Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 53


arcane menoleh dan mendapati kalau ia adalah seorang perempuan yang kurang lebih seumuran dengannya, arcane menatapnya dengan ekspresi seolah-olah orang itu adalah udara.


kemudian dia membalas.


"sedang aku pikirkan, dan sebaiknya kau bergabung dengan yang lainnya karena anak kecil tidak boleh berbicara dengan orang asing"


wanita itu menaikkan alisnya dan kemudian memperkenalkan diri ala bangsawan.


"namaku luna lunar, putri kerajaan horn hills"


arcane membalas dengan asal namun tidak merubah postur tubuhnya yang bersandar di dinding.


"arcane, pangeran ke 3"


luna menjadi sedikit geram dengan sikap arcane namun ia masih tetap diam.


mereka akhirnya hanya saling menatap dan beberapa saat kemudian Elisabeth datang menghampiri arcane.


"ara.... ara.... sepertinya kalian sudah saling mengenal"


melihat Elisabeth datang luna langsung memberi hormat ala kerajaan.


"salam ratu ke 3, hamba luna lunar memberi hormat"


Elisabeth membalasnya dengan hormat juga.


"salam juga putri lunar"


sementara itu arcane hanya mengangkat gelas yang ia pegang, dan kembali menatapi kerumunan dengan tatapan datarnya.


Elisabeth hanya menggelengkan kepala dan luna memijit Kepala karena ia berfikir kalau dunia pasti sedang mempermainkan dirinya.


Elisabeth mendekati arcane dan berkata dengan martabatnya.


"arcane sebelumnya maaf karena guru yang kau inginkan tidak bisa di temukan.


dan ibu mohon sebagai seorang ratu tolong membaur lah, karena ini adalah pesta untukmu"


arcane menatap ibunya dan menjawab asal.


"meski ini pesta untukku bukan berarti aku harus hadir disini, juga aku yakin tidak ada satupun orang yang ingin berbicara dengan aku tanpa maksud tertentu"


setelah berbicara seperti itu ia pun melirik luna sejenak kemudian kembali ke aktivitas nya yang sebelumnya, Elisabeth hanya bisa menghembuskan nafas pasrah nya.


ia kemudian berkata kepada arcane.


"baiklah sepertinya kau perlu sedikit pemaksaan"


Elisabeth pun pergi dari sana meninggalkan arcane dan luna, suasana di antaranya terlihat sedikit berat dan canggung dimana tidak ada satu perkataan pun yang terucap.


hingga tiba-tiba ada ada suara Elisabeth terdengar dari arah pentas yang biasanya digunakan untuk menjadi panggung hiburan dan pertunjukan.


Elisabeth berdiri disana dan menggunakan sihir pengeras suara supaya tidak terlalu berteriak untuk didengar banyak orang.


"ehem tuan dan nyonya sekalian sepertinya suasana sangat membosankan saat ini.


maka dari itu anak saya arcane ingin mencairkan suasana, ia berkata kepadaku untuk menampilkan sebuah lagu kepada kalian"


para tamu hanya bertepuk tangan secara pelan menunjukkan kalau mereka sama sekali tidak tertarik, sementara arcane ia terkejut karena ibunya berusaha membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


arcane memasang muka dinginnya menunjukan rasa tidak senangnya, di sisi lain luna hanya bisa tertawa kecil melihat kondisi arcane.


"kau bilang acara ini membosankan bukan? kalau begitu tunjukkan sesuatu yang menarik"


arcane melirik luna sebentar, ia ingin menjawab namun ibunya memanggilnya kembali dan akhirnya dengan terpaksa ia langsung menuju ke atas panggung.


ketika berada disana arcane bisa tau kalau seluruh tamu yang ada di sini tidak ada yang memperdulikan nya, mereka semua kembali mengobrol satu sama lain.


arcane pun langsung mengeluarkan alat musik petik yang biasa di sebut gitar, meski tidak ada yang namanya git8di dunia ini arcane membuatnya sendiri ketika ia sedang bosan akan belajarnya.


arcane bahkan tidak menduga kalau ia akan menggunakan alat musik hasil kejenuhan nya disaat seperti ini.


lalu arcane mulai menyetel gitarnya, beberapa orang kini mulai membicarakan arcane karena terlalu memaksakan diri untuk tampil.


lalu beberapa saat kemudian ketika gitarnya selesai, arcane mulai menyanyi.


"Saat kau jatuh


Lukai hati


Di mana pun itu


I'll find you


Saat kau lemah


Dan tak berdaya


Lihat diriku


Untukmu


Kapanpun mimpi terasa jauh


O ingatlah sesuatu


Ku akan selalu


Jadi sayap pelindungmu


Saat duniamu mulai pudar


Dan kau merasa hilang


Ku akan selalu


Jadi sayap pelindungmu......."


arcane memilih lagu sesuai dengan keadaannya sekarang mungkin mirip atau mendekati keadaannya saat ini, namun yang pasti lagu ini muncul dibenaknya.


semua yang berada disana tenggelam pada nyanyian arcane, beberapa mulai tersenyum, beberapa mulai memeluk pasangan mereka.


tidak ada lagi bisikan caci maki untuk arcane, yang ada kini semua orang tenggelam dengan alunan lagu yang arcane bawa.


semua tamu menikmati setiap nada dan nyayian arcane, lalu beberapa saat kemudian arcane mengakhiri lagunya.


lalu tanpa menunggu tepuk tangan penonton arcane ingin meninggalkan tempat, namun sebuah suara menahannya ditempat.


"puisi yang sangat bagus arcane"


itu adalah suara ibunya yang menuju panggung dengan sang raja entah apa maksudnya dari tindakannya jadi arcane hanya bisa tetap berada di tempatnya.


"trimakasih yang mulia ratu, namun itu di sebut lagu bukan puisi"


musik si dunia ini tidak terlalu berkembang biasanya nyanyian hanya berupa satu kata saja atau bahkan hanya ada satu huruf yang di susun dengan beberapa tinggi dan rendah.


sementara yang lain adalah berupa puisi yang di beri musik, mungkin karena gaya masyarakatnya yang lebih mementingkan perkembangan kekuatannya atau hal lain membuat kreativitas seni menjadi terkubur.


lalu Elisabeth yang mendengar jawaban arcane hanya mengangguk ringan, lalu sang raja mengambil alih.


"terimakasih arcane dengan hiburan tadi"


arcane langsung membungkuk dan berkata.


"bukan sesuatu yang spesial raja"


sang raja, james kemudian menghadap ke tamu undangan dan berbicara dengan lantang.


"baik sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk mengumumkan perihal calon tunangan arcane"