
"aaaarch..... "
arcane tempak sangar tersiksa dengan keadaannya, ingin bergerak maupun diam di tempat ia terus merasakan kesakitan yang luar biasa.
kini arcane tengah di rawat, tabib terus menerus mengeluarkan sihir penyembuhan namun karena sihir penyembuhan itu membuat luka menutup atau mempercepat penutupan luka bukan untuk memperbaiki tulang yang dislokasi atau serpihan tulang yang hancur.
jadi tabib itu menyembuhkan daging dan menggeser tiap tulang dengan tradisional itu menimbulkan rasa sakit yang sangat menyiksa.
bau darah sangat menyengat karena seluruh tubuh arcane terus mengeluarkan darah, arcane terus berteriak karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang untuk mengalihkan rasa sakit yang di deritanya.
"krieeet...... "
pintu terbuka dan masuklah gray, brown dan selena. mereka memaksa masuk dan melihat keadaan arcane yang seperti sedang di siksa.
di susul dengan itu blast muncul, ia mendapati gray dan berkata kepadanya.
"kenapa kau tidak menemui aku? "
tanpa melakukan hormat atau bahkan menoleh gray menjawab dengan tegas.
"sekarang tuanku berada dalam hidup dan mati, bagaimana aku bisa bertemu dengan anda sebelum memastikan tuanku baik-baik saja"
blast mengangguk dan membalas.
"kalau begitu di sini saja.
aku ingin kau meninggalkan tuanku itu dan bergabung dengan pasukan bayangan kerajaannya bagaimana.
kau tidak akan menjadi budak dan adikmu juga bisa hidup seperti rakyat biasa"
pasukan bayangan kerajaan adalah sebuah pasukan yang bekerja di bawah perintah grand king secara langsung yang dimana di tugaskan untuk menculik, memusnahkan, membunuh, mata-mata dan lain-lain sesuai kebutuhan.
jika prajurit seperti itu mati maka jasadnya harus di hilangkan untuk menghapus jejak, pasukan ini terdiri dari para elit yang berada pada tingkat hijau sampai nila.
gray masih terpaku dan tanpa sedikitpun ketertarikan ia berkata dengan tegas.
"trimakasih namun tidak"
"kenapa?! '
" karena aku dan adikku sudah merdeka, dan kesetiaan ku sudah berada pada dirinya.
meski ia mati aku tidak akan mengakui tuan lain, bahkan jika karena itu aku harus mati juga"
jelas gray dengan yakin, blast tidak tau harus bagaimana namun ia tidak bisa apa-apa.
namun itu masih tidak bisa menggerakkan hatinya karena meskipun kejadian itu adalah ulah oknum dunia bawah kesombongannya masih lebih besar.
matanya masih tetap buta akan bakat arcane, lalu setelah melihat kondisi arcane ia langsung keluar dan berpapasan dengan Elisabeth dan marina.
tanpa perkataan apapun atau penghormatan mereka saling melewati begitu saja.
"oh.... anakku"
air mata Elisabeth langsung terjatuh begitu melihat kondisi arcane, ia sangat terpukul dan menyesal karena terlalu lama mengabaikan arcane meski ia tau kebenarannya.
Elisabeth bisa tau karena sebuah surat dengan pengirim bernama 'shadow' membeberkan tentang semua kejadian itu, apalagi ada peringatan kalau arcane akan selalu di serang.
Elisabeth tidak tahu akan siapa yang mengirim atau siapa yang merencanakan itu, namun kejadian itu memang benar terjadi hingga Elisabeth melindungi arcane dari bayangan dengan mengabaikannya juga.
namun beberapa kecelakaan terus terjadi hingga saat ini, Elisabeth tidak tau apakah ini adalah rencana dewa atau karma namun yang pasti seorang ibu pasti ingin anaknya selalu sehat dan selamat.
kembali ke cerita mereka menyaksikan pengobatan arcane, entah pengobatan atau penyiksaan yang mereka lihat namun siapa pun yang melihat itu pasti akan mengira kalau itu adalah siksaan untuk penjahat atau mata-mata kerajaan lain.
tanpa ada yang menyadari gelang penyimpanan arcane yang sengaja di simpan pelayan di meja bersinar, lalu sebuah buku keluar dari gelang penyimpanan itu, buku itu seolah-olah transparan dan tidak bisa di lihat siapapun melayang di tengah ruangan.
buku itu sangat lusuh dan banyak robekan terbuka dengan sendirinya, bersamaan dengan itu arcane membuka mata dan dengan sisa tenaganya ia berteriak.
"AKU TIDAK AKAN MATI DENGAN MUDAH.
TIDAK AKAN MUDAH MEMBUNUH ORANG YANG SELAMAT DARI BERBAGAI PERCOBAAN PEMBUNUHAN.
HAHAHAHAHAH.......... "