Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 69


"Ka-kau pasti curang!!!..... "


fake tak Terima dengan kekalahan ini, dengan kekalahan apalagi benda yang ia pertaruhkan sangat berharga karena alat teleportasi sangat langka karena lingkaran sihirnya terlalu sulit di buat.


Fake mempertaruhkan benda itu karena terbawa suasana semata, sementara itu Rose hanya bisa merelakan buku berharga milik kelompoknya di ambil.


sementara itu Kai berdiri dan menuju samping Arcane dan berlutut.


"aku Kai telah melayani tuan yang baru! "


semua orang terkejut dan kagum pasalnya Orang sekelas Kai di dunia bawah sangat jarang yang bertindak suportif, sementara itu para bawahannya tidak Terima akan keputusan Kai.


"tuan apakah harus seperti ini!! "


"kita tak perlu menaati perjudian bodoh ini!!"


"kau terlalu luar biasa untuk berada di bawah kepemimpinannya"


Kai tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali, namun ia malah berbicara.


"kalah Ya kalah, menang Ya menang.


mungkin inilah takdirku, jika kalian ingin mengikuti aku maka berlutut lah juga, jika tidak pergilah"


beberapa pengikut Kai kini menjadi ragu, mereka sudah bersama dengan sangat lama dan dengan Kai dan kelompok black hill di belakangnya mereka bisa bebas melakukan apapun asal tidak melibatkan Kai ataupun geng.


akhirnya beberapa memutuskan pergi tanpa berkata apapun dan beberapa juga memaki Kai karena terlalu menjunjung sikap keadilannya.


namun ada juga yang rela bersama Kai dan memberi hormat kepada Arcane, Arcane seperti tidak peduli ia sibuk terus membalik bukunya ini membuat Kai dan yang lainnya terus memberi hormat.


sementara itu Fake mengambil cincinnya dan berkata.


"aku akan mengeluarkan benda itu dan-"


"kau tidak bisa mengambil cincin itu Fake" kata Arcane yang memotong pembicaraan Fake.


Fake bingung dan langsung bertanya.


"apa maksudmu!? "


Arcane menutup buku dan berkata dengan santai.


"kau berkata mempertaruhkan benda teleportasi itu, namun kau menaruh cincin itu di meja judi Jadi kau mempertaruhkan semua yang ada di cincin itu dan semua yang ada di dalamnya"


"apa!!!, peraturan dari mana itu!!


tidak ada kesepakatan tentang itu!! " kata fake dengan kesal.


Arcane menatap fake dan ia kini memberikan nada meremehkan.


"ada peraturan tak tertulis di meja judi dimana semua yang ada di meja selain kartu atau gelas minuman maka akan dianggap sebagai taruhannya"


Fake semakin kesal karena perkataan Arcane ia kini ingin menghajar Arcane namun tatapannya beralih ke Kai yang tengah berlutut, ia tidak bisa apa-apa lalu dengan kesal ia berbalik pergi meninggalkan semua yang berada di sana.


disaat ia akan keluar Fake berkata dengan keras.


"aku akan balas kau bocah"


lalu Arcane kembali membuka buku itu dan berkata.


"lalu untuk nona Rose apakah ada urusan lain? "


Rose menggelengkan kepala dan ikut pergi meninggalkan bangunan itu, meskipun begitu ia masih menatap Arcane dengan tatapan yang kejam.


setelah semua ketegangan itu Arcane langsung bersandar di kursi dengan santai seperti tidak terjadi apapun.


"hah... akhirnya, sekarang dimana Brian itu!? "


__________________________________________________________


di sebuah ruangan kisak tangis bahagia terdengar memenuhi ruangan, terdengar suara syukur juga disana seperti telah melewati badai yang menerpa.


namun sebuah suara memaksa mereka menghentikannya.


"Brian bukan aku bermaksud untuk menghancurkan momen ini namun ini sudah terlalu lama untuk mu memeluk keluarga mu"


ia mengusap air matanya kemudian berbalik dan berlutut di hadapan Arcane yang sedang duduk di sofa yang tersedia disana dengan Kepala yang tertunduk sebagai penghormatan tertingginya dan di ikuti oleh keluarganya.


Arcane kemudian berkata dengan tatapan datarnya.


"sekarang ceritakan kepada ku, apa sebenarnya hubungan kita sampai kau begitu mempercayai aku... "


Brian mengangguk dan mulai berbicara.


"semuanya dimulai saat hamba datang ke ibukota ini pang-"


"tunggu... " potong Arcane.


ia langsung berdiri dan keluar untuk mengambil beberapa camilan dan kursi tambahan.


setelah melakukannya ia berkata dengan santai.


"tidak enak bercerita saat kau berada di posisi seperti itu kan?


duduklah, dan kalian berdua duduk di kursi yang ada"


Arcane bicara sambil menuangkan beberapa makanan ringan di tangannya, sementara Brian Sedikit bingung dengan tingkah Arcane.


ia kemudian berkata.


"tapi tuan derajat anda sebagai Pangeran... "


mendengar kata derajat Arcane langsung berkata.


"derajat? pangeran? gelar itu tidak berguna saat ini aku juga tidak menginginkan nya, meski sedikit berguna juga sih.


tapi aku akan mendapatkan gelar lain di masa depan dengan usahaku sendiri Jadi anggap saja aku sama denganmu"


mendengar itu istri dan anak Brian bingung dan ragu namun disisi lain Brian tersenyum dan menarik kursi namun masih dengan santai.


melihat itu istri dan anaknya juga mengikutinya duduk di sisi lain yang tersedia di ruangan itu, setelah semua orang duduk Brian bercerita.


"ini semua dimulai saat aku datang ke ibukota ini.... "@


Brian mulai bercerita kalau ia datang ke ibukota ini sebagai perantau dan ingin mengubah nasib, ia merantau karena orang tuanya telah meninggal dan pesan terakhirnya adalah menyuruh anaknya menjual semua harta dan pergi sejauh jauhnya dari rumahnya.


Brian tau kalau Orang tuanya tidak bermaksud jahat dan ingin anaknya tidak terpaku dengan kehidupan desa kecil tempat ia besar.


singkat cerita setelah berkelana dan datang ke ibukota yang menjadi tujuan masa kecilnya ia mulai mencari pekerjaan disini.


berbagai pekerjaan dilakukannya mulai dari buruh angkut sampai pekerja tambang, semua ia lalui sampai ia bertemu dengan Fake.


itu adalah pertemuan yang kebetulan terjadi dimana saat itu Fake membutuhkan pekerja yang bisa merawat koleksinya, Brian yang saat itu membutuhkan uang juga hanya bisa langsung mengambil kesempatan itu.


ketika bekerja di sana Brian merasakan tidak tenang dan khawatir karena selain para pengawal atau prajurit yang bekerja di sana terasa terancam, Brian bisa tau karena wajahnya mereka sangat menampakkan rasa ketakutan.


dan disini lah kekhawatirannya terjadi, ketika malam hari seseorang datang untuk mencuri barang koleksi Fake.


kebetulan Brian saat itu sedang lewat karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk Brian langsung mencoba untuk mencegah pencuri itu, namun pencuri itu berhasil lolos.


para pengawal datang dan melihat kejadian dan saat itu tidak ada hal yang aneh, hingga saat dilakukan penyelidikan barang yang di curi ternyata berada di kamar milik Brian.


saat itu Brian tau kalau ia sedang di jebak dan kemungkinan semua pekerjanya bernasib sama dengannya.


tanpa pikir panjang Fake langsung menuduh Brian, sesungguhnya Brian bisa saja di penjara namun Fake malah menjadikannya budak dengan perintah pertama yaitu menutup mulutnya tentang caranya menjebak seseorang atau tanda budak akan membuat seluruh tulangnya digeser.


ketika itu pula Brian tau kenapa seluruh orang disini memasang tatapan ngeri, itu karena kemungkinan mereka ingin memberi tau tentang kelicikan Fake dan rencananya untuk menjadikan dirinya budak gratis palagi Fake memberi tau kalau ia juga berhubungan dengan geng Viper.


Brian saat itu seperti orang mati dimana kini lehernya dirantai dan masa depannya telah hancur, disaat ia merasakan harapan tidak akan menghampiri dirinya seseorang datang kepadanya.


entah kebetulan atau keajaiban, ketika ia sedang berada di luar untuk membeli beberapa benda untuk tuannya, namun saat itu seorang anak kecil yang berpakaian seperti bangsawan datang dengan tatapan datar.


anak kecil itu memberi Brian beberapa potong roti dan pakaian bagus kemudian membebaskan dia dari status budak.


ia sempat mengira kalau nasibnya akan lebih buruk, namun ternyata ia memerdekakan nya dan memperkenalkan dia dengan beberapa pengusaha dan beberapa keping emas untuk memberikan nya bekal memulai usaha.


dari sana hidupnya semakin baik dan lancar, meski ia harus bersinggungan dengan dunia bawah yang kejam namun ia bisa memperkokoh usahanya hingga memiliki istri dan anak.


namun meski begitu Fake masih mengincarnya dan berusaha membuatnya jatuh kembali karena merasa tersinggung ketika ia tau mantan budaknya mampu menyaingi kekayaannya.