
matahari kini berada tepat pada puncaknya dan kini Arcane dan Ghor sedang berada pada sebuah restoran luar ruangan dengan pemandangan pantai yang sangat indah.
"hmmm..... yah intinya aku tidak bisa mengetahui apapun tentang besi itu"
kata Ghor sambil memasukkan potongan besar daging ikan ke mulutnya.
"kenapa?"
kata Arcane.
Ghor menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"aku tidak tau apakah itu besi atau batu namun benda itu bisa bertahan dari pukulan palu ku itu berarti benda itu sangat keras, jika kau ingin menempa nya kau memerlukan lebih dari sekedar tungku penempaan"
Arcane mengangguk dan melanjutkan makannya, saat ini hubungan mereka kembali membaik lagi pula meskipun perasaan Arcane mempengaruhi cara bicaranya namun sebenarnya ia tidak akan pernah melukai ataupun mendapatkan keuntungan dari orang lain ketika ia memiliki masalah sebesar apapun itu.
setelah mereka sarapan sekaligus makan siang keduanya langsung mencari informasi di sekitar, namun yang namanya juga pasar bukannya mencari informasi mereka malah belanja beberapa alat sihir dan bahan mentah.
"Ghor sepertinya kita tengah di jebak"
kata Arcane dengan wajah lesu.
"benar sungguh mengerikan mereka yang memiliki skill perdagangan level tinggi"
balas Ghor.
mereka saat ini sedang beristirahat di sebuah pohon yang berada di taman tengah kota, di lokasi ini tidak di perbolehkan ada pedagang masuk dikarenakan peraturan dari tuan kota sendiri.
ketika mereka sedang duduk seorang anak perempuan datang menghampiri mereka.
"hei bukankah kau yang tadi pagi? "
Arcane mendongak dan mendapati seorang yang seumuran dengannya berbicara, ia tidak mengenali perempuan itu.
"siapa kau? "
perempuan puan itu berjongkok dan mengulurkan tangannya.
"perkenalkan namaku Sella dari akademi awan putih"
"oh... "
Arcane menerima jabat tangan perempuan yang bernama Sella itu.
"kalau begitu ikut aku, kah harus meminta maaf karena menabrak seseorang tadi pagi"
Arcane bingung namun ia masih mengikuti apa perkataan Sella, dan ketika ia berdiri Ghor terjatuh karena ternyata beberapa saat ia tertidur dan menyandar pada Arcane.
"Bug... aduh"
"?..... Ghor kau tertidur? "
kata Arcane.
Ghor mengelus kepalanya dan melihat Arcane yang akan pergi.
"hei mau kemana kau?, dan kau siapa? "
"ikut saja, nanti akan aku jelaskan"
kata Arcane.
akhirnya Ghor mengikuti mereka dan Arcane menjelaskan kepadanya, meskipun keduanya masih bingung apalagi Ghor namun karena tidak merasakan hawa permusuhan dari Sella mereka akhirnya mengikuti saja.
tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah gazebo yang ada di taman itu, di gazebo itu sudah ada seorang pria tua bersama seorang anak kecil seumuran Arcane.
ketika sampai Sella langsung menyapa.
"salam master, lihat siapa yang Saya bawa"
pria tua dan si anak laki-laki itu menoleh dan ketika anak laki-laki itu mendapati sosok Arcane ia langsung menggebrak meja dan melompat ke arah Arcane.
ketika berada di udara ia langsung merilis sihir petir dan mengarahkannya ke Arcane, Arcane melihat itu langsung mendorong Ghor yang dekat dengannya supaya bisa menghindari serangan petir itu.
"hei!! apa maksudmu!?"
teriak Arcane.
anak laki-laki itu masih mengeluarkan sihir petirnya dari tangannya dan membalas perkataan Arcane.
"ini bayaran untuk tadi pagi Banjingan!!! "
anak itu langsung mengulurkan tangannya sontak saja akar petir yang berasal dari tangannya menjalar menuju Arcane.
sihir petirnya membakar semak dan pepohonan yang berada di taman itu sementara Arcane hanya menghindar dengan sihir anginnya.