Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 111


sepanjang Arcane memakan makanannya suasana di kedai makan itu terasa aneh, pasalnya mereka semua melirik Arcane dengan tatapan sinis dan curiga.


begitu selesai Arcane langsung menaruh uang di meja dan langsung keluar, ketika berada di luar suasananya sama yaitu semua orang menatap Arcane dengan tatapan yang sama.


kecuali Anak-anak mereka lebih ketakutan daripada rasa tidak suka, Arcane kemudian berjalan mengelilingi desa hingga tak sadar kalau waktu menjelang sore.


ketika senja tiba para warga langsung menutup pintu dan cebdela rapat-rapat sementara beberapa orang berlari bahkan ada yang terjatuh untuk kembali ke rumah mereka.


Arcane yang kebingungan mencari sebuah penginapan sederhana namun sepertinya Arcane tidak menemukan apa yang di cari, meskipun ada 1 bangunan yang mirip seperti penginapan namun sepertinya pemiliknya tidak menerima tamu.


Arcane akhirnya mengakali nya dengan naik berkemah, sebenarnya Arcane hanya tidur di atas pohon besar yang berada di dekat sana.


Arcane merilis sihir angin untuk melindungi diri dari serangga kecil, namun ketika ia merilis sihir itu Arcane merasakan kalau anginnya berbeda.


Arcane tidak memperdulikanmu hal itu namun ia menatap Blue yang kini berada di dadanya.


"Blue aku ingin bertanya"


"iya tuan? " balas Blue.


"hmm... sebenarnya apa pertama kali yang kau ingat?. kau tau kan kalau kau aku ciptakan dari salinan ingatanku" kata Arcane dengan rasa penasaran.


Blue kemudian memasang gestur berfikir, beberapa saat kemudian ia akhirnya menjawab.


"entah, awalnya hamba sangat kosong namun hamba di perlihatkan perjalanan kehidupan.


seiring berjalannya waktu kepalaku semakin sakit dan bingung hingga akhirnya hamba hanya memiliki sisa-sisa ingatkan.


yah saat ini hanya terasa familiar sekaligus asing untukku jika tuan bertanya atau memerlukan bantuan"


Arcane mengangguk lalu Blue juga kembali menjelaskan.


"yah sejatinya saat hamba bisa berfikir atau berbicara bersamaan dengan itu hamba tiba-tiba juga di bekali pengetahuan sihir dan bagaimana mengendalikannya.


aku rasa itulah keadaan hamba sat ini, makan dari mana namun juga bisa melakukan sihir dengan mana"


kata Arcane.


Blue hanya mengangguk tanda pembenaran, lalu Arcane mulai berfikir.


"lalu kenapa cuma hewan saja Ya? "


"magsud tuan? "


Arcane menatap kanopi pohon dan berfikir sebelum menjawab.


"kau tau Magical beast atau hewan sihir memiliki inti mana berbentuk kristal, semakin besar tingkatannya semakin besar pula inti kristalnya.


lalu bagaimana jika manusia memiliki hal yang sama? "


Arcane kini mulai berandai andai karena apa yang ia baca para hewan sihir memiliki peringkatnya sendiri yang berupa peringkat 1-10, karena dalam legenda mereka yang hisa di temui adalah peringkat 10.


namun ilmu yang membahas hal itu masih kabur karena hewan sihir peringkat 1 bisa mengatasi penyihir atau kesatria aura kuning.


Arcane kini mulai terpejam dan dibawah kesadarannya Arcane berdiri di ruang hampa dan di sekitar banyak kabut jingga pekat.


di balik kabut itu terdapat 2 sosok besar yang saling berhadapan, Arcane ingin menghampiri kedua mahluk itu namun tubuhnya tidak bisa bergerak seperti seluruh tubuh nya di tekan sesuatu.


Arcane kesal namun ketika berusaha menggerakkan tubuhnya ia baru menyadari kalau ia bisa mengendalikan kabut berwarna jingga tersebut.


namun ia hanya bisa membuat kabut itu bergerak dan tidak bisa membuat dirinya atau kedua sosok itu bergerak, namun Arcane teringat akan pemikiran anehnya.


ia kini mulai mengumpulkan kabut jingga itu, hal yang tak terpikir oleh Arcane ternyata menyatukan kabut itu tidak sesederhana yang ia pikirkan.


namun setelah mengerahkan pikiran dan tenaga akhirnya ia bisa mengkristalkan kabut jingga itu dan tiba-tiba.


"yiiihaaa.... kalian semua keluar sekarang, jika tidak penduduk desa akan kami jual"