Kesatria, Sihir, Dan Teknologi

Kesatria, Sihir, Dan Teknologi
chapter 105


mereka terus berjalan hingga menemukan pertigaan jalan, pertigaan jalan itu berbentuk seperti huruf Y dimana kelompok Arcane datang dari sebelah kiri.


One eye dan Gray memeriksa jalan lurus, sementara Arcane dan Kai memeriksa belokan jalan.


"ok kita berpisah, kita kembali dalam 1 jam.


dan jangan ada pertarungan yang tidak perlu jika menemui sesuatu"


Gray dan One eye mengangguk dan mereka pun pergi, arcane berjalan di depan dengan bila api ditangannya.


Kai mendekat dan bertanya.


"tuan apakah seorang kesatria atau figter seperti hamba bisa mengendalikan elemen lain?"


Arcane melirik dan berkata santai.


"bisa sejatinya yang mengendalikan penyihir dan kesatria hanya cara penggunaan mana.


namun selama ini sepertinya setiap orang hanya melatih apa yang bisa mereka lakukan secara alami, meskipun itu bukan sesuatu yang salah namun sejatinya manusia seperti membatasi perkembangan mereka"


Kai mengangguk ia kemudian berkata.


"lalu bagaimana jika kita memaksakan penggunaan elemen lain pada seseorang, yah kau tau seperti seorang pengguna elemen air di paksa menggunakan elemen api"


Arcane memegang dagunya dan berfikir, ia kemudian menjawab.


"ini hanya teori namun tidak sesederhana ini.


aku mengendalikan elemen lain dengan membayangkan karakteristik, sifat, dan bahan penyusunnya untuk bentuknya aku menggunakan imajinasiku sendiri.


Jadi sepertinya sihir juga melambangkan sifat seseorang dan pemahamannya juga Jadi akan sulit memaksa seseorang yang tenang dan pendiam untuk terus bergerak dan bersemangat"


Kai secara garis besar mengerti, ia sudah tua namun jiwanya masih membara ini juga menjadi alasan untuk terus bertarung berharap kalau ia memiliki kesempatan untuk mati di medan perang.


"kau ingin menjadi lebih kuat? " kata Arcane.


perkataan Arcane berhasil membuat Kai termenung, jiwa dan hatinya mulai bergejolak ingatan masa lalu mulai terbayang di benaknya.


disaat ia termenung Arcane mulai berkata.


"benar" jawab Kai singkat.


"bayangkan kini kau berada di dataran gersang dan dataran itu ku adalah dewa kau bebas melakukan apapun, bakar, banjiri, hancurkan....


tapi ingat jangan sampai seorang pun datang dan mencampuri urusanmu"


dengan arahan Arcane Kai mulai menutup matanya dan berkonsentrasi, perlahan ia bisa membayangkan secara jelas namun tiba-tiba ada sesuatu yang mendatanginya.


rasa panas dan ngeri datang kepadanya, ia mulai mengumpulkan kekuatan untuk melawan perasaan panas dan berjuang seperti di medan perang kini ia rasakan.


disisi lain tanpa sadar di kedua tangan Kai yang menggenggam kini mulai bercahaya, cahaya merah redup Kai yang merasakan panas di tangannya melihat kalau tangannya bercahaya mereka.


ia terkejut dan dengan keterkejutan itu cahaya itu menghilang, Kai kagum dengan apa yang ia saksikan dan ia menatap Arcane.


Arcane menyadari hal itu kemudian berkata.


"ternyata benar salah satu penggunaan sihir juga terletak dengan alam bawah sadar kita.


entah insting atau pengalaman mu yang bisa membuatmu melakukan itu, namun selamat kau membenarkan teori ku"


"senang bisa membantu tuan" kata Kai yang membungkuk sambil tersenyum.


setelah beberapa saat mereka mendengar suara aliran alir, Arcane menoleh dan mengangguk sambil menatap Kai, Kai yang tau maksudnya juga mengangguk dan berlari menuju suara itu.


keduanya langsung berlari hingga menemukan aliran air yang lumayan deras dan lebar Arcane menatap ke arah atas dan tidak melihat sumbernya begitu pula dengan hilir sungai.


Arcane melemparkan bola api kearah hilir dan ternyata itu seperti goa yang lantai nya berupa aliran sungai yang deras.


Arcane langsung menggunakan sihir tanah dan memunculkan pijakan-pijakan, mereka kemudian berjalan kearah sumber air, namun beberapa saat kemudian Arcane menemukan sebuah lobang.


mereka memeriksanya dan menemukan sebuah tembok, keduanya langsung tau kalau itu adalah bagian dari markas mereka.


Kai langsung menggunakan kekuatannya untuk memperlebar lubang itu hingga mereka bisa leluasa, lalu dengan kekuasaannya Arcane membuat sebuah lubang seukuran batu bata.


"ok kita kembali"