
Arcane bergerak kearah kiri yang kebetulan hanya ada 1 orang disana, ia bergerak dengan cepat meskipun dalam batas wajar namun bandit itu tidak terlambat menyadari serangan Arcane dan hal itu membuatnya lehernya tergorok.
"baik... siapa selanjutnya"