Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 82


Elias, Frost, Adam dan Eliana pergi dengan membawa rasa ngeri di hatinya seakan-akan tengah berlari dari mimpi buruk mereka.


setelah turun tanpa berkata apapun mereka langsung berpisah Elias sempat berbalik dan mendapati Arcane yang sedang menatap melalui jendela menara.


disisi lain di ketinggian Arcane melihat mereka berlari dan bergumam kecil.


"umpan telah menarik ikan-ikan kecil. selanjutnya asiknya menjala atau meracuni kawanan ikan ya"


"apakah tuan ingin menjadi nelayan? " kata Blue yang ternyata mendengar perkataan Arcane.


Arcane berbalik dan menatap Blue dan bernasib ringan.


"sudahlah sekarang aku ingin melakukan beberapa percobaan kepadamu.....au sakit"


"baik tuan"


__________________________________________________________


Elias dan Frost langsung pergi meninggalkan istana dan langsung menuju tempat persembunyiannya, begitu sampai mereka langsung melaporkan apa yang terjadi.


namun ratu Lina tidak mempercayai nya.


"apa kau yakin? dan bukan seseorang yang berada di belakangnya? "


Elias langsung menjawab dengan geram.


"tidak aku yakin itu dari kekuatannya sendiri"


ratu Lina kembali membalas.


"tapi mustahil kalau ia bisa menyerang kalian berempat sekaligus, apalagi membuat kalian tidak bisa melakukan apapun! "


"mungkin ia memiliki sesuatu yang membuat kekuatannya meningkat? " timpa Frost.


ratu Lina kemudian berfikir sebentar dan menjawab.


"jika ia memiliki benda semacam itu, kita bisa merebutnya dan pasti kekuatan kita akan bertambah"


"yah tapi pertanyaannya gimana ibunda? " tanya Frost.


ratu Lina tersenyum dan berkata.


"dengan melucuti semua yang dimilikinya, kita bisa mengambil beberapa skenario untuknya"


Elias disana hanya mengangguk dan menyetujui rencana ibunya kemudian ia berkata.


"ibunda Apakah anda mengirim beberapa pengawal untuk kami? "


ratu Lina menatap Elias sesaat dan menjawab.


"mereka mati kan? aku tau apa yang di pikiran kalian, dan jangan menghawatirkan cecunguk yang telah mati"


Elias sebenarnya ingin memberi tahu lebih namun ia hanya bisa menahannya karena berfikir kalau kekuatan Arcane hanyalah sebuah trik kecil.


di sisi lain Eliana dan Adam juga melaporkan hal yang sama namun ekspresi ratu Maria berbeda ia kini sedang mengobrak abrik kamarnya.


"Eliana kumpulkan beberapa orang untuk menyerang Arcane! "


Eliana dengan sedikit takut menjawab.


"ta-tapi ibunda kita tidak bisa membuat mereka masuk begitu saja untuk menyerang Arcane"


ratu Maria menoleh dan mencengkram wajah Eliana dan berbicara dengan geram.


"laksanakan saja!! jika bersinggungan dengan orang lain bahkan anak kecil sekalipun habisi! "


__________________________________________________________


"Tia Apakah sudah semuanya? " kata putri Luna kepada seorang pelayan yang sibuk membereskan barang-barang.


pelayan itu menghentikan pekerjaannya sebentar dan membungkuk.


"hampir putri"


Luna hanya mengangguk dan menunggu dengan sabar semenjak kejadian semalam ayahnya mempercepat kepulangan mereka yang seharusnya masih beberapa hari lagi.


namun karena alasan keamanan ibukota apalagi dengan pangeran pertama yang kini terluka membuat raja Albert mendesak untuk pergi apalagi kerja sama antara kedua kerajaan telah tercapai.


namun disaat ia akan pergi meninggalkan kerajaan ini dari ayahnya sesuatu dalam hatinya mulai terasa tidak enak, apalagi ketika mendengar kalau Arcane menjadi tahanan.


ketika ia termenung raja Albert datang dan mendekati Luna.


"kau sedih karena menikah dengan pangeran sampah atau karena takut akan masa depan? "


Luna menoleh dan menemukan ayahnya sedang menatapnya, ia kemudian menundukkan kepalanya dan berkata dengan lirih.


"entahlah ayah....


aku bahkan tidak tau, semenjak malam itu aku sangat takut"


Raja Albert tau apa yang di alami Luna ia menghela nafas kemudian duduk di sebelahnya.


"Luna apa kau masih ingat cerita yang selalu menghantar tidurmu? "


Luna menatap ayahnya lalu berkata.


"masih, itu adalah cerita mendiang ibunda bukan?.


raja Albert tersenyum kemudian berkata.


"cerita itu bukanlah cerita biasa.


itu adalah legenda dari nenek moyang kita"


Luna terkejut dan kemudian langsung bertanya.


"legenda? apa maksudnya? semua orang hanya menyebutkan kalau itu hanya cerita"


raja Albert mengelus kepala Luna dengan lembut kemudian ia berkata.


"namun kejadian itu di tulis di sejarah keluarga Lunar.... "


Luna menjadi semakin bingung kemudian raja Albert melanjutkan ceritanya.


"apa kau tau arti dari Luna dan Lunar?


" Dewi bulan dan bulan? " jawab Luna.


raja Albert mengangguk.


"dalam cerita sejarah keluarga kita pendiri keluarga kita adalah pahlawan yang di magsud.


ia adalah pahlawan yang tersesat dimana karena beban yang di pikul nya membuat dirinya gila dan menyerang orang yang seharusnya ia lindungi.


di saat pahlawan itu sedang gila, ia bertemu gadis yang bernyanyi di bawah sinar bulan.


pahlawan itu melihatnya ingin menyerang gadis itu, namun gadis itu malah tersenyum dan memeluk pahlawan itu.


seketika sang pahlawan menjadi tenang dan sadar, pahlawan itu sadar dan merangkul semua yang ia sakiti dan sekali lagi ingin melindungi mereka.


meskipun awalnya di tolak sang pahlawan tidak menyerah dan karena ada gadis bulan yang bersamanya pahlawan itu bisa menebus kesalahannya.


hingga akhirnya mendirikan kerajaan, dan karena itulah jika bukan karena situasi yang mendesak kita akan memilih seseorang untuk kita dampingi "


setelah bercerita seperti itu Luna tersenyum, ia menghela nafas lega dan hanya mengangguk kecil.


"ayahanda aku ijin pergi sebentar"


"pergilah, dan ingat kita akan pegi saat menjelang sore" kata Albert lalu di balas oleh anggukan Luna.


Luna keluar dari ruangan tanpa di temani siapapun, ia berjalan menyusuri lorong dan keluar menuju sebuah menara tempat Arcane di kurung.


ia langsung memasuki menara itu dan menuju ruangan Arcane, ketika ia menemukannya gilirannya sedikit kacau karena takut, namun hatinya semakin lama semakin tenang.


ia mengetuk pintu dengan pelan, namun tidak ada jawaban yang terdengar akhirnya ia berteriak.


"pangeran Arcane aku Luna meminta ijin masuk"


Luna membuka pintu secara perlahan-lahan ketika ia masuk ia terkejut dengan kamar yang berantakan dan benda aneh besar berada di tengah ruangan.


benda itu sedang di rakit Arcane, Luna bisa melihat kalau banyak bagian-bagian kecil sampai besar.


Luna menghindari Arcane yang tengah berlutut dan merakit tumpukan besi itu.


"apa yang anda buat? "


Arcane melirik sebentar dan langsung menjawab.


"sesuatu yang berguna"


"oh.... " balas Luna singkat.


Arcane melirik Luna sekali lagi dan berkata.


"kau tidak kesini hanya untuk berkata seperti itu dan melihat pangeran yang terjebak di menara kan? "


Luna sedikit tersenyum dan berkata.


"pffft.... bukankah seharusnya itu putri yang terjebak? "


"tapi kondisinya saat ini berbeda" balas Arcane.


Arcane berdiri dan mengambil benang logam serta besi bundar dan melilitkan nya dengan rapi, luna melihat itu dan bertanya.


"rapi sekali...


apa itu yang sedang kau buat? "


"sebuah dinamo" jawab Arcane singkat.


"apa itu di namo? "


"Dinamo, ini bisa berputar dan menghasilkan listrik atau tenaga yang besar jika sukses" kata Arcane.


"oh...


sepertinya rumit, apakah aku boleh mencobanya? " kata Luna sambil mengulurkan tangan.


"pastikan lilitannya kencang"


Arcane melirik sebentar dan memberikannya kepada Luna tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan seketika pula pikiran mereka langsung dibawa ke tempat lain.